Jagalah Hati Jangan Kau Nodai
Tuesday, February 27th, 2007Hal yang dituding oleh Ibnu Rusyd menjadi penyebab ‘kaburnya’ Al-Ghazali dari lapangan filsafat adalah karena pemahaman yang salah atas filsafat. Filsafat, atau lebih spesifiknya filsafat ‘Aristoteles’ dipelajari Al-Ghazali lewat kritik yang dilontarkan oleh Ibnu Sina terhadap Aristotelian. Sederhananya, Al-Ghazali tak belajar langsung, namun melalui perantaraan tafsir Ibnu Sina.
Saya pribadi tak tahu benar apa pokok filsafat Aristotelian yang dipermasalahkan. Tapi seperti kata sinetron-sinetron religius, semua ka nada hikmahnya. Begitu pun saya mencoba menarik kesimpulan dari kasus di atas.
Dahulu kala, tak lama sebetulnya, sekitar dua tahun yang lalu saya sempat tertarik kepada sebuah disiplin ilmu. Ketertarikan tersebut dipicu kekaguman saya atas keahlian membuat saya ‘melonggo’ yang dipaktekkan oleh seorang teman yang baru saja saya kenal. Atas saran dia saya coba tekuni disiplin tersebut.
Beli satu dua buku, kumpulkan artikel dari internet, diskusi barang sebentar, walhasil saya semakin lihai mengolah kosakata ‘ajaib’. Ajaib karena bisa menyihir orang yang tak tahu jadi melonggo seperti saya dulu. Tapi, saya coba jujur saja, sebenarnya saya sendiri kurang paham atau bahkan sangat tidak paham atas kosakata-kosakata ‘ajaib’ tersebut. Walau begitu laiknya penyihir saya suka sekali menggunakannya untuk sekedar legeg elmu (sok pintar-pen).
Pertama sekali mungkin bukan karena sadar betapa nistanya tindakan legeg elmu saya yang membuat saya jeleh pada disiplin kosakata ‘ajaib’, namun karena bertemu dengan disiplin ilmu lain. Disiplin yang baru saya tekuni sekitar setengah tahun ini—ketika SMA dulu sempat beli beberapa buku berkaitan, namun seringnya hanya jadi pajangan saja (nistanya intelektual salon!)—membawa suasana lain. Optimis dan penuh harapan. Harapan yang disebut ‘penjahat paling kejam, karena tak pernah memberi kita kepastian,’ oleh si kumis tebal, orang yang disebut-sebut bapak pendiri disiplin dengan kosakata ‘ajaibnya’.
Saya tekuni disiplin baru tersebut. Khusyuk dan sungguh-sungguh. Awalnya, saya tak merasa kahilangan dan menolak mentah-mentah disiplin kosakata ’ajaib’. Baru belakangan saya tahu bahwa runutan belajar saya terbalik. Disiplin kosakata ’ajaib’ ternyata banyak menimba ilmu dari sumur disiplin ’optimis dan penuh harapan’. Pemahaman atas disiplin yang tersebut belakangan sangat membantu memahami yang pertama.
Apa lacur, saya sangat mungkin salah seperti Al-Ghazali salah memahami Aristoteles. Otak saya digenangi prasangka. Parahnya, prasangka itu bukan pasal berbeda pendapat (harusnya skeptis) tapi dilandasi sentimen dan emoshi (baca:emosi). Saya lihat bagaimana kosakata ’ajaib’ terus saja menyihir (mudah-mudahan saya salah); saya dengar kalimat ’ajaib’ seperti racauan (mudah-mudahan saya mengalami gangguan pendengaran); Saya pikir disiplin kosakata ’ajaib’ meninggi meninggalkan bumi (mudah-mudahan saya terlalu bodoh sehingga berpikir seperti itu). Jujur saja saya takut dosa karena ’suudzon’, lebih dari dosa saya takut persepsi yang memengaruhi tindakan saya salah. Tapi apa mau dikata, emosi kadang tak sanggup dihadang, dan untuk kasus yang satu ini saya tak memilih diam untuk meredakan emosi.
Beriring gerakan jari diatas keyboard komputer matahari mulai menyembul di ujung timur. Otak mulai letih kurang istirahat sehingga kata tak meluncur sebaik paragraf pertama. Prasangka makin menggumpal seperti obat yang tak bisa dikonsumsi organ eksresi (mataforanya kampring pisan!). Mimik Aa Gym melintas, lengkap dengan gerakan tanggannya beliau berujar: ”jagalah hati jangan kau nodai.” Teringat sebait lirik lagu populer melantun, jadilah sebuah doa mengakhir tulisan ini. ”Berikan aku hidayah-Muuuuuuuuu.”
Jatinangor, 27 Februari 2007