Mak Tini

…Disini tak ada nasib. Tak ada nasib yang mirip putaran roda. Orang bekerja cuma buat hidup. Tanpa harapan. Mereka cuma menunggu jenazahnya dibawa pulang ke kampung halaman…

Kemarin-kemarin Mak Tini sering mengeluh lapar. Bukan mengeluh sebetulnya, tapi cuma menjawab. Kalau pagi dia suka tanya "mau makan pake apa, mas," saya balik tanya "wis mangan, mak? (sudah makan,mak?)". Mak Tini jawab apa adanya.

Tak ingat sejak kapan dia mulai kerja pada Nenek. Dulu sekali, ketika saya masih bocah, dia datang dari sebuah desa miskin di pojokan Jogja. Beberapa bulan bekerja, Mak Tini bawa dua anak kembarnya turut serta Andi dan Endi. Sembari sekolah mereka kerja juga buat nenek saya.

Andi sudah punya satu anak sekolah TK. Dia nyupir dan Siti istrinya memasak. Mereka ketemu dan jatuh cinta waktu sama-sama kerja buat nenek. Mertuanya Andi kerja juga buat nenek, jadilah satu keluarga besar dipersatukan di dapur yang temboknya kehitaman karena asap.

Asap yang sama buat Mak Tini kena katarak. Beberapa bulan lalu dia naik meja operasi. Biayanya berhutang sama nenek dan bantuan teman-teman sependeritaan. Di bulan yang sama tangan saya patah. Kami suka bertelepon saling bertanya kabar dan memberi semangat.

Mak Tini jadi pendiam. Juni sampai Agustus pesanan Catering menumpuk. Bukan tak ingin ngobrol sama saya, tapi takut kena dampat majikan yang tak lain-tak bukan adalah Bulik saya. Tembok-tembok dapur dipasang tulisan "Sedikit Bicara Banyak Bekerja".

Beberapa hari lalu dia simpankan udang goreng buat saya. Kami bicara sambil makan.

Kalau pesanan sedang banyak upahnya sampai 200 ribu seminggu. Kalau sepi turun hingga seperempatnya. 50 ribu buat hidup seminggu?? Tidak, kurang dari 50 ribu malahan. Gajinya dipotong utang sebelum diberikan.

"Mas jangan cerita sama bulik lho, nanti saya dimarahi," saya cuma tersenyum dengar kalimat Mak Tini sambil ingat muka sangar bulik saya.

Jogja, 28 Juli 2008

Leave a Reply