Sekarang, Buat Bapak

September 29th, 2007 by uploadoverload

Pembicaraan biasanya tak jauh-jauh soal keuangan. Uang bulanan habis sebelum waktunya, atau fotokopi dan tugas ini-itu butuh dana. Hubungan saya dan bapak memang tak terlalu baik. Setidaknya jika seringnya komunikasi dijadikan ukuran. Mungkin gengsi seorang lelaki yang membuat saya mencoba menghindari pembicaraan dengannya. Penyebab lainnya, bapak orang yang terlalu serius dan kaku menghadapi hidup. Begitupun kalau beliau bicara, penuh tetirah mengenai cara hidup sukses. Beda dengan saya yang lebih sering bermain-main dengan pilihan dan tak begitu suka dengan ukuran ‘sukses’ bapak.

Tapi, kemarin dulu tulisan untuk ibu sudah dibuat. Diposting di blog baru beberapa bulan kemudian karena isinya terlalu sentiimentil. Rasanya tak adil kalau bapak tak ditulis juga.

Banyak orang yang sudah kenal bapak sejak masa muda, bilang kami berdua punya muka serupa. Saya tak pernah percaya sampai suatu ketika membuktikannya sendiri. Sebuah ijazah SMA dengan pas foto hitam-putih di pojok kanan bawah, diperlihatkan pada saya. Ternyata betul yang dikata orang.

Wajah kami memang mirip, tidak begitu dengan sifat dan perilaku. Bapak anak baik yang jarang, atau bahkan tak pernah, berbuat onar. Tak pernah saya dengar cerita macam begitu, dari mulutnya atau dari mulut orang lain. Kalau orang cerita, bapak jadi sosok anak muda yang ideal di mata mereka. Dia anti kenakalan remaja.

Masa mudanya dihabiskan dengan belajar dan bekerja. Dua itu saja. Hidup tanpa ayah membuatnya jadi seorang remaja pekerja keras. Mulai bengkel motor sampai dagang asongan. Sampai sekarang berbagai keahlian masa muda itu, beliau belum lupa. Mengecat rumah, memerbaiki instalasi listrik, mengencangkan rantai motor yang kendur, dikerjakan sendiri kalau ada waktu luang. Kalau saya sedang di rumah, diajarkannya keahlian-keahlian itu supaya pekerjaan bisa dilimpahkan.

Bapak tak begitu pandai. Nilai ijazah SMA-nya tak menonjol. Isinya Cuma angka enam dan tujuh. Jurusan Kimia Universitas Gajah Mada dipilihnya untuk melanjutkan studi. Lulus delapan tahun!

Beliau lalu cari kerja. Impiannya: TELKOM. Teman seperjuangannya diterima, dia tidak. Melanglangbuana sampai terdampar di sebuah perusahaan

Korea

. Gajinya boleh dibilang tinggi untuk ukuran tahun 80-an. Dia memilih keluar kemudian. Bukan lantaran tak puas dengan gaji, tapi karena emoh jadi kacung orang asing. Sempat ditawar mengajar kimia di SMA Al-Azhar pusat. Dia tolak lagi. “Ngajar anak SMA ngak berkembang ilmunya,” begitu kilahnya.

Pemberhentian terakhir di sebuah akademi kimia yang berlindung di bawah Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Letaknya di Bogor. Bapak jadi dosen, sampai sekarang dengan upah tak seberapa besar. Konon hanya berbeda beberapa ratus ribu saja dengan saudara-saudara saya yang jadi guru SD di Jakarta. Saya tak pernah mengeceknya meskipun memerlihatkan slip gaji itu kebiasaan di keluarga saya. Dulu, buat saya pilihan-pilihan yang bapak buat mengenai pekerjaan terdengar aneh. Sekarang saya maklum. Dalam kasus ini, Bapak termasuk orang yang mengajari saya bersikap.

Universitas

Indonesia

, almameter Bapak yang kedua. Mendalami Kimia Anorganik (sampai sekarang saya tak tahu betul apa yang dipelajarinya). Saya sudah lahir dan baru berumur beberapa tahun ketika itu. Walau sudah kerja, nampaknya keuangan keluarga banyak dibebani dengan studi Bapak. “Dosen pembimbing sampai kasih uang buat ongkos pulang sehabis sidang tesis di Salemba,” ratapnya.

Umur Bapak sekarang sudah kepala

lima

. Tiga anaknya masih kuliah dan satu masih SD, makanya beliau masih harus bekerja keras dari satu kampus ke kampus lain. Hari Minggu pun tak luput dari mengajar. Motor bebek tahun 96 jadi teman setianya.

Waktu luang dia pakai main Badminton. Seminggu bisa sampai tiga kali. Kalau sore hari ada di rumah, biasanya sibuk merawat tanaman. Dia suka bungga anggrek. Anggrek pertamanya mati di tangan saya—karena tak dirawat meskipun sudah dititipkan—ketika beliau pergi Haji.

Bapak punya harapan besar untuk anak lelaki pertamanya, saya. Dia tampak girang sore itu, saya bilang “mau jadi Dosen, seperti Bapak”.

Cikeruh,

26 September 2007

Perjalanan: Sebuah Pengakuan

September 29th, 2007 by uploadoverload

Zaman bertukar musim berganti, manusia pun berubah. Betul memang, tak ada yang hadir tanpa penyebab. “Ting” seperti sulap itu omong kosong saja.

Masa lalu saya terselip dalam lembaran-lembaran binder tua. Catatan ini, secara lengkap ataupun secuil saja, baru dua orang yang dipersilahkan membacanya, Nona Feurbach dan si Pengeluh. Nona Feurbach mendorong saya untuk mempublikasikannya. “Usaha untuk menghargai proses dan dialektika,” begitu ujarnya. Tapi  tetap saja tak ditulis ulang semuanya. Alasannya, antara malas dan malu.

Sedikit catatan dari masa lalu. Pengharapan dan pertanyaan tentang masa depan.

?????

I.       Masa SMA

Hidup saat ini menjadi hanya seperti sampah. Terlalu banyak kesenjangan, diskriminasi, penindasan, dan kecurangan berkedok malaikat. Dunia menjadi terlalu sempit untuk perubahan. Tak ada kesempatan, yang ada cuma uang dan kekuasaan. Orang-orang kaya terlalu sombong untuk mau berbagi.

Terlalu lama dan mustahil untuk kaum tertindas menunggu campur tangan negara. Politik hanyalah politik. Hanya politik dengan omong kosong di dalamnya yang benar-benar menjadi sebuah politik. Dalam siding-sidang negara hanya ada BULLSHIT!!!! Taka ada jalan untuk rakyat kecil selain bergerak sendiri, do it yourself. Bangkit dan bersatu demi masa depan yang lebih baik

Bogor

, 9 Desember 2003

22.03

sedih juga lihat berita Alm. Ersa Siregar. Orang yang punya idealisme dan dedikasi tinggi buat pekerjaannya. Salut buat beliau. Dia bekerja tak hanya dalam lingkup Jurnalistik, tapi juga respek sama penderitaan di daerah konflik. Bisa ngak gw kaya beliau? Gw rasa anak-anaknya bakalan bangga punya ayah sehebat dia yang peduli banget sama anak-anaknya, sampai sampai nyempetin diri nelpon buat nanya SPMB (walau dari daerah konflik, lagi ditahan GAM). Buat gw hal-hal seperti itu punya influence besar, karena gw juga pengen jadi wartawan.

Yang jelas, gak peduli nanti jadi apa, yang gw harus ambil sisi positif beliau: dedikasi tanpa kenal rasa takut. Terakhir gw Cuma bisa berdoa mudah-mudahan Allah menempatkan Alm Ersa Siregar dalam golongan orang-orang yang Ia cintai…amin

Malem Rebo, 30 Des 2003

9.24 Waktu kamar

Hari dengan kemunduran semangat! Hidup semakin berat dan mulai tumbuh rasa frustasi. Banyak perjuangan yang berakhir sia-sia. Hasil yang gw terima sering jauh dari harapan. Mimpi terbentur kenyataan. Buat bangkit boleh dibilang susah karena cuma secuil semangat yang tersisa dalam dada!!

Lelah rasanya ngejalanin hidup yag monoton. Gw butuh perubahan; gw butuh menikmati hidup gw sendiri; gw bosen jadi beban orang lain. Tekanan-tekanan harus bisa gw jadiin semangat

GET UP STAND UP, STAND UP FOR YOUR LIFE

Senin,150304

20.10

Ga ada hal yang cukup penting dan ngeganggu, ordinary day. Hal-hal mulai bersahabat. Mungkin karena depresi mulai berkurang. Semangat baru tumbuh seiring usaha buat keluar dari keadaan yang ngak bersahabat.

Hari ini gw selesai baca buku Kromo Kiwo, Mereka yang Tak Pernah Menyerah, yang gw beli kemaren. Hal-hal yang bisa gw tangkep:

  1. ….
  2. isinya keren karena ceritanya tentang eks-Tapol dan seputar basis PKI di Yogya.
  3. pledoi orang-orang yang pernah jadi korban politik Orde Baru
  4. … (bagian ini agak berbau SARA, jadi tidak dicantumkan…hehe)
  5. ngajarin bahwa ada resiko yang harus kita tanggung terhadap jalan dan pilihan hidup yang kita ambil.

Tapi satu yang masih jadi pertanyaan mendasar, walau gw udah baca beberapa buku pro-kontra PKI: “sebenernya PKI itu bersalah atau tidak (mungkin yang saya maksud waktu itu dalam konteks G30S).

Bisingnya hidup coba kurenungi dalam hening. Menyedihkannya diriku coba kutulis dalam kata yang jauh dari dusta. Hanya lembaran-lembaran yang mungkin 10 tahun lagi aku lupakan yang tahu jelas diriku saat ini. Allah tahu aku coba berubah, Allah pun tahu diriku lebih dari diriku sendiri. Kuharap besok lembar-lembar ini masih bisa jadi koreksi bagi diriku; bercerita tentang sukses, bukan lagi kegalauan. Kuharap esok tangan ini bisa menghasilkan hal-hal yang berguna. Amin.

Rabu, 170304

21.26-21.59

II. Legegnya (Sombong) Mahasiswa Semester Awal

Aku temukan bahwa aku menunggu untuk disingkap. Untuk ditelanjangi oleh waktu segala kebohonganku. Untuk diotopsi kepalsuan yang merasuk sampai ke tulang-tulangku…

Aku temukan bahwa aku terasing. Keterasingan yang membuatku berdiri di atas pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensiku. Keterasingan yang menghadirkan pertanyaan akan masa datang di depan wajahku. Secuil pun aku belum bisa bayangkan seperti apa…

19 ke depan tentunya akan berbeda. Aku harap aku lebih siap ditelanjangi. Lebih bisa menghargai keterpisahan melalui sebuah penyatuan. Lebih mampu menjawab 19 lain yang berdiri di depan wajahku…

Aku kini 19 langkah mendekati penyatuan…mudah-mudahan.

Ps: semakin hari aku semakin tak menemukan makna esensial Hari Ulang Tahun. Buatku ini hanyalah satu keanehan masyarakat…

14 Juli 2005

perihal sesat atau bukan, menyesatkan atau tidak, saya artikan itu sebagai kuasa kita untuk menulis sejarah…ada hal yang kadangkala perlu kita lebihkan, kurangkan, manipulasi, semuanya demi kenyamanan, kelangsungan hidup kita. Walaupun Tuhan memanifestasikan dirinya dalam ruh, jiwa, atau lembaran-lembaran suci, selalu ada usaha untuk memertanyakannya. Tapi, apakah suatu sistem kepercayaan (Agama misalnya) begitu berpengaruh terhadap hubungan manusia dengan Tuhan? Apa jiwa, ruh, rasio begitu liar dan tak terarah dan membutuhkan suatu pagar agar ia tetap berada dalam tempat yang semestinya…

Bogor

, 19 Juli 2005

Dinihari

Ada

seorang kawan yang mengirim pesan singkat ke HP saya. Isinya secara garis besar adalah bahwa sosialisme bukan sebuah mimpi. Ia juga menulis bukan tak banyak orang miskin, dan sosialisme bukan tidak ada arti…

Saya kembali bertanya tentang sosialisme. Ketakpercayaan terhadap bentuk ideologi apapun saat ini, membuat saya ingin menyumpahi bentuk apapun ideologi. Bukankah ideologi hanyalah class-idea dari ruling class? Toh selalu muncul sempalan-sempalan yang mewarnai sejarah ideologi – bukti bahwa ideologi cuma berhala yang disembah dan bukan hal yang absolut. Bukankah kekuatan ideologi terletak pada struktur, bukan kemasukakalannya. Itu adalah bukti bahwa ideologi menyuntik kesadaran kita untuk ikut dalam struktur dan meminggirkan keunikan kita demi kepentingan ‘bersama’ atau kepentingan ruling-class yang termaktub dalam ideologi

Ya, mungkin ini karena kurang wawasanku dibanding temanku tadi…

010805,

Bogor

,

21:35

…Mungkin saja ketakutan, kecemasan, lahir dari ketidapasrahan saya pada tindakan. Belum sempurnya kesadaran pada tahap religius seperti yang dipahami Kierkegaard.

Atau mungkin saya terlalu egois. Mencampakkan pilihan-pilihan yang diberikan hidup. Dan karena saya tervonis bebas, saya lebih memilih untuk tenggelam dalam masalah ini. Saya tenggelam dan berlarut-larut…

25 Agustus 05

Waktu Zuhur Jatinangor

…benar bila kita berjalan dengan kaki, bukan otak. Tapi perasaan kadang membuat kita ingin meminggirkan logika sejenak. Mengikuti kemana kaki ingin melangkah, tanpa ingin tahu tujuannya.

Jatinangor,

9 September 2005

Menjelang Ashar

?????

Nah, saya temukan juga secarik kertas yang agak kusut, mungkin karena terlipat-lipat. Isinya puisi, sungguh surealis!

Sunset 25 Januari

Laut menunggu ombak bergulir

berderu gaungnya dalam hatiku

berseru, aku malu

hanya bisa diam, lagi

ombak kini tinggi menggapai menguasai diriku

habis aku lebur, hilang

kini kamu dan dirimu menutup dibalik awan

aku pergi dan kau disitu tersenyum, aku tahu

seperti senja, hanya menanti

dan diam, lagi

Yogyakarta

, 25 Januari 2005

Halangi sunset yang kunanti

Pie to dab?! (bagaimana sih kamu?!—terj)

Ditulis ulang

27 September 2007

Suatu Malam Dari Jalanan Jogja

September 11th, 2007 by uploadoverload

Masih dalam mood kemana angin berhembus malam kemarin. Sedikit uang di dompet dan sepeda gunung kepunyaan kakak—dia pulang-pergi kampus bersepeda—teronggok manis di teras rumah. Saya putuskan menelusuri jalan besar Yogya dengan tas punggung di belakang, berselimutkan jaket kebesaran berwarna hitam pudar dan celana jeans selutut. Tanpa tujuan pasti.

Sepeda malam sudah dijalani beberapa tahun belakangan. Sebenaranya tidak melulu malam. Ada masa seperti liburan panjang dan idul fitri, dimana siang hari jalanan begitu padat dan keramaian lalu-lintas harus diakali dengan menggunakan sepeda onthel tua warisan kakek. Hal yang menyulitkan karena sepeda ini menggunakan rem torpedo, bukan rem tangan. Jadi, sekarang pilihan jatuh pada sepeda gunung yang lebih aman dan tak menyulitkan.

Tak punya Surat Izin Mengemudi jadi alasan lain bersepeda. SIM saya hilang bersama dompet dan kartu identitas lainnya. Untungnya aturan harus membawa STNK dan SIM bagi pengguna sepeda di Yogya sudah berakhir puluhan tahun lalu. Sekarang, sepeda anti tilang dan anti kemacetan.

Cukup sudah penjelasannya, sekarang kembali ke sepeda malam. Sepeda mulai dikayuh. Roda berputar melabas gang kecil sebelum menuju jalanan besar. Citt, rem berderit ditekan. Tengok kiri-kanan. Ohh, sepi, baguslah.

Mulai masuk ke jalanan besar. Pertama melewati jembatan besar di atas kali code. Ketika kecil dulu saya senang mencari udang atau ikan kecil di balik bebatuan sungai ini. Airnya jernih dan tidak dalam, kecuali di musim penghujan dimana lumpur terbawa arus besar. Pinggiran sungai terbebas dari sampah meskipun rumah-rumah penduduk didirikan di sana. Mereka punya sertifikat sehingga bebas gusuran, tidak seperti bantaran Ciliwung.

Jembatan ini termasuk baru. Ketika ayah berkuliah dulu belum berdiri. Untuk mencapai kampus Universitas Gadjah Mada, beliau harus memutar dulu lewat tugu. Sekarang kakak dan adik perempuan saya yang satu almameter dengan ayah melewati jembatan ini menggunakan bis atau sepeda untuk mencapai kampus.

Menanjak beberapa puluh meter sepeda dikayuh ke arah timur memasuki gang kecil. Memotong jalan. Tembus di jalan raya C. Simanjuntak. Sempit sekali jalanan ini untuk ukuran keramaian yang mewarnai kesehariannya. Pun banyak mobil parkir di pinggiran menambah sesak lalu lintas. Sebagai catatan saya pernah dua kali celaka di jalan ini. Pertama diserempet sampai jatuh dari motor dan lecet-lecet dan yang terakhir tak sampai membuat saya jatuh, hanya setang motor agak bengkok saja.

Sampai pertigaan, berbelok ke kiri melewati jajaran pedagang buku daerah Terban. Ada dua puluh lebih kios disana. Daerah ini menjual textbook kuliah bajakan. Konon mendapat restu Sultan pula. Di kota dimana buku diskon bertebaran, pedagang Terban termasuk yang menjual buku paling murah selain shoping book center di pojok jalan Malioboro. Adik saya membeli kamus Inggris-Indonesia Hassan E Shadily lima belas ribu perak saja. Anda boleh bandingkan dengan harga di Gramedia.

Kalau mampir sempatkanlah waktu agak banyak agar teliti memilih buku. Dan Anda akan menemukan buku yang sudah agak sulit didapat. Saya berhasil menemukan Serbia Calling dan Mao Zedong; Manusia bukan Nabi, ramadhan dua tahun lalu. Dua buku yang sudah lama dicari-cari.

Kembali ke perjalanan. Di pertigaan kampus UII sepeda berbelok ke arah selatan menuju SMAN 3 Yogya. Padmanaba nama kerennya. SMA terbaik di kota pelajar. Sebenarnya saya berniat mengunjungi sebuah warnet di pojok perempatan bangjo (abang-ijo, merah-hijau, sebutan orang Yogya untuk traffic light). Tapi lampu berwarna hijau dan sepeda saya pacu saja menerabas. Benar-benar kemana angin berhembus.

Beberapa banggunan saya lewati. TB Gramedia, Gedung Kompas, dan kantor Televisi Lokal JogvaTV. Sepeda saya lambatkan untuk menengok spanduk agenda di depan gedung Kompas. Sebuah perpustakaan milik Dorothea Rosa terjepit di tengah-tengah. Perpustakaan murah. Untuk menjadi anggota cukup bayar sepuluh ribu dan iuran bulanannya lima ribu saja. Bebas pinjam buku tanpa bayar lagi dan jangka terlama peminjaman adalah tiga puluh hari tanpa memertimbangkan ketebalan halaman. Dulu, ketika masa bimbel menuju SPMB saya jadi member dari sering main kesana.

Perpustakaan ini juga menjual buku. Untuk salah satu penerbit diskonnya mencapai tiga puluh lima persen. Perjumpaan saya dengan Menolak Tunduknya FX Rudi Gunawan, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul berawal disini.

Beberapa ratus meter di depan ada sebuah gelanggang olah raga. Temboknya yang kukuh penuh dihias gambar-gambar grafis. Menceritakan resahnya zaman. Dari anti narkoba sampai kegiatan olahraga betulan yang digantikan olahraga bohongan di Playstation.

Bukan disini saja Anda bisa melihat gambar-gambar grafis. Hampir di tiap sudut kota. Temanya macam-macam pula. Ada cinta, pergerakan, industri, sampai kehidupan. Favorit saya ada dua. Satu di gang parkiran samping mall Malioboro yang menggambarkan polusi industri—anggota greenperace dan earthworker harus melihatnya. Lainnya di perempatan dekat rumah saya yang menceritakan homogenisasi dan hidup yang semakin menjepit manusia. Beberapa manusia otaknya dihubungkan oleh sebuah kabel, diatasnya tertulis manis ”Oalah, Urip Soyo Angél—Oalah, Hidup Makin Susah”. Sampai sekarang keinginan saya memotret semua gambar grafis itu belum terpenuhi.

Sekarang mengayuh lagi. Kali ini dipercepat, balik arah ke tempat tadi menuju warnet. Sepeda meluncur elegan. Dengan flamboyan berhenti di parkiran motor. Tak ada parkir sepeda disini.

Berseluncur di dunia maya sekita dua jam. Waktu di Handphone menunjukkan angka dua belas lebih sedikit. Saya membayar lima ribu dan kebingungan mendapati sepeda sudah menghilang.

Dipindahkan ke tempat lain oleh tukang parkir rupanya. Tak elok bersanding dengan sepeda motor, mungkin. Ketika mengambil sekeping lima ratusan untuk uang parkir langsung ditolak mentah-mentah. ”Bawa aja mas,” sahut tukang parkir. Cih, penghinaan!!! Baiklah, tak apa.

Saya belum tahu tujuan selanjutnya. Tugu mungkin ramai. Langsung saja menuju kesana dan ternyata tak seramai yang dikira. Tugu ini terletak di sebuah perempatan besar. Utara menuju Kaliurang; selatan ke Malioboro, Kraton ,dan Parangtritis; Timur arah Prambanan dan Solo, Barat menuju kampus Muhammadiyah. Kalau di peta turis, ditunjukkan garis lurus yang menghubungkan kraton, tugu, dan kediaman mbah Maridjan di Gn. Merapi. Ada unsur mistisnya, konon. Anda percaya? Saya tidak.

Binggung mau kemana lagi, saya memustuskan pulang. Sebelumnya cari angkringan dulu untuk mengobati lapar dan dahaga. Gampang saja menemukannya. Angkringan favorit saya letaknya di bundaran UGM dan sebelah stasion tugu. Yang di UGM sudah tutup dan dekat stasion tugu sudah habis persediaan jam segini saking ramainya. Jadi saya pilih yang dekat rumah saja.

Angkringan dekat rumah, sekitar lima puluh meter rasanya. Ibu penjualnya sudah kenal baik, beberapa pengunjungnya juga. Ada yang kenal ayah saya malahan. Kalau sudah begitu rikuh jadinya. Tanya kabar ayah lalu cerita masa lalunya sebagai teman sepermainan. Ayah tidak suka berkelahi, penakut dan kalahan. Tapi jagoan bermain kelereng dan sering menang.

”Saya sering main ke Bogor, tapi mau mampir ke rumahmu malu,” ujar salah seorang teman ayah suatu malam. Memang begitu kebanyakan. Teman ayah beragam profesinya. Dari tukang parkir di pasar, penarik becak, dan semacamnya. Kalau ketemu disapa, ngobrol dan lalu memerkenalkan saya, anaknya.

Di angkringan saya kurang suka kalau ada mereka. Tak bisa merokok jadinya, tak bebas bercanda dengan teman pula. Nanti diceramahi pula, kalau bapaknya orang baik dan tak merokok masak anaknya begini?

Paling ramai kalau pengunjung mulai pasang togel. Ngala Berkah, disebutnya. Pemuda sampai orang tua ikut semua. Dari yang asal menebak sampai pake perhitungan segala. Bandar disini namanya mbah Halo, meninggal ramadhan kemarin. Kalau bertemu orang selalu menyapa dengan kata ’Halo’ jadi disebut begitu. Kemana-mana naik sepeda onthel. ”Nafasnya pendek, tapi umurnya panjang,” kelakar orang tentang dia.

Walau meraup untung besar tiap malam tapi mbah Halo tak kaya-kaya. Hasil penjualan togel dia pake lagi untuk judi. Runyam karena sering kalahnya. Sekarang togel sudah tak ada. Habis digerebeg dan saya merindukannya. Bukan rindu untuk masang, tapi suasananya yang cair.

Musim bertukar zaman berganti. Banyak yang berubah. Kehilangan dan perjumpaan. Namun, malam Jogja masih tetap nkmat untuk bersepeda. Setidaknya sampai kemarin malam. Berharap saja, pedagang buku Terban tak hancur digilas kapitalis besar; agkringan tak habis dilahap restoran yang mulai bertumbuh; dan grafis di tembok kota masih bersuara mengumandangkan gelisah masyarakat urban. Sampai jumpa. Mudah-mudahan kita berjodoh lagi lain waktu dan kisah tentang sudut-sudut Jogja tentu akan berbeda.

Jogja, 3 September 2007

Tentang (About, Not Against) Ibu

September 2nd, 2007 by uploadoverload

Waktu kunjungan sudah berakhir dua jam lalu. Lorong Rumah Sakit sepi. Tas berisi satu stel pakaian ditambah sebuah sajadah yang dilipat mengganjal leher saya. Tubuh rebah di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat-hijau. Suara lirih merebut perhatian yang tadinya saya curahkan untuk membaca.

Suara tersebut berasal dari kamar sebelah. Tirai hijau menutupi pandangan saya ke sumber suara. Memejamkan mata, mencoba memperkuat pendengaran saya. Lantunan indah Mazmur, salah satu bagian dari Injil, mengalun. Saya ingat beberapa potongan favorit saya. Lirih namun pasti. Dari mulut seorang ibu Sabda paling nikmat untuk didengar. Setidaknya saya pernah merasakan itu.

Beberapa kali saya dirawat di Rumah Sakit. Hanya sekali saja ibu tak duduk dengan sabar mendampingi di samping ranjang tempat saya terbujur lemah—ketika itu ibu sedang berada di luar kota. Seringnya beliau memijit dan mengusap kaki atau tangan. Lebih sering lagi membaca Quran untuk menenangkan hatinya dan saya. “Istighfar, al,” kalimat tersebut berulang masuk ke telinga.

Pernah suatu kali saya mendapat kecelakaan. Tak parah karena tak sampai dirawat. Masih dalam keadaan sadar melihat langsung tindakan dokter menjahit luka sobek mengangga di beberapa bagian tubuh. Begitupun ketika selesai, masih sanggup berjalan tegap. Ibu baru datang beberapa menit kemudian. Berjalan agak limbung menghampiri saya. Tubuh masih kuat menahan sakit, namun hati segera luluh oleh dekapan dan tetes air yang membasahi tertahan di lipatan kelopak mata ibu. “Mama hampir jatuh dengar kamu kecelakaan,” bisiknya lirih sambil terus mendekap saya.

Ketika pulang ke rumah ibulah yang paling mengerti saya. Kehabisan rokok, dia belikan; makanan favorit dia buatkan—beliau jarang lupa memasakkan udang goreng tepung ketika saya berada di rumah; kopi, dia siapkan segera ketika saya mengabari akan pulang. Tetap saja dia menasihati, “kurangi rokok dan kopimu.” Saya tak menganggapnya gangguan, toh dia tak pernah lupa membelikan rokok dan kopi. Nasihat adalah bukti kasihnya. Sekedar catatan, ibu saya juga penikmat kopi dan rokok dengan merek yang sama seperti saya.

Saya anak kurang berbakti. Ketika itu, sabtu malam, telepon saya terima di kosan. Suara ibu terdengar kecewa karena saya tak pulang. Besok ada pengajian untuk mendoakan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah. Gusar hati mendengarnya, saya mengecewakan ibu.

Banyak rasanya perlakuan kurang menyenangkan saya terima. Tapi, tak baik kalau ditulis. Hanya menghabiskan waktu dan membuat penyesalan saja. Saya yang salah maka ibu berlaku seperti itu. Kekecewaannya pada anak lelaki tertua dalam keluarga terus coba dia singkirkan. Sepenggal kalimat keluar dari mulutnya sore itu, setulus Mazmur, “tempat mengadu terbaik bukan pada teman, tapi orangtua. Mereka selalu ingin yang terbaik buat anaknya, maka tak mungkin menjerumuskan kamu.”

Ahh, aku lebih menyukai tidur di rumah. Disini, di kosan, tak ada pagi dimana kau masuk ke kamarku dan memeriksa kantong depan tas, mencari sebatang rokok. Tak ada kau yang membangunkan aku dan bertanya, “al, mana rokok? mama bagi sebatang”.

Jatinangor, 01 Februari 2007

Libur Kecil Kaum Kusam

September 2nd, 2007 by uploadoverload

Semakin sulit sekarang menemukan ruang publik untuk berlibur. Taman-taman indah dengan air mancur di tengahnya Cuma bisa dipandang dari balik pagar besi, tidak untuk dimasuki. Wisata mata.

Di Bandung masih ada beberapa taman rindang yang bebas akses. Taman Lansia atau taman dekat Jonas misalnya. Kita bisa menikmati tumpukan sampah sambil menggelar tikar dan membuka rantang makanan, lalu menikmatinya bersama kawan atau keluarga. Gratis tanpa tiket masuk.

Kalau berkunjung ke Yogya, sempatkan menikmati malam Anda di trotoar depan benteng Vrederburg atau Istana Presiden. Gratis juga. Keramahan akan menyapa. Ramai pengamen dan pedagang sore mengaso sehabis kerja. Ngobrol dengan mereka, saya pastikan Anda akan tahu bagaimana cara hidup di jalanan. Ini kegiatan favorit saya.

Kalau lapar dan ingin merokok ada angkringan dan pedagang asongan berjejer. Biarkan hidung Anda menghirup aroma alkohol yang keluar dari mulut jembel-jembel. Kalau beruntung kita bisa menikmati tontonan gratis. Para pemabuk sedang berkelahi dengan kayu atau sabuk pinggang. Sirene lalu berdengung, polisi menghentikan perkelahian.

Lampu taman padam pukul satu. Keramaian segera menyusut berganti manusia yang tidur di penjuru-penjuru taman, beralaskan kardus berselimut spanduk hasil maling. Habis waktu kita, mari langkahkan kaki pulang ke rumah.

Jangan takut liburan belum usai. Masih ada agenda terakhir. Menonton acara televisi akhir pekan. Ada liputan jalan-jalan dari Bali, Lombok, Sumatra, dan berbagai penjuru Indonesia. Kadang dari luar negeri pula. Lapar? Santai saja sebentar lagi acara kuliner. Menunya beragam dari makanan tradisional sampai a la bule. Tak perlu susah mulut anda mencicip asam-manis coto makasar atau spagheti. Tutup saja mata Anda lalu dengarkan pendapat pembawa acara. Mak nyusss….

Jatinangor, 25 Agustus 2007

Amor Fati, Malam Hamil Tua

September 2nd, 2007 by uploadoverload

Asbak sudah penuh terisi. Malam hamil tua. Nanti suara sang muadzin menyambut surya yang menggeliat keluar dari kegelapan rahim. Saya diam, lalu mengetik. Diam lagi. Membaca, mengetik, dan kembali diam. Selalu seperti itu, malam ke malam. Hanya malam yang sanggup.

Empat lebih lima belas. Persalinan segera dimulai. Malam kehabisan daya dan saya tak ingin melihat kelahiran hari dengan mata yang masih nyalang. Selimut ditarik. Selamat tinggal malam. Kutinggalkan kau dengan kepala tertunduk. Mata menutup.

Bukankah kelahiran itu menyakitkan? Butuh tenaga dan keberanian untuk menerima sesuatu yang baru, begitu?

Malam, jangan kau tebus pagi dengan nyawamu. Tak sanggup kau penuhi pintaku? Biarlah sekedar mata diselimuti gelapmu saja, dalam tidur pulas.

Dan matahari merangkak lamat. Mengambil nyawa embun tetes demi tetes. Pagi bersabda, “cintailah keutuhan, nasibmu. Jadilah penuh dengan berdamai dengan nasib. Lampaui siang-malam, gelap-terang, keruh-bening, sulit-senang, hitam-putih. Buka lebar-lebar tangamu menyambut pagi yang baru. Jangan kau larut dalam malam, usah pula tinggalkan dia”.

21 Agutus 2007

Nona, Masihkah Tak Ingin Menikah??

August 19th, 2007 by uploadoverload

Bukan Assalamualaikum atau selamat sore, namun “aku jatuh cinta dengan Multatuli”. Teriakan Nona Taman Feurbach menggiring burung-burung keheningan yang sedang bercicit merdu pergi seketika. Saya terpukau kaget.

Ada

apa gerangan?

“Ternyata ada itu cinta seperti dalam bayanganku, dalam tuturan Multatuli,” jelasnya. “Seperti jalinan antara Jenny dan Marx,” tegasnya. Langsung saja nona berceloteh ria seperti biasa.

Mundur ke masa lalu.

“Aku mungkin tak akan menikah,” kalimat itu keluar dari mulut yang mulai menghitam akibat kebiasaan merokok. Dia mencoba menggurat nasib, menghapus ketidakpastian hari depan dengan sebuah ramalan. Sekali dua kali saya anggap angin lalu saja. Dihapusnya keraguan saya dengan terus mengulang kalimat itu tiap kami mengobrol. Dia serius.

Nona ini menganggap sulit sekali menemukan pasangan yang klop. Bukan secara fisik melainkan secara pemikiran. Masa lalunya dengan beberapa pria memberi segudang pengalaman untuk meneguhkan pendapat tersebut. “Aku mungkin tak akan menikah”.

Sampailah pada suatu perjumpaan. Dengan buku Multatuli dan kolom tanya-jawab asuhan Leila CH Budiman rupanya memberi suar cerah.

“Kadar pemahaman Agama yang setingkat diantara dua pasangan menentukan kelanjutan hubungan. Perbedaan Agama bukan masalah lagi,” kutip nona. Saya manggut-manggut entah setuju atau sekedar refleks.

“Nona, masihkah teguh tak ingin menikah?”.

Mari saya putarkan sebuah lagu sebagai persembahan. “Kenapa bercinta jika kesudahannya pasrah. Karena bila dilamun indahnya tak terkata,” nah itu dia Too Phat dan Siti Nurhaliza berkisah.

Bersiaplah. Negasi sejengkal di atas ubun-ubun. Tadinya saya kira tekad nona sudah pasti, ternyata meluruh juga di udara. All that is solid melts into the air, masih ingat dialektika cinta-menyinta kita malam itu?

16 Agustus 2007

setelah kepulangan Nona dari

Taman

Feurbach

Hanya Orang Gila Tak Ingin Kaya

August 19th, 2007 by uploadoverload

Kau tak ingin kaya? Darimana asal pikiran sinting macam itu. Baiklah, teman saya seorang psikiater handal, mungkin beliau bisa membantumu. Ahh, maaf  kalau terlalu kasar. Tapi saya kira semacam gangguan jiwa sangat mungkin menimpamu. Psikiater itu pasti bisa menamai penyakit ini.

Ada

baiknya buku-buku sejarah itu kausingkirkan. Mereka membawamu pada romantisme. Keindahan komunalisme cuma ada dalam temuan ilmu sosial. Individualisme itu tiang yang sekarang menancap kukuh ke jantung keseharian. Kau lihat cakrawala zaman kita dibentuk gurat-gurat persaingan. Oww, aku tahu pasti ini semacam kepengecutan. Kau takut kekalahanlah yang menutup lembar perjuanganmu, begitu bukan? Pasti, pasti itu!

Aduh, maaf sekali lagi. Kelabu gusar begitu ganas menyelubungi, makanya bicaraku jadi pekat begini. Aku tak bisa lagi melihat dirimu secara jelas. Jangan pula kau balas nasihatku ini dengan raut sedih macam begitu. Mataku tak sanggup menatap kekalahan yang begitu besar. Muram durja itu milik filsuf miskin yang tak punya apa-apa selain kegalauan. Hal yang bahkan tak mengusir lapar walau sedetik saja.

Keinginanmu tulus dari dalam hati, aku tahu itu. Kelak kau tahu ketulusan tak memberimu sekeping uangpun. Sekarang cuma segelintir orang gila saja yang masih memilikinya, dua puluh tahun lagi kata ‘tulus’ pasti terhapus dari kamus bahasa.

Lihatlah, di jalan besar

sana

karnaval knalpot begitu bingar, muntahan asap jadi latarnya. Di sisi mereka, tepat di atas trotoar, berjalan manusia-manusia lain menghirup cuma-cuma gas karbon monoksida. Jantung mereka dirusak oleh orang lain! Itulah takdir zaman kita. Kemiskinan dan kelemahan sepaket dengan ketidakmujuran dan penghisapan. Kau mau diperlakukan seperti itu?

Lihatlah, tetanggamu itu, si Tuan Besar, mobilnya berjejer indah di garasi. Naik haji sudah berkali-kali, macam pergi ke Dufan saja. Tiap lebaran jembel-jembel berbaris di depan pagar rumah, saling sikut malah, menunggu lembaran sepuluh ribuan dibagikan. Cuma recehan uang segitu buat dia. Menabung pahala untuk akhirat. Dihargai orang sekitarnya, tak berani kepala ditegakkan jika berpapasan.

Tanahnya di desa puluhan hektar. Beli murah dari petani ketika ekonomi jatuh lalu bangun pabrik tekstil. Petani desa tak punya lahan. Sekarang anak pemudanya jadi buruh tanpa perlu pindah ke

kota

. Kalau upah kurang tinggal minta pinjaman berbunga ke bank Tuan Besar. Kau harus begitu jika ingin sukses, tajam sorot mata kalau lihat peluang.

? ? ? ? ?

Siang itu gelisah datang. Tanpa ampun meghujamkan lusinan pertanyaan. Gontai dibuatnya. Hei, aku ingat kau, yang membalas ajakan kakak sepupumu ikut MLM dengan pernyataan “saya tak ingin kaya”. Kau juga yang melihat debu-debu kemiskinan menempel di dinding-dinding orang desa, betul

kan

? Itu ada lagi kawan lainnya yang cuma ingin punya rumah di desa. Kita bertukar harapan. Mengutip berulang

Gorky

“orang gila tak mau mengakui dirinya gila”.

Sederhana betul hasrat kalau tak diturut. Memberi sesuai kemampuan dan menerima sesuai kebutuhan. Membaca, menulis, dan menyebarkan kita punya gelisah. Cukup segitu? Apa itu kegilaan? Nyatanya, memang dianggap begitu. Mari kita lihat, disana Aa Gym berdakwah: “orang Islam jangan ingin kaya, tapi harus kaya”. Indah betul ucapannya, seperti monster yang menghantui ketenangan manusia. Semua berlomba. Mari, mari kumpulkan terus pundi-pundi emas itu. Janganlah hidup tenang sebelum kekayaan menghampiri kalian!

Jatinangor, 25 Juli 2007

Untuk mereka yang mengajari saya hidup sederhana

Indonesian Idol dan Pilkada Jakarta

July 28th, 2007 by uploadoverload

Yang satu sudah berakhir, lainnya masih berlangsung. Indonesian Idol dan Pilkada Jakarta. Sekilas, keduanya nampak berbeda. Kalau dilihat dan lalu dipikir lagi ternyata banyak kesamaan.

1. Keduanya merupakan pertunjukan adu kebolehan untuk meraih dukungan. Idol unjuk gigi dengan menghibur pemirsa melalui suara dan koreografi yang apik. Dua hal tersebut berpengaruh besar, selain muka yang aduhai, dalam menarik dukungan. Cagub dan Cawagub tak mau ketinggalan. Mencoba meraih simpati dengan kebolehan umbar janji. Kalau di idol lirik nomor dua setelah suara, untuk Pilkada pitch control dkk tak lebih penting dibandingkan keindahan lirik. Dari awal sampai reff isi nyanyian Cagub dan Cawagub ya cuma janji. Bebas banjir, anti macet, sampai pelestarian budaya. Langsung naik ke tangga lagu nomor satu tanpa perlu jadi bubbling under video seperti para pendatang baru di MTV Ampuh.

2. Peran serta pemilih ditonjolkan. Bermacam slogan digunakan untuk menyukseskan hal ini. Pilkada punya kalimat “suara lo ngaruh banget’. Sedangkan Idol mencobanya dengan kalimat “ingat Anda yang memilih dan Anda yang menentukan”, yang dibacakan host mereka—Daniel dan Ata.

3. Pengamat punya peran yang tidak langsung. Titi DJ, Anang, Indra Lesmana, dan Jamie Aditya. Empat orang yang kadang jadi momok, tak jarang juga merangkul mesra para peserta Idol. Semuanya independen, jadi bisa berlaku seperti itu. Pengamat politik pun seperti itu. Lembaga seperti CSIS atau individu semisal Fadjroel Rachman punya peran yang kurang lebih sama seperti keempat orang juri Indonesian Idol. Pengamat boleh menilai, tapi pilihan tetap di tangan pemirsa dan masyarakat.

4. Isu kesukuan jadi hal yang penting. Mereka yang mendukung Wilson menjadi The Next Indonesian Idol seringkali membawa spanduk yang bertuliskan daerah asal Wilson, Maluku. Nah, kalau di Pilkada Cagub berusaha merangkul tokoh-tokoh aseli Betawi, atau setidaknya mereka yang punya aura Betawi. Anak dari Benyamin Syueb, rombongan keluarga Doel (Rano Karno, Mandra, Basuki, dsb), dan terakhir Bajaj Bajuri (Nani Wijaya dan Mat Solar). Sentimen kedaerahan masih dianggap efektif untuk menjaring massa.

5. Menggunakan simbol dan ruang yang berkaitan dengan Agama. Kedua Cagub yang bertarung sering menebar rayuan dalam ruang dan waktu yang berkaitan dengan agama. Sosialisasi visi dan misi dalam masjid, itu berita terakhir yang saya baca di surat kabar. Agak berbeda dengan kasus Idol. Orangtua Wilson dan Rini, dua kontestan di Grand Final, menyebut nama Tuhannya masing-masing—Yesus dan Allah—di akhir pesan yang disampaikan untuk anaknya.

Fauzi Bowo datang di Result Show Indonesian Idol yang baru selesai beberapa menit sebelum saya menulis. Seperti yang pernah dilakukan Amien Rais dengan mendatangi konser Iwan Fals di Trans TV ketika masa kampanye Pilpres 2004, tujuannya satu: menebar jaring pesona pada para pemilih. Kesan politis kehadiran Foke—panggilan achrab Fauzi Bowo—coba dikurangi dengan disandangnya jabatan Wakil Gubernur, bukannya Calon Gubernur. Setidaknya itulah yang dibacakan Host.

Indonesian Idol 2007 telah berakhir dan melahirkan Rini sebagai ‘idola baru Indonesia’. Pilkada baru tahap kampanye dan masyarakat masih harus menunggu siapakah ‘idola baru Jakarta’? Kita tunggu setelah rayuan gombal dan omong kosong demokrasi berikut ini! Bogor, 29 Juli 2007 Selepas Result Show Grand Final Indonesian Idol

Negara Vs. Kemiskinan Di Pedesaan

July 20th, 2007 by uploadoverload

“Bahaya kelaparan?…

Di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, bahaya kelaparan?

Ya, saudara pembaca. Beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan,…ibu-ibu menjual anak-anak untuk makan,…ibu-ibu memakan anaknya sendiri”

(Multatuli, Max Havelaar, 1972 (asli 1860): 64)

Satu persoalan yang tak lekang melekati gambaran negara-negara dunia ketiga adalah kemiskinan sebagian penduduknya. Di Indonesia kemiskinan bukan hanya berita tahunan, tapi laporan harian; bukan hanya catatan statistik, tapi juga gambaran kualitatif. Media massa tidak hanya menyodorkan berita-berita tentang kemiskinan, tetapi juga menjual kemiskinan lewat beberapa tayangan reality show-nya.

Kemiskinan tidak hanya ada di kota dengan jembel-jembel penghuni kolong jembatan sebagai lambangnya, tapi juga tidak beranjak pernah dari pedesaan meski pembangunan dan upaya pengentasan kemiskinan sudah dilakukan sejak lama. Sebenarnya apa sebab kemiskinan menimpa sebagian orang di pedesaan? Bukankah kita sering memperoleh gambaran damainya kehidupan desa yang orang-orangnya saling bantu, guyub, dan tolong-menolong seperti yang digambarkan buku-buku pelajaran sekolah?

“Kemiskinan sebagian orang di pedesaan itu parah.. Parah sekali. Dan kita, orang kota, tidak melihatnya karena terbiasa dengan gambaran desa dari buku sekolah tentang rumah nenek di desa berbukit hijau nan damai yang orangnya ramah saling tolong dan gotong-royong,” tutur Dede Mulyanto,S.Sos. Beliau lulus dari jurusan Antropologi Sosial Universitas Padjajaran pada tahun 2003 dengan bidang penelitian skripsi yang masih baru – Gerontologi, ilmu tentang masalah sosial masyarakat lanjut usia –  di almamaternya. Setahun kemudian diangkat menjadi dosen di jurusan Antropologi Universitas Padjajaran dan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung. Selain mengajar sekarang dia juga menjadi peneliti di Pusat Analisis Sosial Yayasan Akatiga, Bandung.

Berikut petikan wawancara Muhammad Kholikul Alim dengan Dede Mulyanto,S.Sos, tanggal 16 Agustus 2005, di Pondok Puri Indah Ciawi, Jl Lapangan Bola Ciawi no.9, Jatinangor, Sumedang.

Menurut amatan Anda, sebenarnya di mana akar kemiskinan itu?

Dari berbagai kepustakaan tentang kemiskinan di pedesaan, paling tidak ada tiga pendekatan yang berbeda memandang sumber kemiskinan. Pertama, boleh disebut pendekatan lingkungan. Sebab kemiskinan ada dalam lingkungan alam. Tanah tidak subur, iklim yang kurang cocok untuk bertani, bencana alam, wabah penyakit, atau air yang langka. Di Gunung Kidul, Yogyakarta, misalnya, penduduknya sebagian besar miskin karena memang lahannya kering. Di musim kemarau penduduk bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk memperoleh air kebutuhan sehari-hari. Waktu untuk mencari nafkah berkurang. Masalahnya kemudian adalah tidak semua penduduk di daerah kering itu miskin. Ada juga yang kayanya. Itu artinya alam bukanlah satu-satunya sumber kemiskinan. Sebagian orang, yang boleh dibilang pendukung pendekatan kultur, menyatakan bahwa mentalitas oranglah yang menjadi akar kemiskinan. Orang yang gigih, pekerja keras, hemat, dan berpikir rasional tidak akan terjebak dalam kemiskinan. Karena itu mentalitas penduduk miskin harus diubah. Tapi, persoalannya kemudian adalah ada orang yang sudah bekerja keras, hemat, dan memperhitungkan pilihan-pilihan rasional masih juga miskin karena saluran untuk kayanya nggak terbuka buat mereka. Oleh karena itu ada sebagian ilmuwan sosial, yang boleh dibilang pendukung pendekatan struktural, melihat akar kemiskinan adalah pada tatanan masyarakat yang timpang, menguntungkan sebagian orang dan merugikan yang lain.

Untuk konteks pedesaan Indonesia, faktor apa yang menyebabkan kemiskinan?

Saya secara pribadi sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa kemiskinan sebagian orang adalah karena tatanan masyarakat yang tidak adil. Di tingkat antarbangsa, lembaga-lembaga internasional seperti WTO (World Trade Organization), IMF (International Monetary Fund), atau Bank Dunia menjerat negara-negara miskin lewat utang agar pemerintahnya nurut sama mereka untuk menerapkan kebijakan yang menguntungkan negara-negara kaya dan para penanam modalnya. Di dalam negeri kebijakan-kebijakan pemerintah lebih mengutamakan kepentingan pemodal industri di kota-kota ketimbang rakyat pedesaan. Di tingkat desa, pemerintah lebih banyak menerapkan kebijakan yang menguntungkan sebagian kecil elit desa daripada sebagian besar buruh tani. Contohnya adalah proyek intensifikasi pertanian yang menghasilkan hasil tani melimpah. Teknologi dan tatacara bertani dimoderenkan. Petani bisa panen dua-tiga kali setahun. Banyak petani naek haji. Ilmuwan menyebutnya revolusi hijau.

Mengapa intensifikasi pertanian itu hanya menguntungkan sebagian kecil elit desa?

Tidak semua penduduk desa punya lahan. Cuma sedikit yang punya lahan banyak. Sebagian besar penduduk desa itu buruh tani tanpa lahan. Naiknya produksi pertanian lebih dinikmati pemilik lahan saja. Sejak revolusi hijau, modal untuk menanam padi lebih besar. Petani harus beli bibit, pupuk, pestisida, dan sewa traktor. Jelas hanya petani kaya yang relatif tidak terlalu sulit menjalankannya. Sejak ada traktor buruh-buruh macul banyak kehilangan pekerjaan. Selain itu untuk jadi anggota kelompok tani orang harus menjadi pemilik lahan karena bantuan dari pemerintah seperti penyuluhan, pinjaman modal, dan kredit teknologi tani diprogramkan untuk pemilik lahan; bukan untuk buruh tani.

Bukankah di pedesaan Indonesia kepemilikan lahannya adalah terpetak-petak kecil yang hampir merata?

Nggak, sama sekali tidak. Di Jawa, yang sudah banyak diteliti, terjadi polarisasi kepemilikan sumber kekayaan. Penduduk terpolarisasi ke dalam dua kutub: golongan kaya dan golongan miskin. Orang bisa mengumpulkan kekayaan dengan macam-macam cara. Bisa dengan membeli lahan atau mengambilnya dari orang yang berhutang tapi tidak bisa membayarnya. Orang yang mempunyai hutang kepada rentenir karena mungkin gagal panen, anaknya sakit keras, atau ditipu, bisa kehilangan lahanya karena tidak bisa membayar hutang dan bunganya yang tinggi. Kalo tidak salah bunga pinjaman ke rentenir bisa 50% lho. Ya, namanya orang butuh apapun akan dilakukan, termasuk pinjam ke rentenir. Selain itu orang kaya mencari penduduk miskin yang membutuhkan uang dan menawarkan sistem pembelian ijon yang jelas-jelas merugikan orang miskin. Petani kaya juga bisa membayar buruh dengan murah karena orang yang cari kerja banyak. Keutungan hasil tani hampir semua masuk ke kantongnya. Di sisi lain anak-anak orang miskin nggak bisa sekolah karena biayanya mahal buat ukuran mereka. BOS (Biaya Operasional Sekolah) itu kan bantuan untuk siswa. Anak orang miskin ada yang jangankan mendapat BOS, jadi siswa saja tidak mampu. BOS itu cuma ganti SPP (Sumbangan Penyelengaraan Pendidikan), tapi kalo biaya lain-lain tetep bayar juga. Sekolah itu penting buat orang miskin bisa naek kelas. Tapi nyatanya saluran buat mereka sempit sekali. Jadi semakin hari ada dua golongan yang timpang kekayaannya: golongan orang kaya yang tambah sedikit jumlahnya dan golongan rakyat miskin yang tambah banyak.

Jika begitu, di pedesaan sudah terbentuk kelas-kelas?

Belum, belum ada kelas seperti dalam gambaran kaum marxis di pedesaan Jawa. Buruh tani miskin tidak terikat secara ideologis kepada buruh-buruh miskin lainnya. Keterikatan mereka masih pada majikan dan aliran politik atau keagamaannya. Hubungan antara majikan dan anakbuah masih ada dan itu menyulitkan terbentuknya kelas berdasarkan ekonomi. Buruh-buruh tani yang bekerja kepada patani kaya dari golongan santri akan lebih loyal kepada ‘aliran’ santrinya ketimbang kepada sesama buruh tapi dari abangan. Lihat saja dalam politik partai, partai-partai berbasis kelas buruh tidak laku, PBSD (Partai Buruh Sosiali Demokrat), PRD (Partai Rakyat Demokrat), tidak laku di desa-desa, yang laku adalah partai-partai aliran seperti PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang mewakili nasionalis abangan atau Golkar yang nasionalis sekuler berbasis agak priyayi, atau yang berbasis santri tradisionalis seperti PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan), atau santri modernis seperti PAN (Partai Amanat Nasional) dan PBB (Partai Bulan Bintang).

Kembali ke soal kemiskinan, kira-kira bagaimana peran negara di dalamnya?

Seperti yang sudah saya katakan, negara bertanggung jawab atas kemiskinan sebagian warganya. Kebijakan yang menguntungkan segelintir golongan kaya harus diubah. Keberpihakan negara harus diberikan kepada rakyat miskin. Selama ini negara berpihak pada segelintir orang kaya dan orang berkuasa di kota. Contohnya adalah kebijakan beras murah. Kebijakan ini jelas tidak menguntungkan petani. Harga gabah dimonopoli pemerintah. Setiap kali harga beras naik, pemerintah buru-buru operasi pasar atau impor beras. Sedangkan ketika pupuk langka karena ditimbun distributor, pemerintah tidak bisa berkutik. Memang kalau harga beras mahal, penduduk miskin kota bisa ngamuk. Kerusuhan 14 Mei kan orang-orang miskin kota yang menjarah itu. Ini bahaya buat kestabilan ekonomi dan politik nasional. Suharto saja jatuh gara-gara sembako mahal. Jadi beras harus tetap murah. Kalau harga beras murah, siapa yang diuntungkan? Penanam modal. Gimana logikanya? Harga beras itu jadi salah satu patokan untuk menaikkan atau tidak menaikkan UMR (Upah Minimum Regional). Kalau harga beras murah UMR bisa ditekan semurah mungkin. Kalau upah buruh bisa kecil, keuntungan pengusaha bisa lebih besar. Itu kebijakan nasional yang menunjukkan keberpihakan negara. Di pedesaan negara lebih mendukung segelintir elit desa lewat patronase sipil ketimbang buruh tani.

Contoh bentuk patronase antara negara dengan elit desa seperti apa?

Misalnya begini. Kredit Usaha Tani itu diberikan kepada petani lewat kelompok-kelompok tani. Pinjaman ini diprogram untuk mereka yang punya lahan. Anggota kelompok tani yang betul-betul diuntungkan adalah mereka yang punya lahan karena kredit itu untuk bibit, pupuk, atau pestisida yang disebut saprotan. Buruh tani tidak butuh semua itu karena lahanpun tidak punya. Selain itu biasanya untuk jadi anggota kelompok tani orang harus punya lahan. Jadi program bantuan buat petani itu maksudnya adalah program untuk petani kaya, elit-elit desa. Jadi orang kaya bisa makin kaya, orang miskin bisa tambah miskin karena kebijakan-kebijakan yang tidak melindungi golongan miskin desa.

Bisa beri contoh lain?

Sampai sekarang tidak ada undang-undang yang mengatur kebijakan upah kerja buruh tani. Buruh industri besar bisa menuntut UMR karena memang ada peraturannya. Buruh tani tidak. Pemilik lahan bisa kasih upah sekecil mungkin untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Ada yang berpendapat bahwa gaya hidup petani miskin juga menjadi sebab kemiskinan mereka sendiri, menurut Anda?

Saya kira banyak yang berpandangan seperti itu. Itu cara pandang khas pendekatan modernisasi. Kemiskinan seseorang atau sekelompok orang karena mentalitas mereka sendiri. Orang miskin malas bekerja, tidak bekerja keras, tidak biasa menabung, dan sebagainya. Kalau kita sebagai orang yang dibesarkan di kota turun ke desa kemudian melihat orang miskin bermalas-malasan ngobrol ngalor-ngidul sesama tetangga, tidur di siang hari, atau mengerjakan sesuatu yang kurang berarti, kita langsung menghakimi mereka sebagai segerombolan orang malas yang menjadi miskin karena diri mereka sendiri. Mungkin ada juga kasus seperti itu. Tapi kalau kita cermati pekerjaan di pedesaan itu berjangka waktunya. Dari musim tanam hingga panen hanya sedikit pekerjaan yang bisa diperoleh dari lahan pertanian. Kalaupun ada biasanya hanya membutuhkan sedikit orang. Untuk pekerjaan lain orang harus punya modal atau jaringan. Tidak semua orang punya uang untuk dagang atau punya kenalan tukang untuk jadi kuli bangunan. Tidur banyak dan makan sedikit. Itu strategi orang miskin di desa. Tidur bisa menunda lapar. Banyak penelitian pedesaan menemukan kenyataan seperti itu. Orang bermalas-malasan bukan karena malas, tapi strategi menghemat kalori. Jangan bayangkan semua orang desa bisa makan tiga kali sehari. Ada yang justru sering tidak makan tiga hari berturut-turut. Kemiskinan sebagian orang di pedesaan itu parah.. Parah sekali. Dan kita, orang kota, tidak melihatnya karena terbiasa dengan gambaran desa dari buku sekolah tentang rumah nenek di desa berbukit hijau nan damai yang orangnya ramah saling tolong dan gotong-royong. Bohong itu.

Jadi, solusi yang Anda ajukan untuk pengentasan kemiskinan di pedesaan seperti apa?

Saya tidak terlalu sepakat dengan kalangan marxis yang mengajukan revolusi sebagai jalan keluar. Revolusi hampir selalu merugikan orang miskin juga. Kita lihatlah revolusi Bolsheviks, kelakuannya revolusioner Khmer Merah, atau kelakuan pemberontak Maois di Nepal. Semuanya nyiksa orang miskin juga. Tapi kalau orang mlarat tambah banyak dan kemlaratannya tambah parah, ideologi-ideologi radikal mudah tumbuh juga. Jadi negara harus berperan penting dalam soal pengentasan kemiskinan lebih kuat lagi. Kebijakan-kebijakannya harus bepihak pada golongan miskin. Seperti contoh tentang upah buruh tani. Peraturan mengenai hal ini harus dibuat untuk menjaga agar petani kaya tidak semena-mena mengeksploitasi buruh tani. Buat juga aturan, misalnya, yang melindungi petani miskin dari praktek ijon dan lintah darat. Buat pula aturan tegas soal itu, dan beri solusi buat masalah pinjaman buat orang miskin. Kalo bisa jerat itu tukang ijon dan lintah darat dengan hukum. Selain itu lembaga-lembaga agama, seperti zakat juga harus digalakkan untuk melindungi orang miskin desa dari keterpurukan ke lapisan lebih bawah lagi. Zakat diorganisasi bukan untuk membangun masjid saja dong, tapi yang utama membantu mereka yang fakir dan miskin. Lembaga pengumpul zakat jangan dijadikan sumber nafkah, tapi untuk membantu orang fakir-miskin, bukan cuma yang ada di kota, tapi juga di desa-desa. Ulama juga harus didorong untuk menjadi pembela rakyat miskin.