Archive for March, 2007

Menolak Pakaian Adat Jawa

Wednesday, March 28th, 2007

“Budaya lokal ada karena kita ada,” ujar teman saya via SMS. Dia membalas pesan singkat yang sebelumnya saya tulis dan kirim padanya. Tulisannya: “Fuck, gw harus pake baju Jawa lagi.”

Memakai baju Jawa, basahan atau entah apa itu namanya, adalah bencana dibalik kegembiraan hari pernikahan. Untung saja selama ini saya masih menjadi pemeran pembantu, jadi tak perlu repot pake baju manten pria yang dadanya terbuka itu (bikin masuk angin dan bau badan bakal kecium, sumpah!). Sementara itu dua orang kakak ipar lelaki saya harus menghabiskan waktu lebih dari dua jam di kamar rias untuk dipermak layaknya pemain ketoprak.

Riasan pernikahan a la Jawa memerhatikan hingga detil riasan. Misalnya saja letak keris harus seperti apa, mengarah ke mana (tapi belakangan ini konon sudah mulai ditinggalkan dan kehilangan filosofinya). Sudah begitu, ketatnya jarik (kain yang membungkus pinggang hingga mata kaki) membuat pemakainya sulit bergerak, bahkan untuk duduk sekalipun; Selop (sandal yang ujungnya runcing) sama sekali tak nyaman seperti sepatu kets yang biasa saya pakai ke kampus; blangkon (topi) yang keras kadang membuat garis beralur mengitari kepala; baju berlapis memaksa tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak. Untung saja tak ada kitab suci yang menyebutkan bahwa mereka yang masuk neraka akan dipakaikan baju adat Jawa terlebih dahulu.

Saya pernah berkelakar pada saudara-saudara saya, ingin memakai baju adat khas Papua saja jika kelak menikah. Waktu untuk merias lebih sedikit dan semilir pula. Tapi, saya yakin sembilan puluh dua persen kelakar itu tak akan diamini. Dua persen sisa kemungkinan bisa terjadi kalau-kalau saya punya alasan kuat. Jadi, sekarang saya coba-coba cari alasan serealistis mungkin untuk keluarga saya yang adat Jawa-nya hingga ke tulang sumsum.

Sulit juga ternyata cari alasannya. Banyak sebenarnya, tapi kemungkinan besar ditolak oleh kekolotan keluarga. Salah satu alasan yang saya temukan dan punya kemungkinan paling besar untuk ditolak yaitu: pakaian Jawa adalah hasil budaya feodalisme yang menghisap keringat petani miskin. Kenapa bisa begitu? Penjelasannya begini kira-kira. Kita bandingkan pakaian Jawa yang rumit dan Papua yang simpel. Jawa menggunakan banyak kain, sedangkan Papua tidak. Hal itu bisa terjadi karena:

1. Jawa memiliki banyak tempat yang memroduksi kain, Papua tidak. Bahkan mungkin kain adalah hal yang asing dan aneh. Ini bisa terjadi karena pembagian kerja daerah Jawa yang jauh lebih maju dibanding Papua. Ada petani yang meladang, tukang mbatik yang mencipta kain bermotif, pedagang yang menjual komoditi, dan sultan serta Raden-raden lainnya yang ongkang-ongkang kaki dan main burung. Dalam masyarakat suku pembagian kerja belum sespesifik itu. Kebanyakan kerja harian—seperti berburu, menyadap, meladang—bisa dilakukan oleh semua anggota suku.

2. Beban kerja yang berbeda dalam pembagian kerja. Pembagian kerja ada karena ada kelebihan produksi, sehingga ada sebagian orang yang bisa hidup tanpa harus memroduksi makanannya dengan tangan sendiri. Mereka itulah yang selanjutnya punya waktu luang untuk memikirkan bentuk baju Jawa lengkap dengan tetek-bengek penjelasan filosofisnya. Petani dikasih tanah tapi harus menyetor sebagian hasilnya pada orang-orang Kraton yang tak macul, nandur (menanam), dan manen di ladang. Sementara petani berpeluh di ladang, Raden Mas duduk angkuh mendengar gamelan atau menikmati tari-tarian. Di Papua yang menghasilkan pakaian sederhana tak ada anggota masyarakat yang punya waktu luang seperti kalangan Kraton. Jadinya tak ada mereka yang sempat memikirkan bentuk baju yang rumit.

3. Pakaian menunjukkan simbol kebangsawanan. Dahulu kala, sekitar dua dasawarsa awal abad ke-20, batik (yang sering digunakan sebagai jarik) sudah menjadi barang dagangan yang tersohor. Kegiatan produksinya berjalan lambat karena belum ditemukan teknologi batik cap—jadi harus teliti menggambar motif di atas kain yang sudah dicelup. Ketika teknologi cap ditemukan pembuatan batik menjadi lebih efisien dalam harga dan waktu pembuatan. Harga batik lebih murah dan mulai bisa dijangkau kalangan luas. Namun, kalangan Kraton menolak menggunakan batik cap karena orang banyak yang tak punya gelar kebangsawanan di depan namanya memakai batik tersebut. Bangsawan Jawa tetap kukuh memakai batik tulis yang lebih mahal. Hal itu menandakan dirinya sebagai kalangan yang tak sama dengan orang kebanyakan dan mampu membeli barang yang lebih mahal. Perbedaan tersebut juga terjadi di Papua. Cenderawasih adalah lambang kepala suku. Tapi biasanya kepala suku diangkat dengan pemilihan, entah itu adu kekuatan atau bentuk lainnya. Kemungkinan menjadi pemimpin tidak diturunkan secara garis keluarga, sehingga penindasan a la feodalisme Jawa tidak ada.

Jadinya, saya tak heran membaca Pramoedya yang menolak mengikuti adat Jawa ketika pernikahan anaknya. Sayang saja keluarga saya tak bepikir seperti beliau yang menolak feodalisme. Sekarang saya punya alasan buat teman saya yang SMS tadi: “Budaya adat (Jawa) ada bukan karena kita, tapi karena kalangan Kraton yang kerjanya leha-leha saja. Budaya adat perlu dicurigai datang dari mana.”

Bogor, 23-24 Maret 2007

Tiga Gelas Kopi dan Sebungkus Sigaret

Wednesday, March 28th, 2007

Selain cuaca dan suhu kamar ketika malam, ada satu hal yang saya rasakan begitu berbeda ketika berada di Bogor, rasa sigaret yang saya hisap. Ketika di Jatinangor sigaret terasa nikmat dihisap. Saya kehilangan itu ketika di Bogor. Keluarga saya sudah tahu saya perokok, termasuk ayah saya. Tapi, ketika berada di rumah saya belum berani menghisap sigaret di depannya. Saya juga tak tahu kenapa begitu. Jadinya waktu merokok terbatas ketika ayah tak ada di rumah, ketika beliau pergi kerja atau malam saat dia sudah tidur. Jumlah batang yang dihisap pun bisa surut hingga setengah, bahkan sepertiganya. Kalau di Jatinangor sehari bisa sebungkus bahkan lebih, di Bogor sebungkus bisa bertahan hingga dua atau tiga hari. Akibatnya saya menambah masukan kopi hingga empat hingga lima gelas sehari. Kemarin saya pikir-pikir kenapa bisa rasa merokok berbeda di dua tempat. Saya pernah dengar semakin jauh sigaret dibawa dari tempat produksi, semakin berkurang juga nikmatnya; sigaret yang disimpan di tempat yang langsung diterpa sinar matahari juga bisa berkurang nikmatnya. Pikir-pikir lagi, rasanya bukan itu penyebabnya. Akhirnya saya menyimpulkan layaknya seorang ilmuwan: proporsi yang tepat dan cocok buat saya adalah tiga gelas kopi dan sebungkus rokok per hari. Hitung punya hitung sehari ongkos yang dikeluarkan mencapai sepuluh ribu rupiah (rokok tujuh ribu sebungkus dan kopi seribuan per bungkus), seminggu tujuh puluh ribu rupiah, sebulan tiga ratus ribu rupiah (hampir setengah uang bulanan saya), setahun tiga juta enam ratus ribu rupiah. Banyak juga ya?! (dibaca dengan keheranan). Coba kalau sejumlah uang di atas dipakai untuk keperluan lain, misalnya traktir teman atau kasih ke pengamen. Tapi, rasa-rasanya sulit sekali. Otak mati rasa kalau tak merokok. Untung saja ada rokok di samping saya jadi bisa mengetik tulisan ini. Bogor, 24 Maret 2007

Kemalasan = Menolak Dipaksa

Wednesday, March 28th, 2007

Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

…apabila engkau memaksa dia

kusiapkan untukmu pemberontakan

(Wiji Thukul)

Beberapa teman mungkin menyebut saya pemalas. Betul, sangat betul, saya memang seorang pemalas.

Kemalasan, seperti ketololan, tak akan menolong siapapun. Orang malas harusnya tak boleh hidup di dunia. Maka saya tak boleh hidup di dunia, kira-kira kesimpulannya begitu.

Anggaplah saya tertuduh yang berhak mengajukan pembelaan. Saya akan ajukan. Entah diterima atau tidak itu tergantung kepada Anda sekalian yang membaca tulisan ini. Jika tulisan ini dirasa benar, bolehlah Anda menjadi terutuduh seperti saya.

Hari ini saya bangun sekitar pukul enam. Hal yang tak biasa buat saya. Bangun sepagi itu, niatnya saya akan mengerjakan tugas kuliah merangkum sekian ratus halaman tulisan dosen saya.

Niatan tersebut berjalan awalnya. Niat saya memang tak penuh, jadi beberapa kali saya harus menyelingi pekerjaan dengan main game solitaire. Akhirnya, setelah dipikir-pikir tak ada gunanya juga saya mengerjakan dengan berat hati, dengan niat yang tak penuh karena dipaksa. Saya urungkan niat menyelesaikan tugas kuliah dan lalu menonton DVD. Saya memang malas.

Di depan monitor, fotokopian yang harus dirangkum tergeletak dengan halaman yang terbuka. Persis pada sebuah halaman artikel yang ada foto penulisnya. Foto dosen saya yang memaksa untuk mengerjakan tugas ini. Mimiknya yang bahagia dan seutas senyum tak cukup kuat untuk mendorong saya melanjutkan pekerjaan merangkum. Saya tutup fotokopian itu, melemparnya, berujar kecil ”fuck”.

Kemalasan saya beralasan. Saya tak mau mengerjakan sesuatu dengan berat hati. Bukan berarti hanya ingin bersenang-senang belaka dengan menghamburkan waktu untuk hal-hal tak penting. Pekerjaan adalah sarana mencari kesenangan dan kebahagiaan. Siapa pula yang senang dipaksa? Saya kira tak banyak.

Bekerja sungguh-sungguh hanya mungkin jika kita melakukannya secara sadar dan hati yang senang. Saya kuat tak tidur hingga malam mengetik tugas kuliah yang memang saya sukai. Tidak untuk kali ini.

Rasanya banyak juga yang mengerjakan tugas pribadi (bukan kelompok) dengan berat hati. Satu tugas dibagi-bagi lalu dikumpulkan jadi satu dan diaku pekerjaannya sendiri. Saya tak bisa seperti itu, lebih baik tak mengerjakan. Meskipun caranya berbeda dengan saya, tetap saya anggap teman karena tujuannya satu: mengurangi stress akibat dipaksa mengerjakan sesuatu yang tak disukai.

Sekedar catatan akhir, pilihan saya ada akibatnya. Nilai buruk akibat banyak tugas yang tak dikerjakan. Paksaan selalu disertai sanksi, tidak bisa tidak. Dosen itu bisa bertindak seperti hakim dan polisi yang merampas kebebasan kita dengan sanksi. Saya menolak bekerja, bukan karena malas tapi karena dipaksa! Dalam kasus ini kemalasan saya artikan seperti sebentuk pemberontakan

Jatinangor, 29 Maret 2007

Jadi Sarjana Bajingan atau Intelektual Sehat

Wednesday, March 28th, 2007

Barusan saja saya pulang dari warnet. Mengirim beberapa surat elektronik untuk teman-teman dan sedikit iseng cari-cari bahan bacaan gratis yang bisa di-download. Tak banyak bahan yang saya dapat jika diukur secara kuantitas. Sebuah tulisan mengenai Kronstadt yang terus menjadi polemik panjang di sebuah situs dan sebuah buku elektronik rilisan Koalisi Anti Utang (KAU) berjudul Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia.

Sampai di kosan, istirahat, dan lalu sebentar menonton ulang film The Corporation. Selanjutnya membaca buku elektronik yang sejak tadi sudah memancing keingintahuan saya.

Buku tersebut berkisah bagaimana dua kapitalis besar Amerika, Rockfeller dan Ford, memasukkan gagasan liberalisme (khususnya ekonomi) dalam pemikiran intelektual kita (Indonesia) melalui jalur pendidikan formal seperti Cornell University, M.I.T (saya lupa kepanjangannya), Harvard, dan Berkeley, serta Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Baris ke baris berganti paragraf, emosi agak meninggi, tak melanjutkanlah saya membaca (baru sampai tiga-perempatnya) dan beralih semangat untuk menulis dan membagi sedikit kegalauan yang saya rasakan.

Dari Universitas-universitas yang saya sebut di atas muncul ilmuwan-ilmuwan yang pro-liberalisme seperti Emil Salim, Ahmad Sadli, Frans Seda (yang profilnya dimuat di Kompas dengan judul The Man from All Season bertepatan dengan hari ulang tahunnya), Boediono (menteri ekonomi zaman Megawati), Soedjatmoko, Selo Soemardjan (bapak Sosiologi Indonesia), Soemitro Djojohadikusumo (mantan menteri perdagangan dan dekan FEUI), serta banyak lainnya. Mereka semua (yang tergolong ekonom dijuluki Mafia Berkeley, lainnya saya tidak tahu) merupakan ilmuwan pro-IMF yang tak hentinya mendukung kebijakan utang luar negeri sebagai jalan bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Mereka yang dipuja-puji ketika Indonesia berhasil keluar dari krisis ekonomi Orde Lama; mereka pula yang dituding (meskipun hanya sayup terdengar) sebagai biang kerok krisis ekonomi 1998. sebagai catatan saja, pemerintahan Orde Lama meninggalkan hutang luar negeri sebesar 6,3 milyar US Dollar dan membengkak menjadi 54 US Dollar selama 32 tahun pemerintahan Soeharto.

Selain melalui Universitas, gagasan liberalisme tersebut juga masuk dalam tubuh Seskoad yang merupakan rumah bersalin kebijakan militer Tentara Nasional Indonesia. Kurikulum yang diajarkan diajarkan di Seskoad diambil dari Sekolah Komando di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Selain itu, di Seskoad juga diajarkan aspek-spek ekonomi dalam pertahanan oleh Ahmad Sadli, dkk, dari FEUI (tak heran banyak militer yang punya perusahaan). Di sini juga bertemu Miriam Budiarjo, Selo Soemardjan, serta orang-orang PSI dan Masyumi untuk dijadikan konsultan militer. Tak hanya itu, 4000 tentara didikan Seskoad juga mendapat pelatihan di Fort Bragg, Amerika, pada tahun 1964.

Cerita-cerita di atas adalah bukti bagaimana liberalisme yang merupakan gagasan kapitalisme merasuk ke Indonesia melalui jalur pendidikan. Tapi, seperti juga pendidikan kolonial melahirkan penggagas kemerdekaan seperti Tan Malaka, Iwa Kusumasumatri, Soekarno, dsb, universitas-universitas pro-liberalisme juga menghasilkan intelektual-intelektual Anti-kapitalisme. Dari Cornell lahir intelektual semisal George Junus Aditjondro yang data-data dan penelitiannya sering menggelisahkan kapitalis-kapitalis pribumi seperti keluarga cendana, Bakrie, dan JK. Data-data Cornell pula yang banyak berbicara siapa dalang sebenarnya dibalik peristiwa G30S.

Mengutip Chico Mendes, “seratus orang tanpa pendidikan adalah pemberontakan, satu orang berpendidikan adalah pergerakan,” seperti itulah pendidikan bertindak. Dan memang sudah seharusnya pendidikan membuka tabir gelap kesengsaraan masyarakat banyak saat ini. Bukan maksud saya membenarkan dan mendukung gagasan Vladimir Ulyanow mengenai Vanguard State yang didukung kaum intelektual, saya hanya menolak Hernando de Soto yang bicara “negara tak membutuhkan semua rakyatnya menjadi pintar.” Pendidikan yang benar, intelektual yang sehat harus berpikir tak hanya untuk dirinya atau segolongan kapitalis saja, tapi untuk kemakmuran rakyat banyak. Saya dan Anda yang membaca mudah-mudahan berpikir sama agar jika kelak beruntung kuliah di universitas-universitas yang saya sebutkan di awal tadi tak terjebak masuk dalam pekat jejaring pemikiran layaknya sarjana-sarjana brengsek penggagas kapitalisme.

Jatinangor, 19 Maret 2007

Kerja Sosial, Ceunah Mah

Sunday, March 18th, 2007

Suatu malam perbincangan dengan dua orang karib di kamar kosan menghantar sebuah refleksi buat saya pribadi. Perihal kerja sosial menjadi satu diantara banyak tema malam itu. Walau sebentar dan sedikit, tapi ternyata mendorong untuk menulis pagi ini. Alih-alih membagi sedikit pengalaman, saya kira ini bisa menjadi renungan bersama buat kita yang hidup di zaman serba komersil sekarang ini.

Beberapa bulan sebelum pagi ini datang sebuah film saya tonton, judulnya the Corporation. Sangat nyata, menyentuh, dan lugas membahas luka-luka borok mengangga di tubuh kapitalisme, dimana perusahaan menjadi tulang punggungnya. Saya tak bisa mengingat bagian per bagian film tersebut dan akan butuh waktu lama untuk menulis pargraf panjang mengulas film tersebut. Satu pertanyaan singkat diajukan dalam sebuah sub bagian: “bagaimana jika anda bangun di pagi hari dan menemukan bahwa hubungan yang anda jalin selama ini semuanya didasari kepentingan ekonomi?”

Pertanyaan di atas menarik tentunya. Coba saja anda hitung-hitung sejak anda bangun sampai tertidur kembali, berapa banyak hubungan yang dilandasi kepentingan ekonomi dan tidak. Karena menunggak uang kosan hubungan dengan bapak kos menjadi renggang; pergi ke kampus naik ojek harus membayar; sampai di kampus beli rokok, makanan, dan kopi, ekonomi lagi. Rasa-rasanya memang kebanyakan hubungan kita dengan orang lain diperantarai uang.

Lalu bagaimana hidup tanpa uang? Sulit atau bahkan tak mungkin. Pertanyaannya saya ganti, bagaimana jika kita bekerja bukan demi uang? Buat saya yang masih mendapat sokongan penuh dana dari orang tua hal tersebut sangatlah mungkin dan buat mereka yang sudah bekerja menjadi sangat mungkin sekali.

Selama kerja menghasilkan uang yang dilakukan tidak mengambil seluruh porsi waktu kerja kita, masih ada kemungkinan untuk melakukan kerja nirupah (tak berupah). Ambil contoh paman dan seorang teman saya yang keduanya bekerja sebagai pendidik di institusi pendidikan formal, di sela-sela jadwal mencari uang mereka menyempatkan diri dan melapngkan hati tak dibayar untuk mendidik lewat jalur pendidikan non-formal (non-sekolahan). Setelah ditanya ternyata keduanya lebih menikmati mendidik tanpa dibayar di jalur non-formal. Untuk kesenangan hidup katanya. Berbuat bagi orang lain tanpa dilandasi hasrat ekonomi.

Tapi kadangkala menyempatkan waktu dan mengikhlaskan diri saja tak cukup. Kocek harus dirogoh untuk membiayai kesenangan hidup mengajar—jauh lebih positif dibandingkan hambur uang ke disko. Jadi kerja demi upah tetap penting untuk membiayai kesenangan positif mereka.

Kerja upahan seringkali tak menyenangkan. Tapi mau apa lagi, buruh cuma punya tenaga dan wartawan cuma punya ijazah dan sedikit keahlian menulis berita. Suka tak suka di dalam zaman serba komerrsil kita semua akan menjadi pekerja upahan jika tak punya cukup warisan untuk hidup tujuh turunan atau modal besar untuk mendirikan perusahaan.

Sudah enam semester saya kuliah di jurusan jurnalistik yang lulusannya kelak akan menjadi wartawan upahan. Selama itu pula keinginan menjadi wartawan yang diidamkan sejak dulu sudah saya pendam dalam-dalam. Tak ingin diri ini diperintah sana-sini cari berita. Tapi mau apa lagi cuma itu peluang yang mungkin dan paling terbuka lebar. Tapi harapan besar terbersit selalu, mudah-mudahan saya bisa menikmati kesenangan hidup bekerja dengan kesadaran sendiri untuk kemaslahatan bersama seperti paman dan teman saya.

Jatinangor, 13 Maret 2007

Tentang Petani Tua

Sunday, March 18th, 2007

Pakaiannya sederhana. Sekedar Membungkus kulitnya yang mengendur. Ketuaan jelas nampak dari kerutan wajah. Kacamata menggantung di daun telinga, ditopang hidung yang agak besar. Kopiah rajutan dengan wrana biru membentuk pola zig-zag menutupi uban yang jarang-jarang. Beliau bilang dirinya kelahiran tahun 1926. Kemana-mana beliau ditemani sebuah tongkat untuk membantu tulangnya yang mulai lemah. Kekaguman segera menyerap perhatian saya ketika bicara dengannya, ingatan pak tua tak lekang oleh ketuaan.

Samsir. Samsir Mohammad lengkapnya. Saya merasakan keberuntungan yang begitu besar bisa bertemu dengannya. Jabatan tangannya begitu erat ketika menyalami tangan saya yang kedinginan akibat terpaan angin malam, saya merasakan kehangatan yang begitu besar.

Petani tua, orang biasa menjuluki Samsir. Alkisah, dia ditawari membuat Kartu Tanda Penduduk oleh pegawai kecamatan. Beliau menerimanya dengan sebuah pertanyaan diajukan pegawai kecamatan.

Kepulan asap rokok mengepul dari mulut petani tua. Beliau perokok kuat, mungkin hanya jeda setengah jam saja dari batang satu ke batang berikutnya. Sigaretnya kretek, namun tak segan berganti jenis dengan meminta milik lawan bicaranya, ketika batang sigaret terakhirnya sudah habis dihisap.

“pekerjaan?”

“petani,” jawab Samsir

Pegawai terbenggong heran

“ngak biasa ternyata petani bikin KTP,” terang Samsir pada saya.

“dari situ orang sebut saya si Petani Tua,” tambahnya.

Seorang teman saya berkelakar dengan menjuluki Samsir Pendekar Tua dari Lereng Burangrang. Sama seperti Rasulullah menambah kata Al-Ghifari di belakang nama Abu Dzar sahabatnya. Ya, Samsir hidup (atau dia bilang menumpang) di Lereng Burangrang, daerah terpencil di sudut Kota Bandung. Tempat terpencil yang bahkan tak diketahui oleh teman saya yang asli Bandung.

Meski pintar, Samsir tak bicara dengan bahasa yang njlimet layaknya mahasiswa dan akademisi kebanyakan. Dia tak suka bahasa seperti itu, “elitis,” katanya. Logikanya memukau dan selalu saja sederhana dalam menganalisis sesuatu. Penempatan kata dalam sebuah frasa ataupun kalimat tak luput dari komentarnya.

Lurus dan benar. Hanya dua syarat itu saja yang digunakannya ketika berpikir. Keduanya mutlak bila kita ingin mencari kesimpulan yang benar. Lurus dan benar harus digunakan oleh para intelektual sehat, intelektual yang bekerja untuk rakyat banyak.

Umur petani tua boleh dikata panjang. Tak banyak manusia yang bisa hidup selama dia sekarang ini. Hidupnya mungkin tak lama lagi, tapi saya tak berharap begitu. Orang-orang seperti Samsir, mengutip Chairil Anwar, harus “hidup seribu tahun lagi”. Atau setidaknya, bisa membuat pikiran dan hidupnya bertahan seribu tahun lagi. Samsir mencobanya, karena ajal makin mendekati urat lehernya.

Jatianangor,18 Maret 2007

Cinta; antara Schopenhauer dan Jenny-Marx

Sunday, March 18th, 2007

Bagai sekuntum bunga pada wanginya

Aku terikat pada kenangan samar tentangmu

(Antonio Skármeta dalam il Postino)

Tak tahu mengapa, belakangan ini saya sedang semangat-semangatnya menulis masalah cinta. Mungkin karena desakan yang sebenarnya bisa saja saya hiraukan dan tak ambil pusing dengannya. Akhirnya keputusan terakhir ada pada saya juga. Menulis mungkin bisa jadi semacam pembelaan atau pelipur lara barang sedikit.

Ceritanya, dua orang teman saya sudah berhasil meraih tambatan hatinya. Walhasil saya ketiban sial. Sialnya tak seberapa memang, namun cukup menganggu. Bila dibiarkan bisa bertambah, mengendap, dan semakin besar saja. Bukan hanya dua teman saya yang baru jadian itu saja, tapi yang lainnya mulai terpengaruh juga, melontarkan pertanyaan sepele yang seringkali hanya saya jawab dengan senyum kecil sebagai bentuk pertahanan diri alamiah: “kapan lu nyusul punya cewe?”

Filsuf pesimistis seperti Schopenhauer menganggap cinta tak lebih dari sekedar wujud dari kehendak. Dorongan yang terus ada dan keberadaannya menyiksa manusia. Kehendak itu tak mempunyai ujung yang tetap, yang jika tercapai akan membawa kepuasan. Sampai mati, Schopenhauer memang tak memiliki pasangan. Jadi bisa saja pendapatnya itu sekedar pembelaan karena ketakmampuannya meraih wanita idaman. Memang, bila saya lihat di foto-fotonya, Schopenhauer itu wajahnya tak begitu ganteng. Seringnya dia tampil dalam foto dengan posisi tangan kanan menopang wajah yang berkerut.

Tak lebih dari sekedar prokreasi, atau kita lebih mengenalnya dengan reproduksi. Itulah tujuan cinta menurut Schopenhauer. Keberadaan manusia-manusia selanjutnya yang meneruskan eksistensi spesies Homo Sapiens. Pada bagian selanjutnya, manusia-manusia barulah yang terus tenggelam dalam kehausan yang tak pernah habis akan cinta. Merekalah yang meneruskan takdir kesengsaraan yang tak habis-habisnya.

Sangat mungkin Schopenhauer ingin menjadikan dirinya legenda. Dia memilih menjalani hidupnya sendirian, dan dengan begitu membenarkan argumennya. Saya lebih memilih tak memercayai argumen seorang yang membandingkan kesetiaan seekor anjing dengan manusia seperti Schopenhauer.

Saya ambil contoh kasus lain mengenai cinta yang berbeda dengan Schopenhauer. Kasih agung dua manusia: Jenny von Westphalen dan Karl Heinrich Marx. Wanita seperti Jenny dengan setia menemani Marx, suaminya yang sakit-sakitan, terus-terusan diburu musuh-musuh politiknya, dan miskin pula. Kasih seperti itu, kata seorang teman saya dilandasi oleh kata ”meskipun”, bukannya ”karena”. Meskipun Marx begitu banyak kekurangannya namun masih saja dicintai sepenuh hati oleh Jenny.

And yet my heart is sad because you are absent; it yearns for you, and it hopes for you and your black messengers: sekarang hatiku begitu sedih karena kau tak ada; hatiku merindukanmu dan mengharapkan dirimu dan suratmu (surat Jenny pada Marx di Paris, Juni 1844)

Ah, dear, dear sweetheart, now you get yourself involved in politics too. That is indeed the most risky thing of all. Dear little Karl, just remember always that here at home you have a sweetheart who is hoping and suffering and is wholly dependent on your fate. Dear, dear sweetheart, how I wish I could only see you again: sayangku, sekarang kau menceburkan dirimu dalam politik juga. Itu hal paling beresiko diantara semuanya. Karl sayangku, hanya ingatlah selalu bahwa disini, dirumah, kau punya kekasih yang berharap dan menderita serta sangat bergantung pada nasibmu. Sayang, cinta, aku hanya berharap bisa berjumpa dirimu lagi (surat Jenny pada Marx di Bonn, 10 Agustus 1841)

Bahkan ketika keragu-raguan akan ketulusan cinta Jenny menyergap Marx, dengan kerendahhatian seorang wanita Jenny menanggapinya. Hanya ingin agar kekasihnya yang keras kepala itu bisa mengerti posisinya.

Oh, Karl, how little you know me, how little you appreciate my position…A girl’s love is different from that of a man, it cannot but be different. A girl, of course, cannot give a man anything but love and herself and her person, just as she is, quite undivided and for ever. In ordinary circumstances, too, the girl must find her complete satisfaction in the man’s love, she must forget everything in love. But, Karl, think of my position, you have no regard for me, you do not trust me: Karl, betapa sedikit yang kau tahu mengenai diriku, betapa kecil penghargaanmu atas posisiku…cinta seorang perempuan berbeda dengan lelaki. Seorang perempuan, tentu saja tak bisa memberi apapun pada lelaki kecuali cinta dan dirinya seperti apa adanya, tak tepisahkan dan selamanya. Dalam keadaan biasa, perempuan harus juga menemukan persetujuan penuh atas cintanya dalam cinta lelaki, dia harus melupakan semuanya dalam cinta. Tapi, Karl, pikirkan posisiku, kau tak menghormatiku, kau tak memercayaiku (surat Jenny pada Marx di Berlin, 1839-1840)

Masalahnya sekarang, masih adakah wanita seperti Jenny? Bukan dalam arti fisik, namun ketulusan kasih yang diberikan. Apa arti hubungan yang tak lebih dari sekedar kehendak seperti yang dilukiskan Schopenhauer? Dan yang terpenting, apa artinya sebuah komitmen—pengakuan bahwa aku dan kamu sama-sama memiliki kehendak?

Dalam angan saya ada sebentuk makhluk berkelamin wanita. Tapi, seperti Sartre bilang, “imajinasi hanyalah sebentuk observasi pura-pura.” Imajinasi adalah hubungan antara kenyataan dan kesadaran. Pertanyaannya sekarang: kesadaran saya dipengaruhi oleh apa?

Kenyataanlah yang mempengaruhi kesadaran, bukan kesadaran yang mempengaruhi kenyataan,” tulis Mbah Jenggot. Sekarang saya Mahasiswa Fikom Unpad—yang disebut sebagai fakultas dengan segudang wanita cantik—menonton Televisi tiap hari, sedikit membaca buku dan hobi nonton film Holywood, itulah kenyataannya. Kondisi-kondisi tersebut berjalin dan membentuk sebuah konsep wanita ideal dalam kesadaran saya.

Saya (sangat) tak yakin akan perasaan yang perlahan-lahan mulai hinggap. Bila terjebak dalam imajinasi wanita ideal yang pekat racun bentukan media massa, saya sama saja membenarkan pendapat Schopenhauer. Saya tak ingin seperti itu.

Ahh..kiranya secuplik puisi bisa sedikit menggambarkan kegelisahan saya.

kubiarkan cahaya bintang memilikimu

kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya

gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu –

entah kapan kau bisa kutangkap

(Nokturno, Sapardi Djoko Damono)

Jatinangor, 14 Januari-17 Maret 2007

Tentang Impor Beras dan yang Dikorbankan

Sunday, March 18th, 2007

Kenaikan harga beras, kata Wapres, tak menguntungkan petani, tapi malah merugikan. Hal ini karena petani adalah masyarakat yang ikut membeli beras di pasar (Sindo, Minggu, 18 Februari 2007). Sungguh pandai berkelakar Wapres kita itu. Namun saya tak tertawa, malahan ingin bertanya darimana logika seperti itu bisa dia dapatkan? Si setan kumis lucu menganggap petani sebodoh dirinya. Menjual hasil produksi ke pasaran untuk membelinya lagi dengan harga yang lebih tinggi, petani paling bodoh pun tak akan pernah berpikir seperti itu.

Jika memang logika dagang JK seperti itu, bisa dipastikan seratus persen usahanya tak akan bisa berkembang sebesar sekarang. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, seorang produsen (boleh juga disebut kapitalis) seperti JK membeli untuk menjual demi mendapat keuntungan. Dalam kasus petani sebagai produsen, mereka menyewa lahan, membeli pupuk, bibit, dan pengairan, untuk kemudian menjual hasil panen lebih tinggi daripada biaya produksi yang digunakan. Jika biaya produksi yang dikeluarkan senilai dua juta rupiah, maka padi hasil panen harus dijual lebih dari dua juta. Saya yakin logika dagang sesederhana itu pasti dikuasai JK.

Tapi, mau ditutupi seperti apa pun kecerdasan JK sebagai kapitalis ulung tetap terlihat. ”Harga beras tak bisa disulap maka beras harus dilawan beras, bukan dengan yang lain karena itu pemerintah terpaksa mengimpor beras untuk mengamankan seluruh masyarakat termasuk petani,” tegas dia (JK) (masih dari Sindo Minggu). Kali ini logikanya benar. Harga komoditi selain ditentukan oleh biaya produksinya—seperti yang saya tulis di paragraf sebelumnya—juga ditentukan oleh hubungannya dengan komoditi yang sama. Beras lawan beras, tak bisa lawan gula. Kalau beras impor harganya lebih murah maka beras lokal mau tak mau harus bersaing dengan menurunkan harganya, meskipun rugi. Bila itu tak dilakukan maka beras lokal akan kalah bersaing dengan beras impor dan hanya akan berakhir digerogoti kutu di gudang penyimpanan.

Meskipun sempat ditolak oleh beberapa kepala daerah karena stok beras lokal masih mencukupi, toh impor beras dilakukan juga oleh pemerintah. Jadi, sebetulnya kebijakan impor beras bukan dikarenakan cadangan pangan yang tak mencukupi seperti yang seringkali didengungkan oleh para menteri dan negarawan lainnya. Lalu apa pasal sehingga impor beras dirasa penting? Jawabannya, seperti kata JK, ”harga beras bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram. Akibatnya semua orang akan mengamuk.”

Stabilitas, itu intinya. Stabilitas dalam kapitalisme memang haus korban, khusunya darah dan keringat mereka yang tak bermilik.

Jatinangor, Februari-Maret 2007