Urun Rembug yang Aneh
Saturday, June 3rd, 2006Saya mencoba sekedar urun rembug tentang keanehan. Dan terserah anda mau menyebut tulisan ini aneh atau apa. Anda boleh pegang janji saya:saya akan menghargai pendapat anda.
Jangan pernah berkata bahwa hidup anda tak bermakna!Anda mungkin tidak sadar makna menyelimuti anda seperti juga udara di sekeliling anda. Apakah anda pernah sadar bahwa anda dikelilingi udara?? Saya mulai dengan makna karena menurut saya inilah pangkal segala keanehan. Hebatnya makhluk bernama manusia! Dia diberi kemampuan memaknai, sebebas- bebasnya. Memaknai adalah sejenis keajaiban yang membuat sesuatu itu punya nilai. Mengapa keajaiban?Karena kita kadang tak tahu makna itu datangnya dari mana, seperti keajaiban yang ditampilkan pesulap dengan mengeluarkan kelinci dari topinya. Saya ambil contoh kasus. Apakah ada yang tahu mengapa jari tengah yang diacungkan identik dengan frasa inggris Fuck U?Jika ada yang tahu beritahu saya dan bagi yang tidak tahu, inilah contoh keajaiban pewarisan makna. Tiba-tiba saja Jari tengah yang diacungkan ngetrend di kalangan anak muda, ingat anak muda. Kasus lainnya. Dua garis putih di jaket hima saya melambangkan idealisme dan profesionalisme. Apa teman-teman sejurusan saya ada yang tahu mengapa garis tersebut berwarna putih, bukannya merah atau hitam. Dua kasus diatas mejelaskan bahwa makna cuma hidup bila ada konsensus. Ada standar atau batasan yang menjaganya. Dua garis putih masih bermakna idealisme- profesinalisme selama dipakai dan dimaknai di lingkungan jurusan saya. Lain Padang lain belalang, lain lingkungan lain juga maknanya.
Sekarang perkenankanlah saya, Muhammad Kholikul Alim, dengan NPM KIA 040 030, anggota sah hima Jurnalistik memaknai dua garis putih sebagai perlambang komersialisme dan bohongisme. Bila hal tersebut saya ungkapkan dalam suatu rapat hima bisa saja saya dianggap aneh, pembangkang, tak menghargai sejarah, atau bahkan gila. Saya melanggar konsensus. Saya membunuh makna! "Mohon maaf kawan- kawan. Saya cuma mencoba menjadi manusia, menggunakan kemampuan memaknai. Saya sama sekali tak bermaksud seperti yang teman- teman tuduhkan pada saya."Itulah yang bisa saya jadikan pembenaran, bila memang kebenaran cuma soal makna. Bila hal- hal yang tampak di mata seperti diatas saja bisa memancing perdebatan, bagaimana nasib Yang Tak Tampak Dimata. Misalnya Gusti nu Ageung.
Ah sudahlah, toh tak akan ada akhirnya. Saya, anda, kita, mereka, toh cukup dewasa. Sudah bisa memaknai. Tak cuma sekedar ketawa- ketiwi, kesana- kesini, tanpa ngerti maknanya apa. Cukup dewasa juga kita untuk tahu bahwa semuanya fiktif belaka (bukan begitu Kono?), cuma permainan makna. Orang- orang aneh cuma mau menjadi manusiawi saja. Titik dan tak lebih. Menggunakan keajaiban makna untuk memberi nilai pada hidup. Si aneh cuma mau keluar dari konsensus-konsensus makna yang manusia- manusia normal buat. Berilah mereka ruang, untuk sekedar merayakan absurditas!