Archive for August, 2006

Sedikit Kritik buat Wartawan Salon

Tuesday, August 29th, 2006

sebenarnya saya mau komen masalah tulisan deno tentang jurnalis narsis yang ‘manis-manis’ itu, namun tampaknya comment-nya ga di open, jadi ga bisa. Mudah2 bukan karena takut mendapat kritikan atau tentangan. Jadi saya putuskan untuk menulis di blog saya dan memberinya judul ’sedikit kritik buat wartawan salon’.

Kata wartawan salon saya iseng saja membuatnya. Inspirasinya dari kata intelektual salon–mereka yang kerjanya sok2 an di forum agar dianggap pintar. Misinya satu saja: agar dihargai dan dipandang tinggi orang banyak. Jalannya satu juga: lewat tipuan citra diri.

Wartawan Salon pun seperti itu. Mulutnya sampai berbusa jika membicarakan bagaimana dia membongkar korupsi atau meliput perang dari Zimbabwe. Semanggatnya meledak-ledak dan tulisannya seperti dinamit ketika menuntut kebebasan pers. Diagung-agungkannya deikasi pada kebenaran. Kebenaran mereka, elemen-elemen jurnalisme-nya Bill Kovach–buku ekletik, mengharuskan wartawan yang manusia menjadi seorang malaikat yang cuma menyebarkan kebenaran. Penderitaan lalu membuatnya bangga. Bukan karena yang dibelanya tapi karena pujian orang2 atas penderitaannya tersebut.

Calon Wartawan salon jalannya mantap. Bukan keyakinan yang kuat yang membuatnya seperti itu, tapi karena jaket biru yang dipakai melindungi boroknya dari orang lain. Borok akibat luka mengangga akibat dosen yang sok suci anti-korupsi, padahal mengambil uang hasil peluh mahasiswa (yang diharamkan oleh Agamanya yang juga diagung-agungkan); borok akibat sok pintar sebut-sebut berbagai macam buku agar dipandang banyak membaca, padahal yang disebutnya salah; borok yang ditutupi karena dia selalu pakai parfum sehingga bau busuknya tak keluar. Lalu dimanakah kebenaran yang kalian agung-agungkan????

Kebenaran runtuh saja di meja redaksi. Dipalu dan dihantam iklan dan pendapat umum. Apakah anda memberitakan secara berimbang?Tidak karena anda cuma melayani kepentingan satu golongan saja, golongan yang beli, baca, dan tonton media anda. Jelas bos tak mau ditinggal pembaca karena mengritik pembacanya sendiri.

                                                   —–0O0—–

Kebanggaan bukannya tidak perlu, bahkan ia harus ada. Kebanggaan itu harga diri!Namun, sekali lagi ada namunnya, kebanggaan itu harus diletakkan pada tempat yang seharusnya. Jadi sekarang pertanyaannya: apakah pekerjaan dan jurusan jurnalistik kita tercinta perlu dan layak dibangga-banggakan?

Untuk hal yang satu ini saya sepakat dengan Deno. Bahkan saya rela jika wartawan digebuk demonstran, atau mobilnya dilempar batu. Sederhananya saya tak menolak kekerasan yang dilakukan pada wartawan. Mungkin beberapa orang tak akan menghalalkan kekerasan dalam kasus apa pun. Tapi kekerasan saya rasa layak dibalas dengan kekerasan.

Berita itu kekerasan simbolik. Mereka menyalahkan buruh ketika merusak tanaman sepanjang trotoar?Apa mereka pernah melihat penyebab kekesala tersebut di balik deru mesin dan kokohnya tembok pabrik?Apa pernah mereka tulis penderitaan buruh cetak yang dipekerjakan Kompas atau Cleaning Service di Metro TV.

Saya katakan: jangan mengklaim memiliki idealisme. Idealisme itu tidak tunggal, dia bisa dipandang bermacam-macam. Jangan mengklaim berimbang, karena anda tidak pernah melakukannya. Jangan juga bangga-bangga dengan jurusan jurnalistik kita tercinta kalau kita belum tahu boroknya!!!Kita perlu ‘menepuk air di dulang’, agar muka kita terciprat dan kita bangun dari banga-bangga yang kita bangun. Mari kita bakar saja jaket biru itu jika gunanya hanya menutupi borok.

Komentar tentang Diam

Wednesday, August 2nd, 2006

Diam memang menakjubkan, dan saya kerapkali dibingungkan ketika harus berkomunikasi dengan mereka yang lebih memilih menyampaikan pesannya dengan diam. Saking hebatnya–sepengetahuan saya–belum ada penjelasan dari ilmu komunikasi yang cukup mengagumkan tentang fenomena ini. Memang ada teori “Spiral Kesunyian” yang mencoba menjelaskan sikap diam sebagai sebuah tindakan menunggu suara mayoritas yang sependapat dengannya, namun penjelasannya pun sangat tak memuaskan.

Diam punya banyak arti. Tak mengerti, pura2 tak mengerti, menolak, manut-manut saja, dsb. Yang jelas, diam membuka peluang yang lebar terjadinya kesalahpahaman, karena diam tak punya arti yang pasti. Itulah yang membuat diam menjadi indah.

Yang paling menarik, sikap ini diprektekan oleh agama atau kepercayaan yang beranggapan diamnya (meditasi) merupakan sumber pencerahan (pengetahuan). Ketika bahasa dan kata-kata sudah kehabisan energi untuk menjelaskan segala sesuatu, diam mengambil tempat istimewa. Terlontarlah kalimat indah dari Budhisme Zen: “bahasa seperti roda. Jari-jarinya memusat namun meninggalkan ruang kosong di sekitarnya”. Meskipun kata-kata merujuk pada sesuatu, tapi penggunaannya tetaplah tak bisa mendeskripsikan sesuatu secara utuh dan sempurna.

dahulu, saya berpikir “Jari-jari yang kosong dalam roda itu” bisa ditutupi dengan penggunaan hal-hal seperti gestur, mimik, dsb. Mereka yang imannya kuat terhadap pendapat tersebut pasti mempertahankan argumen tersebut, dan saya mungkin berada dalam posisi yang berseberangan dengan mereka. Saya sangat suka berkomunikasi dengan orang lain, mengungkapkan segala hal melalui bahasa dan gerakan, sayangnya hal tersebut sangat menguras energi.

Ketika mulai lelah dan kehabisan kata-kata, saya mengarahkan diri menuju ruang diam. Menutup mata, atau sekedar memandang lapangan bola berdebu di depan kosan. Menyaksikan ramainya dunia dan seluk-beluk persoalannya. Mencari apa yang terlewat dalam umur saya yang cuma selintas. Dari diam saya tahu saya harus bertindak apa.