Tentang (About, Not Against) Ibu

Waktu kunjungan sudah berakhir dua jam lalu. Lorong Rumah Sakit sepi. Tas berisi satu stel pakaian ditambah sebuah sajadah yang dilipat mengganjal leher saya. Tubuh rebah di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat-hijau. Suara lirih merebut perhatian yang tadinya saya curahkan untuk membaca.

Suara tersebut berasal dari kamar sebelah. Tirai hijau menutupi pandangan saya ke sumber suara. Memejamkan mata, mencoba memperkuat pendengaran saya. Lantunan indah Mazmur, salah satu bagian dari Injil, mengalun. Saya ingat beberapa potongan favorit saya. Lirih namun pasti. Dari mulut seorang ibu Sabda paling nikmat untuk didengar. Setidaknya saya pernah merasakan itu.

Beberapa kali saya dirawat di Rumah Sakit. Hanya sekali saja ibu tak duduk dengan sabar mendampingi di samping ranjang tempat saya terbujur lemah—ketika itu ibu sedang berada di luar kota. Seringnya beliau memijit dan mengusap kaki atau tangan. Lebih sering lagi membaca Quran untuk menenangkan hatinya dan saya. “Istighfar, al,” kalimat tersebut berulang masuk ke telinga.

Pernah suatu kali saya mendapat kecelakaan. Tak parah karena tak sampai dirawat. Masih dalam keadaan sadar melihat langsung tindakan dokter menjahit luka sobek mengangga di beberapa bagian tubuh. Begitupun ketika selesai, masih sanggup berjalan tegap. Ibu baru datang beberapa menit kemudian. Berjalan agak limbung menghampiri saya. Tubuh masih kuat menahan sakit, namun hati segera luluh oleh dekapan dan tetes air yang membasahi tertahan di lipatan kelopak mata ibu. “Mama hampir jatuh dengar kamu kecelakaan,” bisiknya lirih sambil terus mendekap saya.

Ketika pulang ke rumah ibulah yang paling mengerti saya. Kehabisan rokok, dia belikan; makanan favorit dia buatkan—beliau jarang lupa memasakkan udang goreng tepung ketika saya berada di rumah; kopi, dia siapkan segera ketika saya mengabari akan pulang. Tetap saja dia menasihati, “kurangi rokok dan kopimu.” Saya tak menganggapnya gangguan, toh dia tak pernah lupa membelikan rokok dan kopi. Nasihat adalah bukti kasihnya. Sekedar catatan, ibu saya juga penikmat kopi dan rokok dengan merek yang sama seperti saya.

Saya anak kurang berbakti. Ketika itu, sabtu malam, telepon saya terima di kosan. Suara ibu terdengar kecewa karena saya tak pulang. Besok ada pengajian untuk mendoakan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah. Gusar hati mendengarnya, saya mengecewakan ibu.

Banyak rasanya perlakuan kurang menyenangkan saya terima. Tapi, tak baik kalau ditulis. Hanya menghabiskan waktu dan membuat penyesalan saja. Saya yang salah maka ibu berlaku seperti itu. Kekecewaannya pada anak lelaki tertua dalam keluarga terus coba dia singkirkan. Sepenggal kalimat keluar dari mulutnya sore itu, setulus Mazmur, “tempat mengadu terbaik bukan pada teman, tapi orangtua. Mereka selalu ingin yang terbaik buat anaknya, maka tak mungkin menjerumuskan kamu.”

Ahh, aku lebih menyukai tidur di rumah. Disini, di kosan, tak ada pagi dimana kau masuk ke kamarku dan memeriksa kantong depan tas, mencari sebatang rokok. Tak ada kau yang membangunkan aku dan bertanya, “al, mana rokok? mama bagi sebatang”.

Jatinangor, 01 Februari 2007

Leave a Reply