Archive for January, 2007

Kisah Tuhan Kehilangan Speaker

Sunday, January 28th, 2007

Suatu malam, di sebuah kompleks rumah sakit, saya mencari masjid untuk shalat Isya. Di sekitaran kompleks ini saya ingat ada dua buah masjid besar berlantai dua. Tujuan awal tentunya masjid yang paling dekat.

Segera saja saya kecewa, masjid yang dituju ternyata sudah gelap. Pagarnya sudah ditutup dan digembok. Tak apalah, mungkin saya harus berusaha lebih keras menuju masjid yang letaknnya agak jauh—tak begitu jauh sebenarnya, hanya sekitar 200 meter dari masjid pertama.

Sampai disana ternyata kondisi yang sama saya dapati. Pagar besi tinggi di gerbang masuknya sudah ditutup dan digembok. Sebenarnya bisa saja mencari masjid lainnya. Tapi, sudah kadung kecewa. Perjalanan dialnjutkan melewati barisan warung dan saya melangkahkan kaki masuk ke Warung Kopi. Bukan untuk shalat Isya tentunya.

???

Hampir semua masjid besar seperti itu. Anda boleh uji perkataan saya. Di daerah rumah saya, masjid tutup selepas Isya. Sekitar pukul delapan malam. Tak seorang pun bisa masuk kecuali nekat membobol kuncinya. Saya pernah tanya kepada ayah saya yang memegang kunci masjid tersebut, mengapa masjid ditutup? “Kemarin speaker dan jam dinding baru saja hilang dicuri,” jawab ayah saya.

Tadinya saya pikir itu sebuah hal yang wajar. Mencegah lebih baik daripada mengobati, seperti mengunci lebih baik dibandingkan kehilangan.

Siapa yang kehilangan? Bukankah masjid adalah Rumah Tuhan? Jika begitu berarti Tuhan yang kehilangan. Tuhan takut kehilangan speaker dan jam dinding! Harganya terlalu mahal buat dia.

Bukan begitu jawabannya jika coba kita runut kejadiannya. Banyak mesjid berdiri dengan uang patungan, hibah, atau proyek negara. Malu rasanya jika di kompleks ada pembagunan mesjid dan kita tak urun dana. Jadi mereka, para penyumbang pembangunan masjid telah berbaik hati membuatkan sebuah rumah untuk Tuhan. Berdiri megah dengan pajangan kaligrafi tulisan arab, jam dinding, dan satu set speaker didalamnya.

Mereka berderma, tapi masih merasa itu miliknya. Sederhananya, mungkin bukan berderma melainkan menyewakan. Penyewaan pasti ada bayarannya. Mudah-mudahan bayarannya setimpal, ridho Allah.

Mungkinkah Allah ridho salah seorang umatnya tak bisa bertamu karena rumah-Nya dikunci oleh umatnya yang lain yang tak rela kehilangan speaker? Saya tak tahu, tak baik rasanya membaca pikiran Allah. Biarlah masing-masing dari kita menafsirkan sendiri pertanyaan tersebut.

Ada satu kelakar satir tentang Agama. Umat Kristiani adalah yang paling dekat dengan Tuhannya, mereka memanggilnya Bapa. Umat Buddha menyusul di tempat kedua dengan ucapan Om. Paling buncit Islam karena harus menyeru Tuhannya menggunakan Toa atau speaker. Kehilangan speaker berarti hilang kontak dengan Tuhan!

Saya jadi ingat perkataan bijak seorang teman saya. “masjidnya, gerejanya, kuilnya tidak luar. Tapi disini,” ujar teman saya sambil menunjuk dadanya. Tempat bermukim terbaik keimanan adalah dalam hati bukan dalam masjid, begitu mungkin. Buat apa bangun mesjid megah-megah bila aksesnya terbatas? Mungkin pengelola masjid perlu menggantungkan papan pengumuman di depan pagar masjid yang sudah rapat terkunci: “Maaf, Masjid sedang tutup. Tuhan sedang sibuk mencari speaker-Nya yang hilang”

Bogor, 27 Januari 2007

Pengalaman Jadi Orang Kaya

Sunday, January 28th, 2007

Secangkir capuucino dengan taburan granule diatasnya, sebuah buku, dan sebatang filter sigaret. Kombinasi indah dipadu dengan guyuran hujan yang tak henti-hentinya merundung langit

Bogor

beberapa hari ini. Dari teras lantai dua tempat saya duduk kelabu awan terlihat jelas. Senja masih awal, namun matahari yang tersaput mendung langit agak remang.

Sebuah kursi besi berwarna putih saya tarik mendekati pagar teras. Selonjoran kaki ditopang pagar kokoh setinggi setengah meter. Sambil menyandarkan punggung saya buka halaman demi halaman buku yang baru kemarin lusa dibeli. Sesekali tangan meraih cangkir diselingi kepulan asap keluar dari mulut atau lobang hidung.

???

Beberapa hari ini saya berlagak layaknya orang kaya. Tinggal dalam sebuah rumah besar dua tingkat dengan empat televisi—dua diantaranya besarnya 29 dan 42 inci—sebuah komputer spsesifikasi teranyar—lengkap dengan CD-writer dan DVD-writer, koneksi internet, scanner, dan printer khusus foto. Dan terbukti sekarang: itu semua bukan pilihan yang mengasyikkan buat saya, dibandingkan suasana sore itu.

Saya sedang asyik memindahkan slide-slide gambar dengan komputer ketika tiba-tiba guyuran hujan membuat gaduh. Petir menyambar sesekali. Menambah ketakutan saya. Akumulasinya saya tunda dulu kegiatan saya mengedit video. Komputer saya matikan. Kemudian saya harus mencabut satu persatu sambungan antena televisi dan radio, semua kabel yang masih menyatu dengan aliran listrik, dan kabel telepon.

Menjemukan memang, karena ada begitu banyak kabel yang harus dibereskan. Namun, itulah kebiasaan saudara saya ketika hujan datang. Karena saya menginap ditempatnya sekarang dan tak ada manusia lagi selain saya, maka mau tak mau saya harus melakukannya. Sebenarnya bisa saja saya tak ambil pusing. Banyak barang tersebut yang harganya bisa melebihi dua bulan gaji ayah saya. Apa mau dikata, daripada menjadi tersangka lebih baik saya lakukan tindakan pencegahan.

Satu-satunya alat elektronik yang masih berani saya nyalakan adalah dispenser. Bukan karena harganya yang lebih murah dibandingkan lainnya, tapi karena saya butuh air  panas untuk menyeduh kopi. Tunggu beberapa menit energi listrik segera mengubah dirinya menjadi energi untuk memanaskan air dengan bantuan elemen-elemen konduktor. Tuas hijau saya tarik, kopi saya masukkan, panasnya air kopi terlihat dari guratan-guratan asap yang keluar ketika beradu dengan tiupan saya.

Saya naik ke lantai atas. Tempat paling menyenangkan di rumah ini ketika hujan sedang turun. Menutup mata dan mendengar alunan melodi rintik-rintik hujan pun bisa jadi kegiatan yang menyenangkan, setidaknya menyenangkan. Tapi saya tak melakukan itu, karena ada kopi, sigaret, dan buku sekarang.

???

Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa saya lebih menikmati sore ketika itu. Berlama-lama di depan komputer ternyata tak menyenangkan dan besarnya ukuran Televisi juga tak membuat isinya menjadi berbeda.

Azan terdengar dari mesjid komplek. Hujan sudah berhenti dan keremangan mendung diganti gelapnya malam yang mulai merangkak ke langit. Sudah aman untuk menyalakan alat elektronik sekarang. Tapi saya malas melanjutkan pekerjaan yang tadi terganggu, tubuh belum mau diangkat dari kursi.

Ahh…teknologi ternyata tak sehebat yang dibayangkan. Tak mampu menggerakkan saya untuk lebih memilihnya dibandingkan secangkir kopi. Memilikinya hanya menimbulkan rasa takut kehilangan, seperti yang saudara saya biasa lakukan ketika hujan datang.

Bogor, 25 Januari 2007 

Takdir Tahunan Kaum Buruh

Sunday, January 28th, 2007
Seperti layaknya kampus dikelilingi kosan, pabrik pun dikelilingi rumah petak dan kontrakan murah. Daerah itu tak bisa dimasukkan dalam kategori sehat. Setiap waktu corong-corong pabrik memuntahkan asap pekat membumbung. Sanitasi begitu buruk, aliran air tak berjalan sehingga menjadi tempat paling nyaman untuk nyamuk berkembang biak. Sampah menumpuk di satu titik yang dijadikan Tempat Pembuangan Sampah Bayangan—artinya tak resmi.

Sekarang daerah ini endemi Demam Berdarah. Adik sepupu saya ikut terjangkit. Dia bukan satu-satunya, karena puluhan Buruh dan anak-anak buruh juga merasakannya. Pabrik tak pernah peduli. Kebanyakan dari mereka adalah buruh kontrak: tak ada jaminan kesehatan, keselamatan kerja, tunjangan keluarga, dan yang terparah nasib tak menentu akibat kontrak yang diperbarui setiap tiga bulan.

Kabar sakitnya adik sepupu saya menyebar dari mulut ke mulut. Tetangga menyampaikan simpati dengan mengunjungi rumahnya, ditambah berbagai permintaan maaf dan cerita duka. Rumah Sakit tempat adik sepupu saya dirawat memang agak jauh, ongkos yang harus dikeluarkan cukup besar, apalagi untuk ukuran kantong seorang buruh kontrak.

“Maaf bu belum gajian, belum bisa nengok ke Rumah Sakit.”

“Pengen nengok bu, tapi anak saya juga lagi dirawat.”

???

Kondisi keuangan keluarga adik sepupu saya jauh lebih baik dibandingkan buruh-buruh derah tersebut. Bulik (bibi, ibu adik sepupu saya) saya punya beberapa rumah kontrakan yang disewakan untuk para buruh.

Anak salah seorang penyewa yang paling setia sekarang terbujur lemas di Rumah Sakit. Tak ada uang, ayahnya terlambat membawanya ke rumah sakit. Dua minggu panas tinggi baru ditangani Dokter, itu pun dari uang pinjaman. Ketika dirawat trombosit si Anak turun drastis menyentuh angka empat belas ribu dari angka normal seratus empat pulu ribu. Kelopak matanya sudah naik ke atas, sehingga hanya warna putih saja yang masih terlihat. Kaki hingga leher sudah pasi dan dingin.

Rumah sakit menolak merawat jika tak ada uang muka Rp. 5 juta. Bagaimana mungkin ada uang sebesar itu? Bapaknya buruh yang baru di-PHK akibat rasionalisasi Pabrik. Ibunya cuma buruh yang statusnya sekarang adalah dikontrak! Akhirnya, si anak dilarikan ke rumah sakit lainnya yang letaknya jauh dari rumah, namun mau menampungnya.

Kabar terakhir aanak tersebut sudah mengalami pendarahan di otak. Dari mulut dan hidungnya darah segar mengucur. Si bapak kehabisan uang, bahkan tak ada yang tersisa untuk makan sekalipun! Untungnya ada tetangga yang mau berbaik hati mengantarkan makanan ke Rumah Sakit.

Lalu bagaimana para pemilik pabrik bertindak? Pabrik tak ambil pusing. Buruh kontrak Cuma mesin saja, tak perlu jaminan kesehatan dan tunjangan keluarga. Hilang satu, cari lagi yang lain. Kemiskinan dan ketekberdayaan mencipta takdir tak terelakkan bagi Buruh.

Surat kabar dan layar kaca tentunya senang. Bad News is a Good News, begitu bukan? Namun, seperti kata Wiji Thukul "Dunia tak bergerak setelah surat kabar dilipat"

Bogor

, 27 Januari 2007

Pelajaran di Awal Tahun: Kebodohan dan Ketidaksopanan

Monday, January 1st, 2007

Luar biasa malunya hari ini. Pagi-pagi tadi, saya berniat berkunjung ke rumah salah seorang yang selama ini hanya saya kenal lewat tulisan-tulisannya saja. Pinjam motor saudara sambil tanya alamat, meluncurlah saya ke tempat George, orang yang akan saya temui.

Beberapa kali saya turun dari motor untuk menanyakan alamat. Akhirnya setelah sekitar sepuluh menit putar-putar kebingungan, saya temukan juga alamat yang dituju. Sebuah rumah kecil yang terletak di samping deretan kos mahasiswa. Letaknya di daerah Deresan, Jogja.

Saya ketuk pintu rumah. Tanpa menunggu lama, empunya rumah menjawab ketukan saya dengan engsel pintu yang digerakkan. Tampaknya George sudah menunggu cukup lama–karena saya ngaret sekitar sepuluh menit dari waktu perjanjian.

Ruang tamu tempat saya dan George ngobrol tak begitu besar. Sofa tua dengan sebuah dingklik bambu panjang disusun segi empat. Sebuah Televisi 14" berada di atas rak berisi pajangan botol minuman beralkohol, terletak persis di samping saya duduk, di seberang George berada. Kami mengobrol ringan sebagai perkenalan. Datanglah seorang wanita paruh baya membawa nampan berisi dua gelas teh manis, beliau mempersilahkan saya minum.

Tak lama berselang, sajian kedua dihidangkan. Makanan khas Poso kalau tak salah. Lontong nasi yang dibanjur makanan berkuah seperti soto. Saya lupa apa nama makanan itu. Lumayan untuk mengganjal perut yang belum diasupi apapun selain kopi hitam sejak pagi tadi.

Selesai makan, mulailah pembicaraan kami. Awalnya saya masih bisa mengikuti, tapi tak lama. Benar-benar sebentar. Dimulai ketika George membahas tentang nasionalisme. Saya mulai gelagapan menjawab pertanyaan-pertanyaan dia yang memang tak saya kuasai. Runtuhlah percaya diri yang biasanya menempel pada omongan saya. Betul-betul bodoh saya ini.

Saya terus saja tampak seperti orang dungu ketika mencoba memikirkan dengan baik setiap kalimat yang diucapkan George. Hingga suatu ketika dia menyadarinya dan bilang pada saya "jangan bengong, ini masih pagi." Saya ingin menjawabnya dengan "bukan bengong pak, tapi tak mengerti," apa daya tak ada keberanian, jadi hanya senyum kecil yang kecut tersunging di bibir saya..fiuhh.

Beberapa lama kemudian tampaknya George mulai menyesuaikan diri dengan kebodohan saya. Dia mulai berhati-hati ketika menyebut nama-nama. Tetap saja, saya tak bisa membantunya ketika dia berusaha mengingat dengan keras nama seorang pengamat militer. George putus asa juga karena saya tak bisa membantunya mengingat, dia masuk ke dalam dan mengambil sebuah buku. "Nah, ini dia, namanya bla bla bla." Dia ingat dan saya tambah malu lantaran buku yang dikeluarkan George tersebut sudah pernah saya baca dan sekarang tersimpan rapi dan agak berdebu di rak buku.

Untungnya tiba2 handphone bergetar. Ternyata seorang kawan menelpon. Saya keluar dan mengangkatnya, kami bicara tak lama, mungkin sekitar dua menitan. Saya masuk kembali setelah mengangkat telepon. Kembali ngobrol dengan George dan lagi-lagi bertindak seperti orang bodoh. pelanga-pelongo, sembari sesekali menimpali.

Tibalah waktunya pulang. Meskipun banyak hal saya dapat dari George, tapi terus terang saya merasa tak nyaman di dekatnya. Saya pakai sepatu dan pamit. George mengangguk dan mempertanyakan perihal suguhan teh manis yang tak disentuh oleh saya. Saya anggap hal tersebut sekedar basa-basi a la orang Jawa. Tapi ternyata tidak, saya melakukan kesalahan besar sekali lagi. Dia ingin tehnya dihabiskan karena bisa menyinggung istrinya yang sudah menyuguhkan.

Dengan rasa malu yang semakin terakumulasi saya copot sepatu dan masuk kembali. Saya minum teh manis dengan perlahan. George cerita perihal dua orang tamunya yang dulu pernah menyinggung istrinya karena berlaku seperti saya. Setelah teh habis diseruput, saya pamit untuk kedua kalinya. Mencoba untuk tak melakukan kesalahan lagi.

Saya pakai helm dan tekan tombol starter elektrik motor. Masuk ke gigi pertama, lalu saya gas. Awalnya perasaan jengkel menyertai kepulangan saya. Lalu, ucapan syukur menggantinya. Untung saya bertemu dengan George, sehingga saya tahu bahwa saya masih sangat bodoh (Hijau, kalau George bilang) dan tidak sopan dalam berlaku.

Mengiang kembali ucapan George. Supaya tak lupa, langsung saya menuju warnet dan tulis ini pengalaman. "Kamu masih hijau" dan "berlakulah sopan, kamu khan orang Jawa," dua kalimat yang akan saya ingat selalu dari pertemuan ini. Ya sudahlah, memang saya yang salah….

Deresan, Jogja, 2 Januari 2006

Pelajaran di Awal Tahun