Archive for July, 2006

Membatasi pilihan dengan Uang

Friday, July 28th, 2006

sore, langit, dan hidup yang indah, seketika dirusak oleh sebuah SMS datang yang hingga sekarang mengganjal di pikiran. Seorang kawan pindah tempat tinggal ke sabrang pulau. Alasannya: Jawa rawan gempa. Sebab yang dibuat-buat, sebab katanya BMG pun tak bisa meramalkan terjadinya gempa. Begitu mudahnya sebuah keputusan yang diambil hanya disebabkan alasan yang menurut saya remeh dan tidak masuk akal. Pendapat saya tersebut kemudian dibenarkan berita Gempa yang datang dari gunung Sitoli di Sumatra Utara nun jauh disana. Dan lagi-lagi pikiran yang agak filosofis melintas di otak saya, masalah pilihan.

2Yang ingin saya gugat adalah kuasa harta atas pilihan. Semakin hari, mereka yang miskin semakin dibatasi saja aksesnya untuk memilih. Miskin harta bukanlah pilihan tapi akibat dari tidak meratanya pendapatan. Mungkin bila nanti gempa benar2 sudah bisa diramalkan terjadi, dan Jawa sebagai tempat paling rawan, pemerintah dan orang-orang kaya akan menempatkan para jembel perkotaan, kaum miskin desa, janda tua yang tak mampu, dan mereka semua yang senasib dalam hal ekonomi di pulau Jawa. Tak beda yang mereka lakukan itu dengan Hitler yang membunuh Yahudi dengan mengurungnya di kamar gas beracun.

Sekarang saja akses mereka yang lemah ekonomi mulai ditutup secara perlahan. Air dikomersialkan, listrik dinaikkan, pendidikan dijual, rumah sakit semakin mahal, lau apa yang tersisa untuk mereka?Harapan dan anjuran sabar selalu saja dilontarkan untuk membuai mereka dalam masa depan lebih baik yang tak lebih dari omong kosong. Mereka terus saja disingkirkan kemanusiaannya dengan pembatasan pemenuhan kebutuhan, bahkan untuk yang primer sekalipun. Misalnya saja rencana Jend Purn Sutiyoso untuk menswastakan pengelolaan air di wilayah DKI Jakarta. lima, tujuh, sepuluh tahun, atau bahkan lebih singkat dari itu, mereka yang hidup di bantaran kali Ciliwung pun terpaksa mengonsumsi air sungai yang dicemari pabrik-pabrik orang kaya brengsek itu. Meskipun untuk hidup sehat, masyarakat layaknya mengonsumsi air bersih dari PDAM toh akses mereka tertutup karena mereka tak punya cukup uang untuk membeli air bersih. Artinya memang mereka tak punya pilihan.

ImagesYang ada dalam pikiran orang kaya hanyalah laba, laba, dan laba. Masa bodoh si kere diare gara-gara minum air sungai kotor; bodoh karena tak bisa sekolah; kurus karena jarang makan. Iba mereka disimpan saja setelah koran yang memberitakan kelaparan di papua dilipat, atau chanel TV dipindah ke acara kontes bintang segala rupa. Buat mereka rasa simpati cukup saja disampaikan dengan kata "kasihan ya", "astaghfirullah", atau "inalillahi". Kata-kata itu sudah dirasa cukup mengurangi beban mereka. "Yang penting kita berdoa untuk mereka," enteng saja mereka berkata seperti itu. Orang miskin dibuai cerita nenek tua jahat yang agar terlelap. Mimpi lalu mengganti kenyataan. Sayang beribu sayang si miskin bermimpi tentang menjadi sadar atas keadaan mereka. Tinggal menunggu saja mereka bangun dari lelapnya cerita indah si nenek, dan si nenek diantar menuju kematiannya yang sudah dekat.