Archive for December, 2007

Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan

Friday, December 21st, 2007

Sendal pijat dari kayu dengan tonjolan-tonjolan seperti barisan kapsul sebesar ibu jari, melayang. Berhenti dan jatuh di lantai setelah beradu dengan tembok kamar. Sedetik lalu melayang persis di samping kaki saya yang reflek melompat. Putaran tangannya, tangan ibu saya, masih hebat seperti ketika menyabet berbagai piala kejuaraan badminton, tenis meja, dan voli saat perayaan HUT RI beberapa tahun lalu. Ketepatannya belum berkurang, karena dia masih senang berlatih. Hanya saja, siang itu, saya bukan lawan yang ingin dikalahkannya dengan smash-smash tajam. Saya hanya anak nakal yang membuat kesal hati ibunya. Tubuh kecil saya bergetar setelah bunyi dakk akibat benturan sendal dengan tembok, ibu melengang pergi ke luar kamar. Meninggalkan sendal yang luput.

Lemparan itu menghilang ketika saya beranjak besar. Mengakrabi dunia coba-coba anak SMP. Bolos, merokok, alkohol Ibu tak pernah tahu kecuali hal yang pertama. “Aal, biar papa yang ngurus, mama udah nggak sanggup lagi,” intonasinya sama seperti tahun-tahun yang lalu. Kelopak mata saya basah, sesal tertunda menitik, air mata yang tak pernah ke luar saat lemparan barang luput atau tamparan keras memerahkan pipi saya. Malam itu saya memilih dilempar atau ditampar saja, jangan keluar kalimat itu dari mulutmu, ibu.

Dua puluh satu tahun lalu. Seorang perempuan dengan janin berusia sembilan bulan, jatuh dari becak. Kepalanya membentur bemper belakang truk. Beberapa jam kemudian sejarah tercatat: dari empat kali kelahiran, kali ini yang paling lama dan menyulitkan.

Tak pernah terpikir di otaknya, betapa sulit melahirakan dan membesarkan anak. Sepertinya lebih sulit dari tahun-tahun perjuangan beliau saat ditinggal ibu yang meninggal dan bapak yang dibui akibat tragedi politik paling kejam di Indonesia. Dia hidup bersama ibu tiri. Sampai dua puluh tahun kemudian bapaknya dibebaskan dengan tanda ET di Kartu Tanda Penduduk.

Pagi sebelum berangkat sekolah, nasi harus sudah masak. Sebuah sepeda tua dikayuh, menyusuri jalanan Jogja menuju sekolah tanpa sepeserpun uang saku. Kadang roda berhenti di sebuah kuburan Cina. Perempuan itu tertidur setelah sehari kemarin pekerjaan begitu berat. Mengaduk puluhan loyang kue, mencuci baju sendiri, membeli baju lalu menjualnya lagi.

Ya, sejak lama ibu berjualan pakaian. Karir yang sudah dirintisnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Umur dua belas, Surabaya dia datangi bersama adik lelaki yang umurnya masih enam tahun dan sekarung pakaian dari Ps. Beringharjo. Tak ada alamat lengkap, hanya petunjuk lisan menempel di ingatan. Modal yang kemudian digunakannya saat jadi kurir ke Jakarta.

Orang-orang Ps. Beringharjo, seperti juga pedagang Mester dan Tanah Abang, sudah pada tahu. Perempuan itu masih jualan baju sampai sekarang, untuk biaya sekolah empat anaknya.

Jadi penjaga karcis PJKA pernah juga dia jalani. Tak bisa dia jadi pegawai kantoran, cuma tamat SMA dengan angka merah berjejer di ijazah dan rapor. Ya, dia senang tidur di kuburan cina saat jam pelajaran.

Kesehatannya jauh menurun, dibandingkan ketika muda dulu. Ibu masih keras kepala jika diminta jangan bekerja terlalu berat. Semangatnya tak pernah mengkerut meski uban satu-satu memenuhi rambut. Dan kerut di wajahnya semakin nampak, aah saya ingat janji membelikannya Oil of Ulan jika dapat gaji pertama. Kerut-kerut yang nampak indah jika semua anaknya berkumpul saat liburan.

Dia tak pernah melempar sendal pada adik saya. Sesekali saja saya lihat air mata menitik membasahi pipi dan mukenanya di dua pertiga malam. Kepalanya menyandar di tembok, suara lirih, dan terbata. Di doa ibu kudengar ada namaku disebut.

Bogor, 21 Desember 2007

Bukan Kebahagiaan, Tapi Keajaiban

Thursday, December 13th, 2007

Sudara
tahu, saya kenal seorang perempuan dengan kemampuan ajaib? Ya, betul,
Anda tidak percaya? Dia bisa mencipta kebahagiaan dan kesengsaraan
dalam satu waktu. Jawaban dan pertanyaan dia hadirkan dalam satu
kalimat. Yang paling mengherankan adalah mukjizatnya yang menampilkan
harapan dan keputusasaan sekaligus dengan sekali petik jari saja, sim
salabim
.

Perempuan
itu berbeda dengan perempuan ajaib umumnya. Dia tidak bersayap, tidak
pula punggungnya bolong sebesar kepalan tangan. Oh, Anda kira dia
berjubah putih dengan tubuh melayang sejengkal dari tanah dan kepala
selalu menunduk yang ditumbuhi rambut panjang? Anda salah.

Sedikit saya gambarkan bagaimana rupa dirinya. Rambutnya panjang dan
agak bergelombang, setahu saya dia tak pernah mencoba membuatnya
lurus. Sekali pernah dia cat kecoklatan, dan saya keheranan
melihatnya, seperti kami berdua belum pernah kenal. Yang saya kenal
adalah rambut panjang yang diikat atau dikepang. Kadang dia membuat
dua kepangan, dan itu membuat sebuah gambar di otak saya.
Membayangkan dia menggunakan kebaya mengendong wadah cucian menuju
sungai terdekat.

Matanya
agak besar dengan hidung kecil-pesek di bawahnya. Tengkorak lancip
menopang keduanya. Dia punya bibir tak bisa dibilang mungil, namun
saya berani bertaruh Anda akan menyebutnya menarik. Apalagi kalau
sudah mendengar suara sumbangnya bernyanyi. Penyanyi karbitan yang
belum pernah sekalipun masuk dapur rekaman pun tak bisa dia kalahkan.
Dan memang, saya tak menunggu dia bernyanyi, saya menunggunya
berceloteh ria, mendedah kesepian dengan cericit kalimat-kalimat
ngawur.

Tubuhnya
kurus. Empat puluh dua kilogram, terakhir dia bilang. Meskipun saya
lebih lima kilogram darinya, dia tetap sebut saya teralu kurus.
Tingginya tak sampai setelinga saya. Andai dia lebih tinggi dua puluh
atau tiga puluh sentimeter, mungkin bisa jadi pramugari atau model
terkenal.

Kalau
sudara tak juga tertarik, berarti saya yang tidak cukup mahir
menggambarkan rupa si perempuan. Anda harus melihatnya sendiri. Ah,
andai Anda kenal dengannya dua atau tiga tahun lalu, Anda bisa
melihat tato temporer kecil bergambar kupu-kupu sedikit di atas mata
kakinya. Bentuknya tak jauh dengan gambar yang saya tempel di depan
kamar tidur saya, ukurannya saja yang berbeda.

Malam
itu, ketika bintang tak berpihak pada malam, sewaktu panas tak juga
menyulut cucuran hujan. Tanpa alunan biola, ataupun lilin-lilin yang
berderet. Kami berdua saja, di pojok kanan bangku halte kecoklatan
yang penuh coretan, di depan dinding yang ramai oleh tempelan pamflet
iklan. Sambil menopangkan dagu di atas telapak tangan kiri, mata
cekung saya menatapnya dalam. Ahh, dia tersenyum. Kami
bertukar senyum.

Dan,
sim salabim, abrakadabra, malam itu senyumnya mencipta
keajaiban, lagi…

Jatinangor,
10 Desember 2007

Tetirah Kebijaksanaan

Thursday, December 13th, 2007

Pemuda
itu mengganti posisi tubunya, kali ini berdiri setelah sejam
berjongkok membuat kakinya gemetaran. Putih pudar bajunya, celana
abu-abu gombrong yang pinganggnya agak turun, dan sepasang sepatu
converse tua ukuran 42 yang dikelilingi lakban hitam membungkus
kakinya. Apakah penampakannya sebegitu menarik
sehingga penjaga Gramedia tak mau melepaskan pandang darinya?

Penjaga itu adalah lelaki yang kemarin menegur si pemuda karena
membaca sambil berjongkok. Lalu-lalang pengunjung toko jadi terhalang
karenanya. Dan si penjaga sudah hapal betul jam-jam dimana si pemuda
membutuhkan pengawasan darinya. Pukul dua sampai pukul empat pada
senin, rabu, dan Jumat; pukul dua sampai tiga saban selasa, kamis,
sabtu. Hubungan yang aneh, keduanya tak saling mengenal nama.

Casio warna biru-hitam di tangan kiri sudah
menunjukkan angka 16:15. Saatnya menjabat tangan dan mengucap salam
perpisahan dengan Socrates, teman baru yang dikenalnya dua hari lalu
di sebuah lorong gelap, sempit, dan bercabang banyak bernama
filsafat. 

Socrates adalah salah seorang warga Ionia yang menarik. Parasnya
tidak ganteng, berpadu dengan tubuh tambun-pendek. Kepalanya agak
botak. Selain bekerja sebagai tukang kayu, dia suka berjalan-jalan di
pasar dan tempat ramai, berbincang dengan para pemuda, serta
menelusuri seluk-beluk hal-hal yang sudah dianggap sebagai kebenaran
oleh para warga Ionia. Keisengannya itu, membuatnya tak disukai
banyak orang. Socrates menebar benih kegelisahan dengan
mempertanyakan segala sesuatu.

Si pemuda tercenung. Kabar diterima bahwa Socrates
diajukan ke pengadilan. Lebih dari setengah juri menganggapnya
bersalah, sehingga harus dihukum. Dua pilihan diajukan padanya:
ditebus dengan beberapa keping uang atau meminum racun hingga tewas.
Meski jumlah uang tebusan Cuma recehan saja buat Plato, muridnya yang
kaya raya dan ingin gurunya tetap hidup, namun dia memilih meminum
racun. Dia tak mengakui dirinya salah, dia tak menganggap
keisengannya menyebarkan ketidakpercayaan terhadap para Dewa dalam
pikiran para pemuda Ionia. Dia tak mau, tak mau menganggap itu sebuah
kesalahan lewat pertukaran uang dengan nyawa.

Hidup yang tak terperiksa secara filosofis
adalah hidup yang tak layak dijalani,” (Socrates).

Seorang pahlawan kesepian yang namanya tak pernah tercatat dalam buku
sejarah, Ibrahim Datuk Tan Malaka. Lelaki monumental itu punya rahang
yang kuat dan bentuk tengkorak khas daerah Sumatra, tempat
kelahirannya. Seorang mahasiswa Filsafat Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, yang memerkenalkan Tan Malaka pada si pemuda. Dan
ternyata, kabar yang sama diterima, Tan Malaka mati ditembak di tepi
sungai Brantas, dibunuh manusia sebangsanya, bangsa yang
kemerdekaannya dia perjuangkan bertahun-tahun lamanya.

Dia memerjuangkan (ke)Merdeka(an) 100%
untuk Menuju Republik Indonesia, menolak jika negaranya
diperintah secara legal oleh pemerintah Belanda. Beliau percaya bahwa
aksi massa (Massa Actie) adalah jalan terjal yang harus
ditempuh masyarakat untuk merebut kekuasaan dan cara berpikir
MAterialise-DIalektika-LOGika adalah sarana untuk mencapai
kebebasan tersebut.

Usut punya usut, pikiran dan tindakan Tan Malaka
tak disukai banyak orang. Label Trotskyis diberikan rezim Soviet di
bawah Stalin yang menolak gagasannya untuk bekerjasama dengan gerakan
Pan-Islamisme yang sedang berkembang. Di dalam negeri, Tan Malaka
menolak gagasan partainya, Partai Komunis Indonesia, untuk melakukan
pemberontakan 1926. Masyarakat belum siap sehingga yang akan terjadi
hanyalah kekacauan (putsch), ramalannya terbukti benar.

Tan Malaka, tak seperti dwitunggal Indonesia
Soekarno-Hatta, konsisten pada prinsip non-kooperasi. Tak ada
kompromi dengan penjajah yang menancapkan kukunya di bumi Indonesia.
Tak ada kompromi pula dengan kapitalisme yang dengan kejam mendidik
manusia menghisap darah rakyat sebangsanya, lebih lagi darah sesama
umat manusia.

Friedrich Nietzche, seorang pemikir Jerman, pada
awalnya banyak memengaruhi Tan Malaka. Seorang pastor bernama Setyo
Wibowo yang pertama memerkenalkan filsuf berkumis lebat itu dengan si
pemuda. Selanjutnya, lewat St. Sunardi. Dan, bersabdalah Nietzche
lewat mulut Zarathustra.

Aku adalah dinamit. Membuat manusia gelisah
itulah tugasku,” Nietzche memerkenalkan diri kepada si pemuda.
Wajah yang dingin, tatapan yang tajam serta kumis lebat menggantung
di atas bibir, sungguh bukan rupa yang ramah.

”Mari, kita arungi samudra luas tanpa satu pulaupun untuk berlabuh.
Kau harus punya rahang dan lambung yang kuat untuk mendengar
cerita-ceritaku,” entah hawa aneh apa yang merasuki si pemuda
sehingga mau mengamini ajakan Nietzche.

Requiem Aeternam Deo (Semoga Tuhan
bersitirahat dalam kedamaian abadi), Gott ist Tot (Tuhan telah
mati), kamu, kita semua telah membunuhnya,” kalimat itu keluar dari
bibir Zarathustra, menyirap si pemuda.

”Yang indah bersua dengan bisikan, ia menyelinap ke jiwa-jiwa yang
paling waspada”

(Nietzche dalam Sabda Zarathustra)

Malam ini, tetirah dikenang. Saya
menulis pengalaman si pemuda persis seratus persen seperti yang
diceritakannya pada saya. Kadang, saya mencemoohnya, menghina
kelakuan busuknya mengorupsi filsafat. Ya, lakonnya memang begitu,
menggunakan filsafat tidak untuk mencari makna hidup. Demi
popularitas, demi penghargaan diri, demi kesenangan pribadi.

Terakhir kami bicara, dia banyak berubah, meski
kadang masih berlaku korup terhadap filsafat. Tapi, dia akui sedang
coba menghilangkannya. ”Saya ingin meghapuskan filsafat, saya ingin
mewujudkannya dalam kehidupan,” bibirnya bergetar, kepalanya
menunduk meningat betapa rendah kelakuannya kemarin-kemarin.

”Ya, saya ingin mewujudkannya bersamamu,” sekali ini saja dia
meminta, terlalu berat buat saya.

Jika kita memilih posisi dalam hidup dimana
kita bisa bekerja untuk seluruh umat manusia tak ada beban yang bisa
menghalangi kita… selanjutnya kita akan merasakan kebahagiaan yang
tak sedikit, tak kecil, dan tidak hanya untuk diri sendiri,
kebahagiaan kita adalah kebahagiaan bersama jutaan orang. Perbuatan
kita akan hidup dalam ketenangan, namun terus-menerus bekerja, dan di
atas abu jasad kita akan menitik air mata orang-orang mulia” (Marx,
On The Choice of Profesion).

Adalah Marx yang membuat si pemuda kembali pada nilai-nilai agama
yang sejati, nilai-nilai kemanusiaan.

Jatinangor, 9-12 Desember 2007

Cintaku, Cinta Konser

Thursday, December 13th, 2007

Jakarta
memang neraka, saya benar-benar merasakannya kali ini. Hari itu,
minggu, lazimnya orang-orang ibukota pelesir ke Puncak Bogor
atau Bandung sana, dan saya yang besar di Bogor lalu kuliah di
Bandung bisa melengang mulus di jalanan Jakarta tanpa terganggu oleh
kemacetan yang sudah rutin disini ketika hari kerja. Kenyataannya
tidak begitu.

Mobil
meninggalkan daerah Pancoran menyusuri jalan tidak seberapa lebar,
menuju ke daerah mana saya lupa. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul
tiga dan matahari masih galak seperti jam 12 tidak pernah beranjak
sedetikpun. Saya membuka kaus tipis yang apek karena dicumbui
keringat.

Bertelanjang
dada saya mengiringi Candil bersenandung, “kapan ku punya pacar,
kapan ku punya pacar,” dan drakk. Benjolan aspal membuat
bergetar pemutar compact disc Pioneer abu-abu 12 cd
yang dipasang di bawah laci mobil sebelah kiri. Lagu berhenti diganti
nada timur tengah mengalun tanda pesan singkat masuk ke Siemens
saya.

Haduh
knp dbliiin?yawda nanti gw gantiin ya say..jgn marah ya say
.”

gw
g btuh uang lu. Jrang2 gw maen k Jkt,qta kan udh lma g ktemu.Tpi,klw
mang g bsa g ush gnti duitny,gw g smiskin itu,non..hehe
” tombol
send ditekan.

Faktanya,
saya belum punya tiket. Taktik saja, supaya teman saya itu mau
menemani saya nonton acara musik Jazz yang rutin diselenggarakan
setahun sekali oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya
penggila reggae dan tak begitu menikmati Jazz. Tapi, saya penikmat
musik,\ apapun genrenya. Di Indonesia pagelaran Jazz yang tiketnya
dihargai puluhan ribu cuma ada sekali setahun, Jazz Goes to Campus.
Itu yang membuat saya mau jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk nonton
sebuah konser musik.

Langit
sudah ramah. Tidak panas tidak pula hujan. Mobil bergerak lagi, tanpa
nyala air conditioner kali ini, karena jarum penanda bensin
sudah sampai di titik E. Empty.

Pokoknya
ente harus lakuin itu. Ini kesempatan jarang. Ke Bogor pun ane anter.
Kalau ente sampai ga lakuin, ganti nih duit bensin,” gurau teman
saya mengancam sehabis mengeluarkan dua lembar ratus ribuan di sebuah
pom bensin yang letaknya dekat dengan bilangan Ps. Minggu. Ya, saya
ke Jakarta menumpang. Betul-betul baik kawan saya itu. Sudah
ditumpangi, mau mengantar ke Bogor pula.

Al,
gw udh di jln nech. Janji yah gw plgin jgn mlm2.awas loh..

nyawa
gw taruhannya,
” balas saya

Ba’da
Maghrib. Untuk menemukan tempat parkir teman teman saya sampai harus
memutar mobil tiga kali, sekali keluar UI lalu masuk lagi. Bahu jalan
sudah penuh dan kami menemukan sebuah tempat lowong di boulevard,
empat ratus meter dari gerbang, sekitar satu kilometer dari Fakultas
Ekonomi.

Al
beli ponstan
”, “Al beli aqua jg.cptn udah skt gi9i
bech…oia permen jg soalnya gw takut minum obat sndrian.he2 maap ia
kebnykn ia he2

Saya
masuk ke alfamart, beli sebungkus Djarum Super, sebotol aqua,
dan sebotol nuGrentea. “Ada ponstan, mbak?” saya
harap-harap cemas. Nihil. Lucu juga ada alfamart di dalam
kampus, di Unpad ini tidak (mungkin juga belum) terjadi.
Komersialisasi Kampus belum separah Jakarta dimana setiap hal diukur
dengan lembar-lembar uang. Bagus, berarti pedagang-pedagang kecil itu
masih bisa tetap hidup.

Seorang
wanita dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di atas meja yang
terletak di tengah-tengah area ticket box. “Tiket sold
out
,” ulangnya beberapa kali. Gimana ya, kacau ini, ketahuan
sudah bohong saya. Tidak ada tiket dan ponstan, saya harus ngomong
apa nanti.

Sekitar
sejam menunggu sambil duduk-duduk dan foto-foto, akhirnya kesepakatan
dicapai. Tiket Cuma ada satu. Teman lelaki saya menggunakan tiket
bekas, saya pakai tiket asli, dan teman saya yang perempuan sudah
punya cap di lengannya hasil dari menempelkan cap yang masih basah
dari adik kelasnya. Strategi berhasil.

Kami
bertiga berpisah di dalam. Teman lelaki saya langsung menuju main
stage
bersama dua orang lainnya, sementara saya dan teman
perempuan saya berdua saja. Jitu.

JGTC
dua tahun lalu tidak seramai kali ini. Sebuah neon box besar
bertuliskan Three Decades of Jazz Goes to Campus; Celebration of
Inspiration
terpampang di dekat bunderan FE yang ramai oleh
pengunjung yang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah bunderan,
lampu kelap-kelip diuntai seperti membuat rangka payung, mengelilingi
sebuah tiang tempat lampu warna-warni berbentuk huruf J-G-T-C
dipasang vertikal. Pawang hujan tampaknya sukses karena hujan tak
menambah semarak acara hingga penampil terakhir menyelesaikan lagunya
di pangung.

Laper
ni, cari makan dulu ya,” perut teman saya merajuk rupanya. Sepuluh
meter dari bunderan, stand makanan berjejer. “Jangan pancake, nggak
kenyang. Gw laper banget nih,” silahkan saja nona, malam ini semua
mau Anda saya turuti.

Gw
gak makan, kopi aja,” ujar saya sambil memesan segelas nesface
panas yang dijual di sebelah stand tempat teman saya memesan. “Gua
mau milo kaleng,” pinta teman saya sambil memesan makanan di
stand samping. Saya keluarkan selembar dua puluh ribuan dari saku
kanan dan membayarnya. Lima puluh ribuan terakhir saya ditepisnya,
dia yang membayar untuk dua porsi makanan yang terlalu mahal dihargai
Rp.26 ribu.

Umur
berapa lu mau nikah?” teman saya membuka pembicaraan sambil menyuap
sendok kesekian melewati bibir merah jambunya. Saya keget namun
mencoba tersenyum. Seperti berkah yang datangnya terlalu cepat,
berkah yang jadi bencana.

Hmmm,
nggak tau. Gw gak suka menargetkan hidup. Selama gw senang hari ini,
hari besok gak dipikirin. Cukup. Gw lebih senang begini, hidup bebas
dari target,” sebisa mungkin saya cari kalimat yang pas sambil
pikiran saya menerka apa yang ada di balik pertanyaan tersebut. Suara
penampil dari main stage terdengar, “lagu berikutnya tentang
seorang pria yang setia dengan janjinya”.

Aduh,
dia tanya soal hubungan. Tanya saya sejarah pers Indonesia, kita bisa
semalaman membicarakannya, tapi jangan soal hubungan karena saya
belum punya jawabannya. Saya tak berminat membahasnya denganmu, nona.
Dan kamu, pasti tak berminat membahas beberapa kesalahan Pramoedya
mengurai sejarah Tirto Adhisoerjo dalam tetraloginya. Yah, kita
memang berbeda. Kupikir, aku yang selalu mencoba menyesuaikan diri
denganmu meski ketakutan itu terus menetak. Kenapa kau gerus
keindahan malam ini dengan pertanyaan macam itu.

Sudahlah,
bung, jangan dibiarkan terus gelisah itu berkecamuk, nikmati saja
malam ini. Huff, untungnya dia tak tahu probbing dan tak
memberondong saya dengan dengan pertanyaan lanjutan.

Setengah sebelas malam, mobil menyusuri aspal basah tol Jagorawi yang
terus didera hujan. Setengah jam berikutnya mobil menyusuri
jalan-jalan kecil di sebuah kompleks perumahan elite Bogor. Saya
masih hapal jalan tikus disini meski sudah setahun lebih tak
melewatinya.

Kompleks
elite nih. Orang-orang kaya Bogor tinggal disini. Cuma ada tiga
kompleks perumahan elit di tengah kota Bogor: ini, daerah Dadali,
sama Taman Kencana. Ki Gendeng Pamungkas tinggal di daerah sini,”
tukas saya pada teman lelaki yang sedang memegang kemudi.

Apaan
sih lu. Biasa aja kali, lu selalu gitu,al. Pehitungan sama gw,”
teman perempuan saya yang duduk di jok belakang langsung emosi
dibilang tinggal di kompleks perumahan elite. Dia memukul-mukul tubuh
dan kepala saya yang duduk persis di depannya.

Buat
nelpon Dewi bisa, ko gw nggak? Sakit hati gw,” saya tak bisa
melihat ekspresinya ketika bicara seperti itu. Saya tak tahu teman
perempuan saya itu serius atau tidak.

Saya
ingin mejawabnya ketika kita berpisah di pagar rumahmu, tapi tak tahu
harus dengan kalimat seperti apa. Pun bapak-bapak itu, yang
nongkrong-nongkrong di depan pagar rumahmu, kehadirannya betul-betul
menganggu saya.

“Gimana nyong?” teman lelaki saya rupanya sudah tak sabar
mendengar kalimat yang saya katakan waktu mengantar teman perempuan
saya masuk ke rumah.

“Dia nanya gw balik ke Bogor ngak Minggu depan, pengen ngajak jalan
lagi. Gw bilang ‘iya’. Ketemu lagi minggu depan. Masih memesona
dia,” jawab saya seadanya.

U
make a dark nite so wonderful, thx..hehe. Jgn mrah yak, tdi gw boong
udh pnya tiket spaya lu mw dtg
,” saya kirim pesan singkat
sebagai tanda terima kasih kepada perempuan itu.

Saya
khusyuk di depan komputer. Main Football Manager 2008 sambil
mendengarkan mp3 dari Winamp. Cinta Sudah Lewat-nya
Kahitna dapat bagian bersenandung beberapa saat setelah Kencan
Pertama
dan Jikalau-nya Naif. Dia dan janji itu masih
membayang meski pertemuan itu sudah lewat seminggu. Saya tak menepati
janji yang diucap seminggu lalu.

Berikan
aku senyuman satu malam saja, jangan kau tawarkan sebuah hubungan,
nona
,” saya ingin jujur padanya. Kalimat itu ingin saya
bisikkan ke telinganya yang berpahat giwang bundar biru muda malam
itu. Andai, andai saja malam itu kau mencecar terus, kukeluarkan
kalimat pamungkas itu.

Jatinangor, 4 Desember 2007