Archive for September, 2007

Sekarang, Buat Bapak

Saturday, September 29th, 2007

Pembicaraan biasanya tak jauh-jauh soal keuangan. Uang bulanan habis sebelum waktunya, atau fotokopi dan tugas ini-itu butuh dana. Hubungan saya dan bapak memang tak terlalu baik. Setidaknya jika seringnya komunikasi dijadikan ukuran. Mungkin gengsi seorang lelaki yang membuat saya mencoba menghindari pembicaraan dengannya. Penyebab lainnya, bapak orang yang terlalu serius dan kaku menghadapi hidup. Begitupun kalau beliau bicara, penuh tetirah mengenai cara hidup sukses. Beda dengan saya yang lebih sering bermain-main dengan pilihan dan tak begitu suka dengan ukuran ‘sukses’ bapak.

Tapi, kemarin dulu tulisan untuk ibu sudah dibuat. Diposting di blog baru beberapa bulan kemudian karena isinya terlalu sentiimentil. Rasanya tak adil kalau bapak tak ditulis juga.

Banyak orang yang sudah kenal bapak sejak masa muda, bilang kami berdua punya muka serupa. Saya tak pernah percaya sampai suatu ketika membuktikannya sendiri. Sebuah ijazah SMA dengan pas foto hitam-putih di pojok kanan bawah, diperlihatkan pada saya. Ternyata betul yang dikata orang.

Wajah kami memang mirip, tidak begitu dengan sifat dan perilaku. Bapak anak baik yang jarang, atau bahkan tak pernah, berbuat onar. Tak pernah saya dengar cerita macam begitu, dari mulutnya atau dari mulut orang lain. Kalau orang cerita, bapak jadi sosok anak muda yang ideal di mata mereka. Dia anti kenakalan remaja.

Masa mudanya dihabiskan dengan belajar dan bekerja. Dua itu saja. Hidup tanpa ayah membuatnya jadi seorang remaja pekerja keras. Mulai bengkel motor sampai dagang asongan. Sampai sekarang berbagai keahlian masa muda itu, beliau belum lupa. Mengecat rumah, memerbaiki instalasi listrik, mengencangkan rantai motor yang kendur, dikerjakan sendiri kalau ada waktu luang. Kalau saya sedang di rumah, diajarkannya keahlian-keahlian itu supaya pekerjaan bisa dilimpahkan.

Bapak tak begitu pandai. Nilai ijazah SMA-nya tak menonjol. Isinya Cuma angka enam dan tujuh. Jurusan Kimia Universitas Gajah Mada dipilihnya untuk melanjutkan studi. Lulus delapan tahun!

Beliau lalu cari kerja. Impiannya: TELKOM. Teman seperjuangannya diterima, dia tidak. Melanglangbuana sampai terdampar di sebuah perusahaan

Korea

. Gajinya boleh dibilang tinggi untuk ukuran tahun 80-an. Dia memilih keluar kemudian. Bukan lantaran tak puas dengan gaji, tapi karena emoh jadi kacung orang asing. Sempat ditawar mengajar kimia di SMA Al-Azhar pusat. Dia tolak lagi. “Ngajar anak SMA ngak berkembang ilmunya,” begitu kilahnya.

Pemberhentian terakhir di sebuah akademi kimia yang berlindung di bawah Departemen Perdagangan dan Perindustrian. Letaknya di Bogor. Bapak jadi dosen, sampai sekarang dengan upah tak seberapa besar. Konon hanya berbeda beberapa ratus ribu saja dengan saudara-saudara saya yang jadi guru SD di Jakarta. Saya tak pernah mengeceknya meskipun memerlihatkan slip gaji itu kebiasaan di keluarga saya. Dulu, buat saya pilihan-pilihan yang bapak buat mengenai pekerjaan terdengar aneh. Sekarang saya maklum. Dalam kasus ini, Bapak termasuk orang yang mengajari saya bersikap.

Universitas

Indonesia

, almameter Bapak yang kedua. Mendalami Kimia Anorganik (sampai sekarang saya tak tahu betul apa yang dipelajarinya). Saya sudah lahir dan baru berumur beberapa tahun ketika itu. Walau sudah kerja, nampaknya keuangan keluarga banyak dibebani dengan studi Bapak. “Dosen pembimbing sampai kasih uang buat ongkos pulang sehabis sidang tesis di Salemba,” ratapnya.

Umur Bapak sekarang sudah kepala

lima

. Tiga anaknya masih kuliah dan satu masih SD, makanya beliau masih harus bekerja keras dari satu kampus ke kampus lain. Hari Minggu pun tak luput dari mengajar. Motor bebek tahun 96 jadi teman setianya.

Waktu luang dia pakai main Badminton. Seminggu bisa sampai tiga kali. Kalau sore hari ada di rumah, biasanya sibuk merawat tanaman. Dia suka bungga anggrek. Anggrek pertamanya mati di tangan saya—karena tak dirawat meskipun sudah dititipkan—ketika beliau pergi Haji.

Bapak punya harapan besar untuk anak lelaki pertamanya, saya. Dia tampak girang sore itu, saya bilang “mau jadi Dosen, seperti Bapak”.

Cikeruh,

26 September 2007

Perjalanan: Sebuah Pengakuan

Saturday, September 29th, 2007

Zaman bertukar musim berganti, manusia pun berubah. Betul memang, tak ada yang hadir tanpa penyebab. “Ting” seperti sulap itu omong kosong saja.

Masa lalu saya terselip dalam lembaran-lembaran binder tua. Catatan ini, secara lengkap ataupun secuil saja, baru dua orang yang dipersilahkan membacanya, Nona Feurbach dan si Pengeluh. Nona Feurbach mendorong saya untuk mempublikasikannya. “Usaha untuk menghargai proses dan dialektika,” begitu ujarnya. Tapi  tetap saja tak ditulis ulang semuanya. Alasannya, antara malas dan malu.

Sedikit catatan dari masa lalu. Pengharapan dan pertanyaan tentang masa depan.

?????

I.       Masa SMA

Hidup saat ini menjadi hanya seperti sampah. Terlalu banyak kesenjangan, diskriminasi, penindasan, dan kecurangan berkedok malaikat. Dunia menjadi terlalu sempit untuk perubahan. Tak ada kesempatan, yang ada cuma uang dan kekuasaan. Orang-orang kaya terlalu sombong untuk mau berbagi.

Terlalu lama dan mustahil untuk kaum tertindas menunggu campur tangan negara. Politik hanyalah politik. Hanya politik dengan omong kosong di dalamnya yang benar-benar menjadi sebuah politik. Dalam siding-sidang negara hanya ada BULLSHIT!!!! Taka ada jalan untuk rakyat kecil selain bergerak sendiri, do it yourself. Bangkit dan bersatu demi masa depan yang lebih baik

Bogor

, 9 Desember 2003

22.03

sedih juga lihat berita Alm. Ersa Siregar. Orang yang punya idealisme dan dedikasi tinggi buat pekerjaannya. Salut buat beliau. Dia bekerja tak hanya dalam lingkup Jurnalistik, tapi juga respek sama penderitaan di daerah konflik. Bisa ngak gw kaya beliau? Gw rasa anak-anaknya bakalan bangga punya ayah sehebat dia yang peduli banget sama anak-anaknya, sampai sampai nyempetin diri nelpon buat nanya SPMB (walau dari daerah konflik, lagi ditahan GAM). Buat gw hal-hal seperti itu punya influence besar, karena gw juga pengen jadi wartawan.

Yang jelas, gak peduli nanti jadi apa, yang gw harus ambil sisi positif beliau: dedikasi tanpa kenal rasa takut. Terakhir gw Cuma bisa berdoa mudah-mudahan Allah menempatkan Alm Ersa Siregar dalam golongan orang-orang yang Ia cintai…amin

Malem Rebo, 30 Des 2003

9.24 Waktu kamar

Hari dengan kemunduran semangat! Hidup semakin berat dan mulai tumbuh rasa frustasi. Banyak perjuangan yang berakhir sia-sia. Hasil yang gw terima sering jauh dari harapan. Mimpi terbentur kenyataan. Buat bangkit boleh dibilang susah karena cuma secuil semangat yang tersisa dalam dada!!

Lelah rasanya ngejalanin hidup yag monoton. Gw butuh perubahan; gw butuh menikmati hidup gw sendiri; gw bosen jadi beban orang lain. Tekanan-tekanan harus bisa gw jadiin semangat

GET UP STAND UP, STAND UP FOR YOUR LIFE

Senin,150304

20.10

Ga ada hal yang cukup penting dan ngeganggu, ordinary day. Hal-hal mulai bersahabat. Mungkin karena depresi mulai berkurang. Semangat baru tumbuh seiring usaha buat keluar dari keadaan yang ngak bersahabat.

Hari ini gw selesai baca buku Kromo Kiwo, Mereka yang Tak Pernah Menyerah, yang gw beli kemaren. Hal-hal yang bisa gw tangkep:

  1. ….
  2. isinya keren karena ceritanya tentang eks-Tapol dan seputar basis PKI di Yogya.
  3. pledoi orang-orang yang pernah jadi korban politik Orde Baru
  4. … (bagian ini agak berbau SARA, jadi tidak dicantumkan…hehe)
  5. ngajarin bahwa ada resiko yang harus kita tanggung terhadap jalan dan pilihan hidup yang kita ambil.

Tapi satu yang masih jadi pertanyaan mendasar, walau gw udah baca beberapa buku pro-kontra PKI: “sebenernya PKI itu bersalah atau tidak (mungkin yang saya maksud waktu itu dalam konteks G30S).

Bisingnya hidup coba kurenungi dalam hening. Menyedihkannya diriku coba kutulis dalam kata yang jauh dari dusta. Hanya lembaran-lembaran yang mungkin 10 tahun lagi aku lupakan yang tahu jelas diriku saat ini. Allah tahu aku coba berubah, Allah pun tahu diriku lebih dari diriku sendiri. Kuharap besok lembar-lembar ini masih bisa jadi koreksi bagi diriku; bercerita tentang sukses, bukan lagi kegalauan. Kuharap esok tangan ini bisa menghasilkan hal-hal yang berguna. Amin.

Rabu, 170304

21.26-21.59

II. Legegnya (Sombong) Mahasiswa Semester Awal

Aku temukan bahwa aku menunggu untuk disingkap. Untuk ditelanjangi oleh waktu segala kebohonganku. Untuk diotopsi kepalsuan yang merasuk sampai ke tulang-tulangku…

Aku temukan bahwa aku terasing. Keterasingan yang membuatku berdiri di atas pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensiku. Keterasingan yang menghadirkan pertanyaan akan masa datang di depan wajahku. Secuil pun aku belum bisa bayangkan seperti apa…

19 ke depan tentunya akan berbeda. Aku harap aku lebih siap ditelanjangi. Lebih bisa menghargai keterpisahan melalui sebuah penyatuan. Lebih mampu menjawab 19 lain yang berdiri di depan wajahku…

Aku kini 19 langkah mendekati penyatuan…mudah-mudahan.

Ps: semakin hari aku semakin tak menemukan makna esensial Hari Ulang Tahun. Buatku ini hanyalah satu keanehan masyarakat…

14 Juli 2005

perihal sesat atau bukan, menyesatkan atau tidak, saya artikan itu sebagai kuasa kita untuk menulis sejarah…ada hal yang kadangkala perlu kita lebihkan, kurangkan, manipulasi, semuanya demi kenyamanan, kelangsungan hidup kita. Walaupun Tuhan memanifestasikan dirinya dalam ruh, jiwa, atau lembaran-lembaran suci, selalu ada usaha untuk memertanyakannya. Tapi, apakah suatu sistem kepercayaan (Agama misalnya) begitu berpengaruh terhadap hubungan manusia dengan Tuhan? Apa jiwa, ruh, rasio begitu liar dan tak terarah dan membutuhkan suatu pagar agar ia tetap berada dalam tempat yang semestinya…

Bogor

, 19 Juli 2005

Dinihari

Ada

seorang kawan yang mengirim pesan singkat ke HP saya. Isinya secara garis besar adalah bahwa sosialisme bukan sebuah mimpi. Ia juga menulis bukan tak banyak orang miskin, dan sosialisme bukan tidak ada arti…

Saya kembali bertanya tentang sosialisme. Ketakpercayaan terhadap bentuk ideologi apapun saat ini, membuat saya ingin menyumpahi bentuk apapun ideologi. Bukankah ideologi hanyalah class-idea dari ruling class? Toh selalu muncul sempalan-sempalan yang mewarnai sejarah ideologi – bukti bahwa ideologi cuma berhala yang disembah dan bukan hal yang absolut. Bukankah kekuatan ideologi terletak pada struktur, bukan kemasukakalannya. Itu adalah bukti bahwa ideologi menyuntik kesadaran kita untuk ikut dalam struktur dan meminggirkan keunikan kita demi kepentingan ‘bersama’ atau kepentingan ruling-class yang termaktub dalam ideologi

Ya, mungkin ini karena kurang wawasanku dibanding temanku tadi…

010805,

Bogor

,

21:35

…Mungkin saja ketakutan, kecemasan, lahir dari ketidapasrahan saya pada tindakan. Belum sempurnya kesadaran pada tahap religius seperti yang dipahami Kierkegaard.

Atau mungkin saya terlalu egois. Mencampakkan pilihan-pilihan yang diberikan hidup. Dan karena saya tervonis bebas, saya lebih memilih untuk tenggelam dalam masalah ini. Saya tenggelam dan berlarut-larut…

25 Agustus 05

Waktu Zuhur Jatinangor

…benar bila kita berjalan dengan kaki, bukan otak. Tapi perasaan kadang membuat kita ingin meminggirkan logika sejenak. Mengikuti kemana kaki ingin melangkah, tanpa ingin tahu tujuannya.

Jatinangor,

9 September 2005

Menjelang Ashar

?????

Nah, saya temukan juga secarik kertas yang agak kusut, mungkin karena terlipat-lipat. Isinya puisi, sungguh surealis!

Sunset 25 Januari

Laut menunggu ombak bergulir

berderu gaungnya dalam hatiku

berseru, aku malu

hanya bisa diam, lagi

ombak kini tinggi menggapai menguasai diriku

habis aku lebur, hilang

kini kamu dan dirimu menutup dibalik awan

aku pergi dan kau disitu tersenyum, aku tahu

seperti senja, hanya menanti

dan diam, lagi

Yogyakarta

, 25 Januari 2005

Halangi sunset yang kunanti

Pie to dab?! (bagaimana sih kamu?!—terj)

Ditulis ulang

27 September 2007

Suatu Malam Dari Jalanan Jogja

Tuesday, September 11th, 2007

Masih dalam mood kemana angin berhembus malam kemarin. Sedikit uang di dompet dan sepeda gunung kepunyaan kakak—dia pulang-pergi kampus bersepeda—teronggok manis di teras rumah. Saya putuskan menelusuri jalan besar Yogya dengan tas punggung di belakang, berselimutkan jaket kebesaran berwarna hitam pudar dan celana jeans selutut. Tanpa tujuan pasti.

Sepeda malam sudah dijalani beberapa tahun belakangan. Sebenaranya tidak melulu malam. Ada masa seperti liburan panjang dan idul fitri, dimana siang hari jalanan begitu padat dan keramaian lalu-lintas harus diakali dengan menggunakan sepeda onthel tua warisan kakek. Hal yang menyulitkan karena sepeda ini menggunakan rem torpedo, bukan rem tangan. Jadi, sekarang pilihan jatuh pada sepeda gunung yang lebih aman dan tak menyulitkan.

Tak punya Surat Izin Mengemudi jadi alasan lain bersepeda. SIM saya hilang bersama dompet dan kartu identitas lainnya. Untungnya aturan harus membawa STNK dan SIM bagi pengguna sepeda di Yogya sudah berakhir puluhan tahun lalu. Sekarang, sepeda anti tilang dan anti kemacetan.

Cukup sudah penjelasannya, sekarang kembali ke sepeda malam. Sepeda mulai dikayuh. Roda berputar melabas gang kecil sebelum menuju jalanan besar. Citt, rem berderit ditekan. Tengok kiri-kanan. Ohh, sepi, baguslah.

Mulai masuk ke jalanan besar. Pertama melewati jembatan besar di atas kali code. Ketika kecil dulu saya senang mencari udang atau ikan kecil di balik bebatuan sungai ini. Airnya jernih dan tidak dalam, kecuali di musim penghujan dimana lumpur terbawa arus besar. Pinggiran sungai terbebas dari sampah meskipun rumah-rumah penduduk didirikan di sana. Mereka punya sertifikat sehingga bebas gusuran, tidak seperti bantaran Ciliwung.

Jembatan ini termasuk baru. Ketika ayah berkuliah dulu belum berdiri. Untuk mencapai kampus Universitas Gadjah Mada, beliau harus memutar dulu lewat tugu. Sekarang kakak dan adik perempuan saya yang satu almameter dengan ayah melewati jembatan ini menggunakan bis atau sepeda untuk mencapai kampus.

Menanjak beberapa puluh meter sepeda dikayuh ke arah timur memasuki gang kecil. Memotong jalan. Tembus di jalan raya C. Simanjuntak. Sempit sekali jalanan ini untuk ukuran keramaian yang mewarnai kesehariannya. Pun banyak mobil parkir di pinggiran menambah sesak lalu lintas. Sebagai catatan saya pernah dua kali celaka di jalan ini. Pertama diserempet sampai jatuh dari motor dan lecet-lecet dan yang terakhir tak sampai membuat saya jatuh, hanya setang motor agak bengkok saja.

Sampai pertigaan, berbelok ke kiri melewati jajaran pedagang buku daerah Terban. Ada dua puluh lebih kios disana. Daerah ini menjual textbook kuliah bajakan. Konon mendapat restu Sultan pula. Di kota dimana buku diskon bertebaran, pedagang Terban termasuk yang menjual buku paling murah selain shoping book center di pojok jalan Malioboro. Adik saya membeli kamus Inggris-Indonesia Hassan E Shadily lima belas ribu perak saja. Anda boleh bandingkan dengan harga di Gramedia.

Kalau mampir sempatkanlah waktu agak banyak agar teliti memilih buku. Dan Anda akan menemukan buku yang sudah agak sulit didapat. Saya berhasil menemukan Serbia Calling dan Mao Zedong; Manusia bukan Nabi, ramadhan dua tahun lalu. Dua buku yang sudah lama dicari-cari.

Kembali ke perjalanan. Di pertigaan kampus UII sepeda berbelok ke arah selatan menuju SMAN 3 Yogya. Padmanaba nama kerennya. SMA terbaik di kota pelajar. Sebenarnya saya berniat mengunjungi sebuah warnet di pojok perempatan bangjo (abang-ijo, merah-hijau, sebutan orang Yogya untuk traffic light). Tapi lampu berwarna hijau dan sepeda saya pacu saja menerabas. Benar-benar kemana angin berhembus.

Beberapa banggunan saya lewati. TB Gramedia, Gedung Kompas, dan kantor Televisi Lokal JogvaTV. Sepeda saya lambatkan untuk menengok spanduk agenda di depan gedung Kompas. Sebuah perpustakaan milik Dorothea Rosa terjepit di tengah-tengah. Perpustakaan murah. Untuk menjadi anggota cukup bayar sepuluh ribu dan iuran bulanannya lima ribu saja. Bebas pinjam buku tanpa bayar lagi dan jangka terlama peminjaman adalah tiga puluh hari tanpa memertimbangkan ketebalan halaman. Dulu, ketika masa bimbel menuju SPMB saya jadi member dari sering main kesana.

Perpustakaan ini juga menjual buku. Untuk salah satu penerbit diskonnya mencapai tiga puluh lima persen. Perjumpaan saya dengan Menolak Tunduknya FX Rudi Gunawan, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan Wiji Thukul berawal disini.

Beberapa ratus meter di depan ada sebuah gelanggang olah raga. Temboknya yang kukuh penuh dihias gambar-gambar grafis. Menceritakan resahnya zaman. Dari anti narkoba sampai kegiatan olahraga betulan yang digantikan olahraga bohongan di Playstation.

Bukan disini saja Anda bisa melihat gambar-gambar grafis. Hampir di tiap sudut kota. Temanya macam-macam pula. Ada cinta, pergerakan, industri, sampai kehidupan. Favorit saya ada dua. Satu di gang parkiran samping mall Malioboro yang menggambarkan polusi industri—anggota greenperace dan earthworker harus melihatnya. Lainnya di perempatan dekat rumah saya yang menceritakan homogenisasi dan hidup yang semakin menjepit manusia. Beberapa manusia otaknya dihubungkan oleh sebuah kabel, diatasnya tertulis manis ”Oalah, Urip Soyo Angél—Oalah, Hidup Makin Susah”. Sampai sekarang keinginan saya memotret semua gambar grafis itu belum terpenuhi.

Sekarang mengayuh lagi. Kali ini dipercepat, balik arah ke tempat tadi menuju warnet. Sepeda meluncur elegan. Dengan flamboyan berhenti di parkiran motor. Tak ada parkir sepeda disini.

Berseluncur di dunia maya sekita dua jam. Waktu di Handphone menunjukkan angka dua belas lebih sedikit. Saya membayar lima ribu dan kebingungan mendapati sepeda sudah menghilang.

Dipindahkan ke tempat lain oleh tukang parkir rupanya. Tak elok bersanding dengan sepeda motor, mungkin. Ketika mengambil sekeping lima ratusan untuk uang parkir langsung ditolak mentah-mentah. ”Bawa aja mas,” sahut tukang parkir. Cih, penghinaan!!! Baiklah, tak apa.

Saya belum tahu tujuan selanjutnya. Tugu mungkin ramai. Langsung saja menuju kesana dan ternyata tak seramai yang dikira. Tugu ini terletak di sebuah perempatan besar. Utara menuju Kaliurang; selatan ke Malioboro, Kraton ,dan Parangtritis; Timur arah Prambanan dan Solo, Barat menuju kampus Muhammadiyah. Kalau di peta turis, ditunjukkan garis lurus yang menghubungkan kraton, tugu, dan kediaman mbah Maridjan di Gn. Merapi. Ada unsur mistisnya, konon. Anda percaya? Saya tidak.

Binggung mau kemana lagi, saya memustuskan pulang. Sebelumnya cari angkringan dulu untuk mengobati lapar dan dahaga. Gampang saja menemukannya. Angkringan favorit saya letaknya di bundaran UGM dan sebelah stasion tugu. Yang di UGM sudah tutup dan dekat stasion tugu sudah habis persediaan jam segini saking ramainya. Jadi saya pilih yang dekat rumah saja.

Angkringan dekat rumah, sekitar lima puluh meter rasanya. Ibu penjualnya sudah kenal baik, beberapa pengunjungnya juga. Ada yang kenal ayah saya malahan. Kalau sudah begitu rikuh jadinya. Tanya kabar ayah lalu cerita masa lalunya sebagai teman sepermainan. Ayah tidak suka berkelahi, penakut dan kalahan. Tapi jagoan bermain kelereng dan sering menang.

”Saya sering main ke Bogor, tapi mau mampir ke rumahmu malu,” ujar salah seorang teman ayah suatu malam. Memang begitu kebanyakan. Teman ayah beragam profesinya. Dari tukang parkir di pasar, penarik becak, dan semacamnya. Kalau ketemu disapa, ngobrol dan lalu memerkenalkan saya, anaknya.

Di angkringan saya kurang suka kalau ada mereka. Tak bisa merokok jadinya, tak bebas bercanda dengan teman pula. Nanti diceramahi pula, kalau bapaknya orang baik dan tak merokok masak anaknya begini?

Paling ramai kalau pengunjung mulai pasang togel. Ngala Berkah, disebutnya. Pemuda sampai orang tua ikut semua. Dari yang asal menebak sampai pake perhitungan segala. Bandar disini namanya mbah Halo, meninggal ramadhan kemarin. Kalau bertemu orang selalu menyapa dengan kata ’Halo’ jadi disebut begitu. Kemana-mana naik sepeda onthel. ”Nafasnya pendek, tapi umurnya panjang,” kelakar orang tentang dia.

Walau meraup untung besar tiap malam tapi mbah Halo tak kaya-kaya. Hasil penjualan togel dia pake lagi untuk judi. Runyam karena sering kalahnya. Sekarang togel sudah tak ada. Habis digerebeg dan saya merindukannya. Bukan rindu untuk masang, tapi suasananya yang cair.

Musim bertukar zaman berganti. Banyak yang berubah. Kehilangan dan perjumpaan. Namun, malam Jogja masih tetap nkmat untuk bersepeda. Setidaknya sampai kemarin malam. Berharap saja, pedagang buku Terban tak hancur digilas kapitalis besar; agkringan tak habis dilahap restoran yang mulai bertumbuh; dan grafis di tembok kota masih bersuara mengumandangkan gelisah masyarakat urban. Sampai jumpa. Mudah-mudahan kita berjodoh lagi lain waktu dan kisah tentang sudut-sudut Jogja tentu akan berbeda.

Jogja, 3 September 2007

Tentang (About, Not Against) Ibu

Sunday, September 2nd, 2007

Waktu kunjungan sudah berakhir dua jam lalu. Lorong Rumah Sakit sepi. Tas berisi satu stel pakaian ditambah sebuah sajadah yang dilipat mengganjal leher saya. Tubuh rebah di atas sebuah kursi panjang berwarna coklat-hijau. Suara lirih merebut perhatian yang tadinya saya curahkan untuk membaca.

Suara tersebut berasal dari kamar sebelah. Tirai hijau menutupi pandangan saya ke sumber suara. Memejamkan mata, mencoba memperkuat pendengaran saya. Lantunan indah Mazmur, salah satu bagian dari Injil, mengalun. Saya ingat beberapa potongan favorit saya. Lirih namun pasti. Dari mulut seorang ibu Sabda paling nikmat untuk didengar. Setidaknya saya pernah merasakan itu.

Beberapa kali saya dirawat di Rumah Sakit. Hanya sekali saja ibu tak duduk dengan sabar mendampingi di samping ranjang tempat saya terbujur lemah—ketika itu ibu sedang berada di luar kota. Seringnya beliau memijit dan mengusap kaki atau tangan. Lebih sering lagi membaca Quran untuk menenangkan hatinya dan saya. “Istighfar, al,” kalimat tersebut berulang masuk ke telinga.

Pernah suatu kali saya mendapat kecelakaan. Tak parah karena tak sampai dirawat. Masih dalam keadaan sadar melihat langsung tindakan dokter menjahit luka sobek mengangga di beberapa bagian tubuh. Begitupun ketika selesai, masih sanggup berjalan tegap. Ibu baru datang beberapa menit kemudian. Berjalan agak limbung menghampiri saya. Tubuh masih kuat menahan sakit, namun hati segera luluh oleh dekapan dan tetes air yang membasahi tertahan di lipatan kelopak mata ibu. “Mama hampir jatuh dengar kamu kecelakaan,” bisiknya lirih sambil terus mendekap saya.

Ketika pulang ke rumah ibulah yang paling mengerti saya. Kehabisan rokok, dia belikan; makanan favorit dia buatkan—beliau jarang lupa memasakkan udang goreng tepung ketika saya berada di rumah; kopi, dia siapkan segera ketika saya mengabari akan pulang. Tetap saja dia menasihati, “kurangi rokok dan kopimu.” Saya tak menganggapnya gangguan, toh dia tak pernah lupa membelikan rokok dan kopi. Nasihat adalah bukti kasihnya. Sekedar catatan, ibu saya juga penikmat kopi dan rokok dengan merek yang sama seperti saya.

Saya anak kurang berbakti. Ketika itu, sabtu malam, telepon saya terima di kosan. Suara ibu terdengar kecewa karena saya tak pulang. Besok ada pengajian untuk mendoakan keberangkatannya ke Tanah Suci Mekkah. Gusar hati mendengarnya, saya mengecewakan ibu.

Banyak rasanya perlakuan kurang menyenangkan saya terima. Tapi, tak baik kalau ditulis. Hanya menghabiskan waktu dan membuat penyesalan saja. Saya yang salah maka ibu berlaku seperti itu. Kekecewaannya pada anak lelaki tertua dalam keluarga terus coba dia singkirkan. Sepenggal kalimat keluar dari mulutnya sore itu, setulus Mazmur, “tempat mengadu terbaik bukan pada teman, tapi orangtua. Mereka selalu ingin yang terbaik buat anaknya, maka tak mungkin menjerumuskan kamu.”

Ahh, aku lebih menyukai tidur di rumah. Disini, di kosan, tak ada pagi dimana kau masuk ke kamarku dan memeriksa kantong depan tas, mencari sebatang rokok. Tak ada kau yang membangunkan aku dan bertanya, “al, mana rokok? mama bagi sebatang”.

Jatinangor, 01 Februari 2007

Libur Kecil Kaum Kusam

Sunday, September 2nd, 2007

Semakin sulit sekarang menemukan ruang publik untuk berlibur. Taman-taman indah dengan air mancur di tengahnya Cuma bisa dipandang dari balik pagar besi, tidak untuk dimasuki. Wisata mata.

Di Bandung masih ada beberapa taman rindang yang bebas akses. Taman Lansia atau taman dekat Jonas misalnya. Kita bisa menikmati tumpukan sampah sambil menggelar tikar dan membuka rantang makanan, lalu menikmatinya bersama kawan atau keluarga. Gratis tanpa tiket masuk.

Kalau berkunjung ke Yogya, sempatkan menikmati malam Anda di trotoar depan benteng Vrederburg atau Istana Presiden. Gratis juga. Keramahan akan menyapa. Ramai pengamen dan pedagang sore mengaso sehabis kerja. Ngobrol dengan mereka, saya pastikan Anda akan tahu bagaimana cara hidup di jalanan. Ini kegiatan favorit saya.

Kalau lapar dan ingin merokok ada angkringan dan pedagang asongan berjejer. Biarkan hidung Anda menghirup aroma alkohol yang keluar dari mulut jembel-jembel. Kalau beruntung kita bisa menikmati tontonan gratis. Para pemabuk sedang berkelahi dengan kayu atau sabuk pinggang. Sirene lalu berdengung, polisi menghentikan perkelahian.

Lampu taman padam pukul satu. Keramaian segera menyusut berganti manusia yang tidur di penjuru-penjuru taman, beralaskan kardus berselimut spanduk hasil maling. Habis waktu kita, mari langkahkan kaki pulang ke rumah.

Jangan takut liburan belum usai. Masih ada agenda terakhir. Menonton acara televisi akhir pekan. Ada liputan jalan-jalan dari Bali, Lombok, Sumatra, dan berbagai penjuru Indonesia. Kadang dari luar negeri pula. Lapar? Santai saja sebentar lagi acara kuliner. Menunya beragam dari makanan tradisional sampai a la bule. Tak perlu susah mulut anda mencicip asam-manis coto makasar atau spagheti. Tutup saja mata Anda lalu dengarkan pendapat pembawa acara. Mak nyusss….

Jatinangor, 25 Agustus 2007

Amor Fati, Malam Hamil Tua

Sunday, September 2nd, 2007

Asbak sudah penuh terisi. Malam hamil tua. Nanti suara sang muadzin menyambut surya yang menggeliat keluar dari kegelapan rahim. Saya diam, lalu mengetik. Diam lagi. Membaca, mengetik, dan kembali diam. Selalu seperti itu, malam ke malam. Hanya malam yang sanggup.

Empat lebih lima belas. Persalinan segera dimulai. Malam kehabisan daya dan saya tak ingin melihat kelahiran hari dengan mata yang masih nyalang. Selimut ditarik. Selamat tinggal malam. Kutinggalkan kau dengan kepala tertunduk. Mata menutup.

Bukankah kelahiran itu menyakitkan? Butuh tenaga dan keberanian untuk menerima sesuatu yang baru, begitu?

Malam, jangan kau tebus pagi dengan nyawamu. Tak sanggup kau penuhi pintaku? Biarlah sekedar mata diselimuti gelapmu saja, dalam tidur pulas.

Dan matahari merangkak lamat. Mengambil nyawa embun tetes demi tetes. Pagi bersabda, “cintailah keutuhan, nasibmu. Jadilah penuh dengan berdamai dengan nasib. Lampaui siang-malam, gelap-terang, keruh-bening, sulit-senang, hitam-putih. Buka lebar-lebar tangamu menyambut pagi yang baru. Jangan kau larut dalam malam, usah pula tinggalkan dia”.

21 Agutus 2007