Puisi Pepisahan
Friday, September 15th, 2006Puisi Perpisahan
Untuk bidadari imaji yang sulit kugapai
Hari lagi-lagi merenggutmu dariku
Tapi bayang masih menancap tajam ketika malam
aku terbakar galau sendirian
dan kau mungkin tertawa kencang
Puisi Perpisahan
Untuk bidadari imaji yang sulit kugapai
Hari lagi-lagi merenggutmu dariku
Tapi bayang masih menancap tajam ketika malam
aku terbakar galau sendirian
dan kau mungkin tertawa kencang
SAYA LELAH. Kadangkala malam sepi menghampiri dengan pertanyaan: apa gunanya usaha saya. Dan malam selalu kembali tanpa pernah pertanyaan terjawab dengan memuaskan. Saya hanya tertawa menghibur diri, melipur lara sedikit. Setan pun ikut tertawa karena saya mulai putus asa, tawanya bahkan lebih menggema daripada saya. Mereka tak berhak ikut tertawa, semuanya cuma menjatuhkan mental saya. Saya timpali mereka dengan ucapan: brengsek! beranjaklah, tinggalkan kesendirian saya.
Besok paginya saya bangun. Membasuh muka, lalu menyeduh segelas kopi dan membakar sebatang rokok. Selalu seperti itu. Putus asa dan lelah masih tersisa di badan. Seiring dengan asap rokok yang keluar mengepul, terbangunlah kekuatan yang baru dalam diri saya. Mengingat teman-teman saya yang mungkin juga mulai putus asa dan mungkin juga tidak. Saya ingat malam ketika tubuh menggigil mengingat kawan seperjuangan–mengingat semangat mereka yang begitu menggebu.
Tubuh disandarkan pada tembok dan otak masih mengulang. Tertawaan setan masih mengiang di telinga. Sakit hati masih tertanam di benak. Sendirian dalam kamar saya acungkan telunjuk tangan kiri saya seperti orang gila. "Bangsat semua kalian, hanya bisa tertawa!".
Dalam hati menggumam. Saya tak mau jadi tertawaan setan. Saya tak mau pasrah dan putus asa. Lelah bisa dilawan semangat saya. Dan doa menutup kutukan saya terhadap setan: "Tuhan, dirimu tak pernah tinggalkan aku dalam putus asa, walau sedetikpun. Pasrah hanya untuk-Mu, dan perlawanan untuk mereka! Hancurkan aku jika memang Kau mau. Kutuk aku dengan putus asa hanya jika usaha ini sia-sia belaka"