Waktu Hujan Sore-sore

yang datang tak perlu disoraki

yang pergi usah ditangisi

mari saling melambai, di pelabuhan

langit selalu biru, sore ini, dan dulu –

waktu kita bertemu

(Jogja, 21 Juli 2008)

Satu atap kita waktu hujan turun sore-sore. Kamu buat teh dan saya secangkir kopi. "Hujan adalah persetubuhan langit dan bumi," saya berujar kamu mendengar. Mungkin bosan, tapi kamu masih disitu. Mendengar ceracau saya yang bersaing dengan detak hujan menghujam tanah.

Satu langkah kita waktu matahari jadi raja-diraja di puncak langit. Saya menepi, lalu rebah di dipan pendek kosanmu. Kamu menyingkir sebab tahu badan ringkih saya suka merajuk. Ah, nona selalu ingat itu.

Dinding yang sama halangi angin malam menusuk kulit. Kita berdebat hebat tentang dialektika cinta. Sampai fajar. Lalu kamu kasih selimut saat saya pamit tidur. Rasanya mirip seperti ketika kamu datang bawa jamu penghilang batuk, kamu tahu saya benci obat kimia; serupa seperti tanganmu yang mengulurkan jus buah dalam botol saat saya terserang gejala typhus.

Buat kamu yang tak pernah lelah ajari saya hidup; yang tak lelah berjalan bersama si keras kepala; yang ingatkan besok Sahala kuliah pagi; yang suka meledek mesra kalau saya jatuh cinta

Sudah senja, banyak yang pergi. Kalau sempat bertemu saya angkat gelas buat kamu, buatkan racikan kesukaanmu. Nanti kita menyanyi lagi buat persahabatan, kenangan, hidup, dan buat mimpi-mimpi kita

Terima kasih, Nona Taman Feurbach…Sudah jadi sahabat, kakak, dan ibu kedua buat saya…

Leave a Reply