Archive for October, 2006

Ah, Ga Madilog Lu!!

Thursday, October 19th, 2006

Sudah menjadi kebiasaan, tiap kali pulang ke Jogja saya akan bersentuhan dengan hal-hal berbau mistik–atau religius, saya agak sulit membedakannya–entah lewat dialog atau sekedar menguping pembicaraan bapak-bapak yang nongkrong di angkringan (tempat nongkrong, makan, dan pasang nomer buntut khas Jogja), macam-macam cerita yang sulit diterima nalar mampir di telinga saya. Seperti yang terjadi kemarin, lewat pembicaraan dengan Pakde saya.

Pukul 10 lewat saya keluar kamar. Niatnya ingin mencari segelas kopi hitam untuk dijadikan teman merokok. Sampai di pintu rumah ternyata ada pakde (kakak dari ibu) saya dan beliau punya niatan sama. Jadilah kami berdua meluncur menembus dinginnya malam menuju salah satu angkringan yang terletak tak seberapa jauh dari Jl. Malioboro.

Sesampainya di tujuan, saya memesan segelas besar kopi hitam dan Pakde saya memesan teh manis, dengan ukuran gelas yang sama. Kami pun sama-sama menyalakan rokok dan saya memulai pembicaraan. Saya bertanya pada Pakde mengenai penyakit yang diderita oleh ayah salah seorang teman saya. Kebetulan pakde saya ini ahli pengobatan alternatif yang sering dimintai pertolongannya oleh orang-orang berpenyakit berat–kanker, stroke, dsb. Pakde tampak menggoyang-goyangkan tangannya. Cara seperti itulah yang beliau gunakan untuk mendeteksi penyakit seseorang yang jaraknya jauh. Setelah melakukan ritual pendeteksian tersebut, pakde bertanya beberapa hal pada saya. Ia kemudian sampai pada suatu kesimpulan bahwa penyakit yang diderita ayah teman saya itu sudah sampai tahap kronis.

Saya mengangguk sok-sok paham. Selanjutnya seperti apa saya agak lupa, yang jelas Pakde lebih banyak bercerita dan saya lebih banyak mendengarkan. Sebuah cerita tentang seseorang kyai benar-benar membuat saya kagum. Kyai ini kalau tak salah adalah pemimpin sebuah pondok pesantren di daerah Krapyak, Jogja. Beliau inilah yang kerapkali diminta pertolongan ketika anggota kelaurga atau tetangga-tetangga saya di Jogja sakit parah tapi susah meninggal. Dua orang keluarga saya sudah ditolongnya.

Pertama, nenek buyut saya yang usianya hampir seratus tahun. Buyut saya sudah lemah sekali fisiknya, hanya bisa tiduran dan sudah tidak bisa mendengar. Setahun atau dua tahun lalu nenek buyut menderita sakit keras (menjelang maut tapi sulit meninggal) dan pak Kyai didatangkan oleh ibu saya. Pak Kyai memberi beberapa cara, diantaranya membaca yasin sekeluarga, mengundang anak yatim mengaji, dsb. Beberapa cara yang dianjurkan pak Kyai dilaksanakan, namun menemui kegagalan karena ritualnya tak secara penuh dijalankan–ada yang terlewat atau gagal pada satu bagian. Akhirnya cara terakhir dijalankan, membacakan surat Yasin di dekat nenek-buyut untuk mengantar beliau menghadapi sakratul maut. Dan hebatnya, cara ini berhasil membuat nenek saya meninggal.

Kedua, paman dari ayah saya (kakek atau mbah kakung) menderita penyakit stroke dan Kyai sakti ini kembali didatangkan untuk melihat keadaan kakek saya. Setelah melihat keadaan kakek saya beliau berujar–saya tak tahu pasti pada siapa, disana ada orangtua saya, seorang ustad, dan keluarga kakek saya–"jangan ditinggal, nyawanya cuma sampai sekitar pukul 2" (ketika itu mungkin pukul 1). Pak Ustad yang ada disitu tak setuju ketika Kyai tersebut berkata seperti itu. Menurut pak Ustad itu melangkahi takdir Gusti Allah. Kyai Sakti pun melangkahkan kaki pulang bersama dengan orangtua saya. Tak seberapa jauh dari rumah kakek, dan menjelang pukul dua, orangtua saya dipanggil oleh keluarga kakek. Tak disangka ramalan kyai sakti tersebut tokcer. Kakek saya meninggal dunia pada jam yang diperkirakan oleh Kyai.

Sayang beribu sayang, sekarang Kyai sakti ini telah tiada. Kabarnya beliau dibunuh. Ada satu hal lagi yang hebat. Dari keluarga saya–pakde dan tante–yang mendatangi pemakaman pak Kyai, saya mendengar bahwa darah dan mayat pak Kyai begitu harum baunya. Tepat setelah pembacaan doa di pekuburan selesai, hujan deras pun mengguyur–itu juga yang diceritakan Pakde saya.

Saya tak tahu bagaimana membedakan mistik dan religiusitas. Pun saya dan anda tak bisa membenarkan cerita-cerita di atas dengan logika keilmuan. Cerita Pakde benar-benar meyakinkan. Entah karena saya terpana mendengar suara yang keluar dari mulut Pakde yang dilingkari kumis dan jengot yang begitu lebat atau karena kebenaran cerita itu. Saya tak tahu bagaimana memastikan kebenara cerita itu. Kemudian saya teringat akan seorang teman, yang bila mendengar cerita Pakde saya tersebut mungkin akan berkata: "Ah, Ga Madilog Lu!!".

Puasa Mengajarkan Solidaritas

Thursday, October 5th, 2006

saya bukanlah orang yang ahli mengutip ayat-ayat Al-Quran dan menjelaskannya dengan berbagai cara yang begitu ruwetnya. Jadi pembaca semua, sebelumnya saya minta maaf jika memang tulisan ini agak asal-asalan. Saya hanya terdorong saja, sebagai orang yang berpuasa, untuk menulis barang satu atau dua paragraf tentang puasa. Saya terdorong oleh kawan-kawan saya yang sepertinya hanya menjalankan puasa sebagai kebiasaan tahunan layaknya 17an, tak lebih. Mungkin bila membaca tulisan saya ini, ada sedikit hikmah yang bisa dipetik saudara pembaca sekalian.

Sebagai seorang Islam, mungkin hanya ritual puasa saja yang saya jalankan dengan senang hati. Hasrat begitu menggebu ketika Ramadhan datang, ibarat kata kedatangan kawan lama. Saya sendiri tak tahu apa maksud Tuhan menjadikan satu bulan begitu penting dibanding bulan lainnya. Tapi saya, yang bukan Tuhan ini, punya pemaknaan sendiri tentang puasa. Puasa lebih dari sekedar menahan hawa nafsu. Lebih dari sekedar menahan mulut dari ucapan tak berguna, banyak menyendiri di masjid ketika malam, atau Lailatul Qadar yang lebih baik dari bulan seribu bulan. Setidaknya begitu dalam pandangan saya, karena tujuan saya berpuasa bukan untuk itu semua.

Puasa mengajarkan solidaritas. Solidaritas yang bertahap. Pertama, ia mengajarkan pentingnya simpati. Merasakan kesusahan kawan-kawan kita yang berpuasa tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Mereka mungkin tidak shalat, dan sudah jelas tak mampu berhaji. Kaum miskin yang tahap pemenuhan kebutuhannya masih pada tahap primer–makan, minum, dan istirahat. Tuhan dan Agama tidak begitu penting dalam hidup mereka, karena tanpa dua hal tersebut menjadi penting pun manusia masih bisa hidup. Tahap pertama ini yang paling sering digembar-gemborkan lewat ceramah-ceramah. Para agamawan kita jarang melampaui tahap ini.

Tahap kedua adalah solidaritas. Solidaritas terwujud dalam Zakat. Secara ekonomi zakat tidak begitu berarti karena nilainya yang begitu kecil dan sifatnya yang tidak seperti pajak progresif. Secara simbolis zakat menekankan pentingnya redistribusi ekonomi, karena institusi kepemilikan pribadi diakui dalam Islam dan memperkecil kemungkinan kepemilikan bersama. Simpati tidaklah berarti tanpa solidaritas. Solidaritas zakat tidak memandang agama. Dalam Al-Quran tidaklah diharamkan berzakat pada yang non-muslim, meskipun Muallaf termasuk dalam golongan yang patut menerima zakat. Tapi perlu diingat sekali lagi: setiap yang fakir, miskin, musafir, penghutang, tidak dibebani oleh kategori Islam atau tidak. Singkatnya. simpati harus diolah agar punya arti, tanpa memandang SARA. Agar ia bergerak dari rasa menuju tindakan yang kongkrit.

Tahap terakhir adalah tahap persamaan kedudukan. Persamaan yang dicapai ketika Idul Fitri tiba. Memang persamaan dalam Idul Fitri tidaklah sehebat persamaan dalam haji seperti yang digambarkan Syariati, tapi dia tetap punya arti yang penting. Dengan solidaritas yang terwujud dalam zakat, tiap-tiap manusia bisa merasakan Idul Fitri tanpa pikir perut yang lapar pada hari itu.

Dari ketiga tahap tersebut, solidaritas menempati posisi terpenting. Mengapa? Karena dia tak memandang perbedaan agama. Puasa mengajarkan sesuatu yang terlupa dari keseharian kita: solidaritas! Alangkah baiknya jika kita benar-benar paham akan hal ini dan menerapkannya tidak hanya sekali dalam setahun.