Suatu Malam Dari Jalanan Jogja
Masih dalam mood kemana angin berhembus malam kemarin. Sedikit uang di dompet dan sepeda gunung kepunyaan kakak—dia pulang-pergi kampus bersepeda—teronggok manis di teras rumah. Saya putuskan menelusuri jalan besar Yogya dengan tas punggung di belakang, berselimutkan jaket kebesaran berwarna hitam pudar dan celana jeans selutut. Tanpa tujuan pasti.
Sepeda malam sudah dijalani beberapa tahun belakangan. Sebenaranya tidak melulu malam. Ada masa seperti liburan panjang dan idul fitri, dimana siang hari jalanan begitu padat dan keramaian lalu-lintas harus diakali dengan menggunakan sepeda onthel tua warisan kakek. Hal yang menyulitkan karena sepeda ini menggunakan rem torpedo, bukan rem tangan. Jadi, sekarang pilihan jatuh pada sepeda gunung yang lebih aman dan tak menyulitkan.
Tak punya Surat Izin Mengemudi jadi alasan lain bersepeda. SIM saya hilang bersama dompet dan kartu identitas lainnya. Untungnya aturan harus membawa STNK dan SIM bagi pengguna sepeda di Yogya sudah berakhir puluhan tahun lalu. Sekarang, sepeda anti tilang dan anti kemacetan.
Cukup sudah penjelasannya, sekarang kembali ke sepeda malam. Sepeda mulai dikayuh. Roda berputar melabas gang kecil sebelum menuju jalanan besar. Citt, rem berderit ditekan. Tengok kiri-kanan. Ohh, sepi, baguslah.
Mulai masuk ke jalanan besar. Pertama melewati jembatan besar di atas kali code. Ketika kecil dulu saya senang mencari udang atau ikan kecil di balik bebatuan sungai ini. Airnya jernih dan tidak dalam, kecuali di musim penghujan dimana lumpur terbawa arus besar. Pinggiran sungai terbebas dari sampah meskipun rumah-rumah penduduk didirikan di sana. Mereka punya sertifikat sehingga bebas gusuran, tidak seperti bantaran Ciliwung.
Jembatan ini termasuk baru. Ketika ayah berkuliah dulu belum berdiri. Untuk mencapai kampus Universitas Gadjah Mada, beliau harus memutar dulu lewat tugu. Sekarang kakak dan adik perempuan saya yang satu almameter dengan ayah melewati jembatan ini menggunakan bis atau sepeda untuk mencapai kampus.
Menanjak beberapa puluh meter sepeda dikayuh ke arah timur memasuki gang kecil. Memotong jalan. Tembus di jalan raya C. Simanjuntak. Sempit sekali jalanan ini untuk ukuran keramaian yang mewarnai kesehariannya. Pun banyak mobil parkir di pinggiran menambah sesak lalu lintas. Sebagai catatan saya pernah dua kali celaka di jalan ini. Pertama diserempet sampai jatuh dari motor dan lecet-lecet dan yang terakhir tak sampai membuat saya jatuh, hanya setang motor agak bengkok saja.
Sampai pertigaan, berbelok ke kiri melewati jajaran pedagang buku daerah Terban. Ada dua puluh lebih kios disana. Daerah ini menjual textbook kuliah bajakan. Konon mendapat restu Sultan pula. Di kota dimana buku diskon bertebaran, pedagang Terban termasuk yang menjual buku paling murah selain shoping book center di pojok jalan Malioboro. Adik saya membeli kamus Inggris-Indonesia Hassan E Shadily lima belas ribu perak saja. Anda boleh bandingkan dengan harga di Gramedia.
Kalau mampir sempatkanlah waktu agak banyak agar teliti memilih buku. Dan Anda akan menemukan buku yang sudah agak sulit didapat. Saya berhasil menemukan Serbia Calling dan Mao Zedong; Manusia bukan Nabi, ramadhan dua tahun lalu. Dua buku yang sudah lama dicari-cari.
Kembali ke perjalanan. Di pertigaan kampus UII sepeda berbelok ke arah selatan menuju SMAN 3 Yogya. Padmanaba nama kerennya. SMA terbaik di kota pelajar. Sebenarnya saya berniat mengunjungi sebuah warnet di pojok perempatan bangjo (abang-ijo, merah-hijau, sebutan orang Yogya untuk traffic light). Tapi lampu berwarna hijau dan sepeda saya pacu saja menerabas. Benar-benar kemana angin berhembus.
Beberapa banggunan saya lewati. TB Gramedia, Gedung Kompas, dan kantor Televisi Lokal JogvaTV. Sepeda saya lambatkan untuk menengok spanduk agenda di depan gedung Kompas. Sebuah perpustakaan milik Dorothea Rosa terjepit di tengah-tengah. Perpustakaan murah. Untuk menjadi anggota cukup bayar sepuluh ribu dan iuran bulanannya lima ribu saja. Bebas pinjam buku tanpa bayar lagi dan jangka terlama peminjaman adalah tiga puluh hari tanpa memertimbangkan ketebalan halaman. Dulu, ketika masa bimbel menuju SPMB saya jadi member dari sering main kesana.
Perpustakaan ini juga menjual buku. Untuk salah satu penerbit diskonnya mencapai tiga puluh lima persen. Perjumpaan saya dengan Menolak Tunduknya FX Rudi Gunawan, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul berawal disini.
Beberapa ratus meter di depan ada sebuah gelanggang olah raga. Temboknya yang kukuh penuh dihias gambar-gambar grafis. Menceritakan resahnya zaman. Dari anti narkoba sampai kegiatan olahraga betulan yang digantikan olahraga bohongan di Playstation.
Bukan disini saja Anda bisa melihat gambar-gambar grafis. Hampir di tiap sudut kota. Temanya macam-macam pula. Ada cinta, pergerakan, industri, sampai kehidupan. Favorit saya ada dua. Satu di gang parkiran samping mall Malioboro yang menggambarkan polusi industri—anggota greenperace dan earthworker harus melihatnya. Lainnya di perempatan dekat rumah saya yang menceritakan homogenisasi dan hidup yang semakin menjepit manusia. Beberapa manusia otaknya dihubungkan oleh sebuah kabel, diatasnya tertulis manis ”Oalah, Urip Soyo Angél—Oalah, Hidup Makin Susah”. Sampai sekarang keinginan saya memotret semua gambar grafis itu belum terpenuhi.
Sekarang mengayuh lagi. Kali ini dipercepat, balik arah ke tempat tadi menuju warnet. Sepeda meluncur elegan. Dengan flamboyan berhenti di parkiran motor. Tak ada parkir sepeda disini.
Berseluncur di dunia maya sekita dua jam. Waktu di Handphone menunjukkan angka dua belas lebih sedikit. Saya membayar lima ribu dan kebingungan mendapati sepeda sudah menghilang.
Dipindahkan ke tempat lain oleh tukang parkir rupanya. Tak elok bersanding dengan sepeda motor, mungkin. Ketika mengambil sekeping lima ratusan untuk uang parkir langsung ditolak mentah-mentah. ”Bawa aja mas,” sahut tukang parkir. Cih, penghinaan!!! Baiklah, tak apa.
Saya belum tahu tujuan selanjutnya. Tugu mungkin ramai. Langsung saja menuju kesana dan ternyata tak seramai yang dikira. Tugu ini terletak di sebuah perempatan besar. Utara menuju Kaliurang; selatan ke Malioboro, Kraton ,dan Parangtritis; Timur arah Prambanan dan Solo, Barat menuju kampus Muhammadiyah. Kalau di peta turis, ditunjukkan garis lurus yang menghubungkan kraton, tugu, dan kediaman mbah Maridjan di Gn. Merapi. Ada unsur mistisnya, konon. Anda percaya? Saya tidak.
Binggung mau kemana lagi, saya memustuskan pulang. Sebelumnya cari angkringan dulu untuk mengobati lapar dan dahaga. Gampang saja menemukannya. Angkringan favorit saya letaknya di bundaran UGM dan sebelah stasion tugu. Yang di UGM sudah tutup dan dekat stasion tugu sudah habis persediaan jam segini saking ramainya. Jadi saya pilih yang dekat rumah saja.
Angkringan dekat rumah, sekitar lima puluh meter rasanya. Ibu penjualnya sudah kenal baik, beberapa pengunjungnya juga. Ada yang kenal ayah saya malahan. Kalau sudah begitu rikuh jadinya. Tanya kabar ayah lalu cerita masa lalunya sebagai teman sepermainan. Ayah tidak suka berkelahi, penakut dan kalahan. Tapi jagoan bermain kelereng dan sering menang.
”Saya sering main ke Bogor, tapi mau mampir ke rumahmu malu,” ujar salah seorang teman ayah suatu malam. Memang begitu kebanyakan. Teman ayah beragam profesinya. Dari tukang parkir di pasar, penarik becak, dan semacamnya. Kalau ketemu disapa, ngobrol dan lalu memerkenalkan saya, anaknya.
Di angkringan saya kurang suka kalau ada mereka. Tak bisa merokok jadinya, tak bebas bercanda dengan teman pula. Nanti diceramahi pula, kalau bapaknya orang baik dan tak merokok masak anaknya begini?
Paling ramai kalau pengunjung mulai pasang togel. Ngala Berkah, disebutnya. Pemuda sampai orang tua ikut semua. Dari yang asal menebak sampai pake perhitungan segala. Bandar disini namanya mbah Halo, meninggal ramadhan kemarin. Kalau bertemu orang selalu menyapa dengan kata ’Halo’ jadi disebut begitu. Kemana-mana naik sepeda onthel. ”Nafasnya pendek, tapi umurnya panjang,” kelakar orang tentang dia.
Walau meraup untung besar tiap malam tapi mbah Halo tak kaya-kaya. Hasil penjualan togel dia pake lagi untuk judi. Runyam karena sering kalahnya. Sekarang togel sudah tak ada. Habis digerebeg dan saya merindukannya. Bukan rindu untuk masang, tapi suasananya yang cair.
Musim bertukar zaman berganti. Banyak yang berubah. Kehilangan dan perjumpaan. Namun, malam Jogja masih tetap nkmat untuk bersepeda. Setidaknya sampai kemarin malam. Berharap saja, pedagang buku Terban tak hancur digilas kapitalis besar; agkringan tak habis dilahap restoran yang mulai bertumbuh; dan grafis di tembok kota masih bersuara mengumandangkan gelisah masyarakat urban. Sampai jumpa. Mudah-mudahan kita berjodoh lagi lain waktu dan kisah tentang sudut-sudut Jogja tentu akan berbeda.
Jogja, 3 September 2007
April 18th, 2008 at 6:13 am
hoohoo… kok gak ada gambarnya daun marijuana ya??
cari tuh gambar malah nyasar ksini… hhehhhehh
ngerjain tugas g’selesai dehh… gambarnya g’aDa…
hweee :p
thx…uDh bLh nuMpan9 leWaT…
xiixixi xD