Tetirah Kebijaksanaan
Pemuda
itu mengganti posisi tubunya, kali ini berdiri setelah sejam
berjongkok membuat kakinya gemetaran. Putih pudar bajunya, celana
abu-abu gombrong yang pinganggnya agak turun, dan sepasang sepatu
converse tua ukuran 42 yang dikelilingi lakban hitam membungkus
kakinya. Apakah penampakannya sebegitu menarik
sehingga penjaga Gramedia tak mau melepaskan pandang darinya?
Penjaga itu adalah lelaki yang kemarin menegur si pemuda karena
membaca sambil berjongkok. Lalu-lalang pengunjung toko jadi terhalang
karenanya. Dan si penjaga sudah hapal betul jam-jam dimana si pemuda
membutuhkan pengawasan darinya. Pukul dua sampai pukul empat pada
senin, rabu, dan Jumat; pukul dua sampai tiga saban selasa, kamis,
sabtu. Hubungan yang aneh, keduanya tak saling mengenal nama.
Casio warna biru-hitam di tangan kiri sudah
menunjukkan angka 16:15. Saatnya menjabat tangan dan mengucap salam
perpisahan dengan Socrates, teman baru yang dikenalnya dua hari lalu
di sebuah lorong gelap, sempit, dan bercabang banyak bernama
filsafat.
Socrates adalah salah seorang warga Ionia yang menarik. Parasnya
tidak ganteng, berpadu dengan tubuh tambun-pendek. Kepalanya agak
botak. Selain bekerja sebagai tukang kayu, dia suka berjalan-jalan di
pasar dan tempat ramai, berbincang dengan para pemuda, serta
menelusuri seluk-beluk hal-hal yang sudah dianggap sebagai kebenaran
oleh para warga Ionia. Keisengannya itu, membuatnya tak disukai
banyak orang. Socrates menebar benih kegelisahan dengan
mempertanyakan segala sesuatu.
Si pemuda tercenung. Kabar diterima bahwa Socrates
diajukan ke pengadilan. Lebih dari setengah juri menganggapnya
bersalah, sehingga harus dihukum. Dua pilihan diajukan padanya:
ditebus dengan beberapa keping uang atau meminum racun hingga tewas.
Meski jumlah uang tebusan Cuma recehan saja buat Plato, muridnya yang
kaya raya dan ingin gurunya tetap hidup, namun dia memilih meminum
racun. Dia tak mengakui dirinya salah, dia tak menganggap
keisengannya menyebarkan ketidakpercayaan terhadap para Dewa dalam
pikiran para pemuda Ionia. Dia tak mau, tak mau menganggap itu sebuah
kesalahan lewat pertukaran uang dengan nyawa.
”Hidup yang tak terperiksa secara filosofis
adalah hidup yang tak layak dijalani,” (Socrates).
Seorang pahlawan kesepian yang namanya tak pernah tercatat dalam buku
sejarah, Ibrahim Datuk Tan Malaka. Lelaki monumental itu punya rahang
yang kuat dan bentuk tengkorak khas daerah Sumatra, tempat
kelahirannya. Seorang mahasiswa Filsafat Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, yang memerkenalkan Tan Malaka pada si pemuda. Dan
ternyata, kabar yang sama diterima, Tan Malaka mati ditembak di tepi
sungai Brantas, dibunuh manusia sebangsanya, bangsa yang
kemerdekaannya dia perjuangkan bertahun-tahun lamanya.
Dia memerjuangkan (ke)Merdeka(an) 100%
untuk Menuju Republik Indonesia, menolak jika negaranya
diperintah secara legal oleh pemerintah Belanda. Beliau percaya bahwa
aksi massa (Massa Actie) adalah jalan terjal yang harus
ditempuh masyarakat untuk merebut kekuasaan dan cara berpikir
MAterialise-DIalektika-LOGika adalah sarana untuk mencapai
kebebasan tersebut.
Usut punya usut, pikiran dan tindakan Tan Malaka
tak disukai banyak orang. Label Trotskyis diberikan rezim Soviet di
bawah Stalin yang menolak gagasannya untuk bekerjasama dengan gerakan
Pan-Islamisme yang sedang berkembang. Di dalam negeri, Tan Malaka
menolak gagasan partainya, Partai Komunis Indonesia, untuk melakukan
pemberontakan 1926. Masyarakat belum siap sehingga yang akan terjadi
hanyalah kekacauan (putsch), ramalannya terbukti benar.
Tan Malaka, tak seperti dwitunggal Indonesia
Soekarno-Hatta, konsisten pada prinsip non-kooperasi. Tak ada
kompromi dengan penjajah yang menancapkan kukunya di bumi Indonesia.
Tak ada kompromi pula dengan kapitalisme yang dengan kejam mendidik
manusia menghisap darah rakyat sebangsanya, lebih lagi darah sesama
umat manusia.
Friedrich Nietzche, seorang pemikir Jerman, pada
awalnya banyak memengaruhi Tan Malaka. Seorang pastor bernama Setyo
Wibowo yang pertama memerkenalkan filsuf berkumis lebat itu dengan si
pemuda. Selanjutnya, lewat St. Sunardi. Dan, bersabdalah Nietzche
lewat mulut Zarathustra.
”Aku adalah dinamit. Membuat manusia gelisah
itulah tugasku,” Nietzche memerkenalkan diri kepada si pemuda.
Wajah yang dingin, tatapan yang tajam serta kumis lebat menggantung
di atas bibir, sungguh bukan rupa yang ramah.
”Mari, kita arungi samudra luas tanpa satu pulaupun untuk berlabuh.
Kau harus punya rahang dan lambung yang kuat untuk mendengar
cerita-ceritaku,” entah hawa aneh apa yang merasuki si pemuda
sehingga mau mengamini ajakan Nietzche.
”Requiem Aeternam Deo (Semoga Tuhan
bersitirahat dalam kedamaian abadi), Gott ist Tot (Tuhan telah
mati), kamu, kita semua telah membunuhnya,” kalimat itu keluar dari
bibir Zarathustra, menyirap si pemuda.
”Yang indah bersua dengan bisikan, ia menyelinap ke jiwa-jiwa yang
paling waspada”
(Nietzche dalam Sabda Zarathustra)
Malam ini, tetirah dikenang. Saya
menulis pengalaman si pemuda persis seratus persen seperti yang
diceritakannya pada saya. Kadang, saya mencemoohnya, menghina
kelakuan busuknya mengorupsi filsafat. Ya, lakonnya memang begitu,
menggunakan filsafat tidak untuk mencari makna hidup. Demi
popularitas, demi penghargaan diri, demi kesenangan pribadi.
Terakhir kami bicara, dia banyak berubah, meski
kadang masih berlaku korup terhadap filsafat. Tapi, dia akui sedang
coba menghilangkannya. ”Saya ingin meghapuskan filsafat, saya ingin
mewujudkannya dalam kehidupan,” bibirnya bergetar, kepalanya
menunduk meningat betapa rendah kelakuannya kemarin-kemarin.
”Ya, saya ingin mewujudkannya bersamamu,” sekali ini saja dia
meminta, terlalu berat buat saya.
”Jika kita memilih posisi dalam hidup dimana
kita bisa bekerja untuk seluruh umat manusia tak ada beban yang bisa
menghalangi kita… selanjutnya kita akan merasakan kebahagiaan yang
tak sedikit, tak kecil, dan tidak hanya untuk diri sendiri,
kebahagiaan kita adalah kebahagiaan bersama jutaan orang. Perbuatan
kita akan hidup dalam ketenangan, namun terus-menerus bekerja, dan di
atas abu jasad kita akan menitik air mata orang-orang mulia” (Marx,
On The Choice of Profesion).
Adalah Marx yang membuat si pemuda kembali pada nilai-nilai agama
yang sejati, nilai-nilai kemanusiaan.
Jatinangor, 9-12 Desember 2007
December 14th, 2007 at 10:42 pm
yah, saya melihat pergulatan dalam diri anda. bermula dari konsep-konsep filasafat yang mengawang hingga pertautannya dengan gerak roda hidup sehari-hari. tentang Tuhan yang pergi meninggalkan pemuda itu ketika ditodong oleh pertanyaan-pertanyaan tentang-Nya.Tuhan tidak berpihak. Tuhan telah mati………. saya jadi ingat ucapan seorang pemuda lain: “sudah saatnya ditarik ke ranah konkret,” katanya. sudah saatnya meninggalkan pertanyaan tentang-Nya. sudah saatnya pula bagi kita untuk berbicara tentang dunia. dunia di depan kelopak mata kita yang kita hadapi sehari-hari . dunia yang konkret. semoga cita-cita anda, juga orang-orang yang peduli terhadap kehidupan yang memanusiakan manusia, dapat terwujud. amin ya robbalallamin.