Archive for November, 2006

Survey Terbaru mengenai para Pengajar

Saturday, November 11th, 2006

Tahukah anda sekalian yang berstatus Mahasiswa? Dosen memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga bisa gonta-ganti jadwal seenaknya, masuk kelas terlambat, dan mengatur nilai dengan sewenang-wenang? Saya yakin semuanya pasti tahu. Tapi sadarkah anda bahwa dosen bisa mengatur bahan-bahan apa saja yang berhak masuk dalam otak anda? Ini adalah kesaktian dosen paling berbahaya dan jarang dikomentari oleh mahasiswa yang sakit hati, kesaktian untuk mengatur bahan kuliah

Ada beberapa kemungkinan penyebab pengaturan bahan mana saja yang bisa masuk ke otak Mahasiswa. Penyebab itu juga menentukan jenis Dosen dan membaginya ke dalam berbagai kategori. Pertama, Dosen kampring . Manusia yang jadi Dosen hanya karena gelar S.Sos atau MSi tercantum dalam namanya. Kemampuan dosen jenis ini hanya terbatas pada mencatat ulang definisi dari berbagai buku, mencetaknya dalam transparansi, dan membacanya ketika kuliah. Dosen seperti ini sering mengajukan ucapan agresif yang emosionil ketika ditanyai sesuatu yang dia tidak tahu dan tidak tercetak di atas transparansinya. Otoritas yang dimilikinya memungkinkan timbulnya keberanian untuk menyudutkan Mahasiswa yang coba-coba menguji tingkat intelektual Dosen. Ciri menonjol dari jenis yang pertama ini adalah topik yang dibicarakan ketika kuliah. Daripada berbicara sesuai mata kuliah, Dosen kampring ini lebih suka menyaingi Ustad Jefri. Berpetuah dalam kelas, cerita ini-itu tentang keluarganya yang berhasil, serta membagikan berbagai pengalamannya semasa Mahasiswa dulu. Singkatnya, Dosen seperti ini lebih cocok jadi teman curhat atau penjaga bayi yang membacakan dongeng sebelum tidur.

Kedua, Dosen yang trendy. Trendy bukan dalam artian memakai baju distro atau mengucapkan kalimat-kalimat gaul ketika kuliah. Dosen trendy adalah jenis intelektual yang pikiran dan pendangannya merujuk pada ilmu yang sedang nge-trend. Bisa jadi pengetahuannya luas, mulai dari 35.000 SM hingga tahun 2006, namun dia menganggap ”yang dulu” sebagai ketinggalan zaman dan salah, sehingga yang lebih patut diajarkan adalah yang kini. Sederhananya: trendy berarti benar. Dosen trendy kurang bisa menganalisis peristiwa masa kini dengan perspektif yang lahirnya sejak ribuan tahun lalu. Karena zaman Heraklitos belum ada sinetron maka tidak mungkin untuk mengomentari sinetron dengan asumsi Panta Rhei, padahal mungkin saja ada pengembangan dari asumsi tersebut yang bisa dipergunakan.

Ketiga, Dosen oportunis. Jenis inilah yang paling berbisa dan mempunyai kemampuan untuk membunuh perspektif Mahasiswa. Dari Socrates, Marx, sampai Derrida dia kuasai; mulai Doenia Bergerak dan Bintang Timoer hingga Kompas dan Lampu Merah dia tahu sepak-terjangnya; mesin cetak Guttenberg yang kuno sampai bikin web Internet dengan mudah dia operasikan!Sayang beribu sayang, yang diajarkan ke Mahasiswa hanyalah pengetahuan yang cocok dengan kebutuhan dunia kerja. Maksudnya baik agar setelah lulus Mahasiswa bisa dengan mudah diterima di perusahaan multinasional atau kantor berita luar negeri dengan gaji dalam kurs dollar. Luar biasa baiknya dosen ini sehingga dia menghindarkan Mahasiswa dari kegelisahan akibat banyak memiliki perspektif dan meniupkan imajinasi dunia yang titi tentrem kerta raharja dalam kesadaran anak didiknya. Tentu saja mantan anak didiknya yang sekarang bekerja dan punya kedudukan penting di Astra, Freeport, atau Playboy dengan gaji yang cukup untuk beli rumah di Bintaro, Komunikator, dan sebuah city car model terbaru, harus sangat berterima kasih pada pak Dosen.

Saya akui, seringkali hati dongkol berhadapan dengan ketiga jenis Dosen yang saya sebutkan tadi. Survey membuktikan: tidak sedikit Mahasiswa yang punya keluh-kesah yang sama dengan saya. Jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah Lembaga Survei Kampus membuktikan 82,98673425% Mahasiswa lebih suka tidak mempersoalkan Dosen brengsek yang masuk dalam ketiga kategori di atas, termasuk di dalamnya saya!98% Mahasiswa yang menolak mempersoalkan beralasan bahwa nasib Mahasiswa berada di tangan Dosen dan menganggap Dosen juga manusia (jadi perlu dihargai sebagai orang yang lebih tua), termasuk saya juga.

Catatan: data-data angka yang digunakan fiktif belaka. Hanya digunakan untuk mendukung teman-teman yang ingin melakukan penelitian terhadap kinerja Dosen. Mudah-mudahan berguna untuk menghasilkan iklim kuliah yang lebih funky.

Sekedar Romatisme

Saturday, November 11th, 2006

Ja, Das Leben ist Ein Weib—Ya, hidup adalah wanita (Nietzche)

Aku kembali menapaki jalan yang lebih dari lima tahun lalu sering kita lewati, entah bersama atau tidak. Banyak yang berubah. Bangunan di kiri dan kanan jalan sudah dirubuhkan, berganti yang baru. Kuingat, dari gerbang sekolah mataku menatap gontai langkahmu yang pasti, aku menyerumu dari seberang jalan. Belum lupa akan malam, ketika aku harus terlambat pulang karena menunggu lelaki lain menjemputmu. Angin mengaburkan suara sayup dari mulutku yang berdendang mengusir kecewa dan sakit hati.

Malam memang kawan ketika itu dan sekarang masih seperti itu meski dengan kesan yang berbeda. Beberapa tahun lalu malam menghadirkan banyak kejadian, bersamamu. Sekarang bentukmu hanya imaji yang tampil dalam kenangan. Hanya bisa mengingat dan membayangkan. Dulu kau sebuah impian dan kini seongok harapan yang mati. Kehadiranmu tercatat dalam lembar-lembar kertas yang mengisahkan hasrat; dalam kalimat sanjungan akan kesederhanaan yang menampilkan sejuta pesona.

Jalan ini bukan sekedar alamat, tapi peta dalam ingatanku. Dengan rapi ia tersimpan di salah satu sudut ingatan. Aku bisa pastikan. Bukan lagi mataku yang gontai menatapmu dari seberang, tapi rasa yang mulai meluruh. Pakaianku bukan lagi putih-abu dan buku yang kubawa dalam ransel berbeda, bukan berwarna hijau atau kuning dengan tulisan bahasa asing lagi. Aku tak mungkin lagi meyerumu di seberang jalan.

Ingatan yang panjang membawa lamunan ke ujung jalan tempat dahulu kita biasa menunggu angkutan. Guruh berdentuman di cakrawala merangkai melodi indah yang menakutkan. Tiupan asap rokok terakhir keluar dari mulutku, buyar diterpa kencangnya angin pertanda hujan segera datang. Kulayangkan pandangan menyisir sekeliling dan sekali-sekali menatap jalan yang kini berada di belakangku. Memastikan bahwa bukan jalan ini yang menghadirkan perubahan, tapi dirimu.

Ahh, bayangmu masih suka bersanding dengan kesendirianku. Aku meracau lagi… Jatinangor, 41106, 4:09