Archive for August, 2008

Kematian

Tuesday, August 5th, 2008

Pagi ini langit menyenandungkan sendu kembali. Awan gelap bertumpuk-tumpuk bikin udara pagi yang biasanya hangat tidak terasa. Berat kaki, tapi saya melangkah juga.

Kata orang yang ahli baca cuaca, langit semakin sulit diawasi. Musim berganti tanpa turut aturan yang dulu-dulu. Manusia salah besar ternyata. Dulu berpikir bisa kuasai alam, tapi sekarang justru kita dikuasai alam.

Sejak revolusi industri, cerobong-cerobong pabrik menusuk langit; dam raksasa dibangun menghambat laju air; tanah-tanah diliciki benih-benih penelitian. Percepatan katanya. Hai manusia lihat mesin kami, beton kami, pestisida kami, bisa bikin kita hidup berlimpah. Selamat jalan kelangkaan, selamat tinggal kekurangan.

Tapi, alam punya logika sendiri. Logika yang dianaktirikan manusia. Asap pabrik merenggut ketebalan atmosfir selembar demi selembar, hasilnya pemanasan global; air yang dihambat bikin laut kekurangan pasokan garam dan jadilah daratan semakin terkikis; bibit rekayasa membunuh kesuburan tanah pelan-pelan. Haus laba bikin efisiensi jadi anak kesayangan yang diturut segala maunya. Peduli setan manusia lain jadi korbannya.

Pagi ini hati berbisik gelisah lagi. Di bawah langit mendung saya mulai hari. Niatnya mau melangkah tiga kilometer jauhnya menuju tempat kursus. Sejak punya rutinitas baru ini, hidup saya menggelegak lagi. Pertanyaan ke pertanyaan berembus lagi.

Peralihan bukan hal yang menyenangkan. Dia selalu datang membawa segepok masalah sembari menyeringaikan bibir. Seperti pergantian musim yang selalu bawa penyakit pancaroba. Tak tahu peralihan ini mau bawa saya kemana.

Sekarang cuma tahu kalau konflik selalu berakhir dengan konsensus, dipaksakan atau tidak. Tapi, tak mau memercepat hidup kalau harus korbankan kehidupan. Tak mau berucap “selamat jalan pertanyaan, selamat tinggal kehidupan”.

Jogja 6 Agustus 08