Archive for July, 2008

Mak Tini

Sunday, July 27th, 2008

…Disini tak ada nasib. Tak ada nasib yang mirip putaran roda. Orang bekerja cuma buat hidup. Tanpa harapan. Mereka cuma menunggu jenazahnya dibawa pulang ke kampung halaman…

Kemarin-kemarin Mak Tini sering mengeluh lapar. Bukan mengeluh sebetulnya, tapi cuma menjawab. Kalau pagi dia suka tanya "mau makan pake apa, mas," saya balik tanya "wis mangan, mak? (sudah makan,mak?)". Mak Tini jawab apa adanya.

Tak ingat sejak kapan dia mulai kerja pada Nenek. Dulu sekali, ketika saya masih bocah, dia datang dari sebuah desa miskin di pojokan Jogja. Beberapa bulan bekerja, Mak Tini bawa dua anak kembarnya turut serta Andi dan Endi. Sembari sekolah mereka kerja juga buat nenek saya.

Andi sudah punya satu anak sekolah TK. Dia nyupir dan Siti istrinya memasak. Mereka ketemu dan jatuh cinta waktu sama-sama kerja buat nenek. Mertuanya Andi kerja juga buat nenek, jadilah satu keluarga besar dipersatukan di dapur yang temboknya kehitaman karena asap.

Asap yang sama buat Mak Tini kena katarak. Beberapa bulan lalu dia naik meja operasi. Biayanya berhutang sama nenek dan bantuan teman-teman sependeritaan. Di bulan yang sama tangan saya patah. Kami suka bertelepon saling bertanya kabar dan memberi semangat.

Mak Tini jadi pendiam. Juni sampai Agustus pesanan Catering menumpuk. Bukan tak ingin ngobrol sama saya, tapi takut kena dampat majikan yang tak lain-tak bukan adalah Bulik saya. Tembok-tembok dapur dipasang tulisan "Sedikit Bicara Banyak Bekerja".

Beberapa hari lalu dia simpankan udang goreng buat saya. Kami bicara sambil makan.

Kalau pesanan sedang banyak upahnya sampai 200 ribu seminggu. Kalau sepi turun hingga seperempatnya. 50 ribu buat hidup seminggu?? Tidak, kurang dari 50 ribu malahan. Gajinya dipotong utang sebelum diberikan.

"Mas jangan cerita sama bulik lho, nanti saya dimarahi," saya cuma tersenyum dengar kalimat Mak Tini sambil ingat muka sangar bulik saya.

Jogja, 28 Juli 2008

Sejarah

Thursday, July 24th, 2008

Sejarah tidak ditulis oleh pena milik Tuhan. Tidak pula dilukis bergurat-gurat lewat kuas Sang Maha Kuasa. Sejarah berdetak dalam nadi manusia, dipanggul berat pundak kita.

Waktu Hujan Sore-sore

Monday, July 21st, 2008

yang datang tak perlu disoraki

yang pergi usah ditangisi

mari saling melambai, di pelabuhan

langit selalu biru, sore ini, dan dulu –

waktu kita bertemu

(Jogja, 21 Juli 2008)

Satu atap kita waktu hujan turun sore-sore. Kamu buat teh dan saya secangkir kopi. "Hujan adalah persetubuhan langit dan bumi," saya berujar kamu mendengar. Mungkin bosan, tapi kamu masih disitu. Mendengar ceracau saya yang bersaing dengan detak hujan menghujam tanah.

Satu langkah kita waktu matahari jadi raja-diraja di puncak langit. Saya menepi, lalu rebah di dipan pendek kosanmu. Kamu menyingkir sebab tahu badan ringkih saya suka merajuk. Ah, nona selalu ingat itu.

Dinding yang sama halangi angin malam menusuk kulit. Kita berdebat hebat tentang dialektika cinta. Sampai fajar. Lalu kamu kasih selimut saat saya pamit tidur. Rasanya mirip seperti ketika kamu datang bawa jamu penghilang batuk, kamu tahu saya benci obat kimia; serupa seperti tanganmu yang mengulurkan jus buah dalam botol saat saya terserang gejala typhus.

Buat kamu yang tak pernah lelah ajari saya hidup; yang tak lelah berjalan bersama si keras kepala; yang ingatkan besok Sahala kuliah pagi; yang suka meledek mesra kalau saya jatuh cinta

Sudah senja, banyak yang pergi. Kalau sempat bertemu saya angkat gelas buat kamu, buatkan racikan kesukaanmu. Nanti kita menyanyi lagi buat persahabatan, kenangan, hidup, dan buat mimpi-mimpi kita

Terima kasih, Nona Taman Feurbach…Sudah jadi sahabat, kakak, dan ibu kedua buat saya…