Woman Are Lovable, Aren’t They??
Thursday, April 20th, 2006Woman are Lovable, aren’t They?
When u Love a Barbie
Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel karangan—sebut saja—si X (bukan maksud menyamakannya dengan pelaku kejahatan dengan menggunakan nama samaran X) dalam majalah kampus terbitan fakultas. Judulnya membuat saya tertarik untuk membacanya, Everybody Loves Woman. Isinya bukanlah suatu hal yang baru, bahkan sudah sering dibahas. Wanita, sebaiknya tidak menjadi korban media, sehingga harus ikut-ikutan Barbie Culture. Mereka lebih baik tampil apa adanya dengan inner-strength dan inner-beauty-nya. Kira-kira begitulah isinya.
Memang bagi beberapa orang, Barbie Culture menjadi penyakit tersendiri. Idealnya, wanita tak perlu habis-habisan memoles tubuhnya dengan tetek-bengek kosmetik dan pakaian yang menghabiskan waktu dan biaya. Menutupi kekurangan dan bahkan kelebihannya dengan hal-hal artifisial (buatan) semacam pakaian up to date, mengecat rambut, mandi susu dan luluran untuk mendapatkan kulit yang putih dan mulus. Menurut saya pun sebaiknya seperti itu.
Tapi, hidup bukanlah suatu keharusan, namun suatu pilihan. Artinya wanita tak harus mengikuti ikut-ikutan atau tidak ikut-ikutan arus Barbie Culture. Mereka cukup memilih tanpa ada keharusan. Titik dan tak lebih. Sayangnya, pilihan selalu diikuti konsekuensi. Barbie sekarang sedang disukai. Memilih tidak menjadi Barbie berarti juga memilih untuk kurang disukai. Untungnya selalu muncul counter terhadap sesuatu yang mendominasi, seperti yang dilakukan penulis yang tulisannya saya baca tadi.
Si penulis mungkin saja belum pernah jatuh cinta pada seorang Barbie. Bagaimana bila tiba-tiba wanita yang dicintainya menjadi seorang Barbie?apakah dia menjadi tak menyukai wanitanya atau meninggalkan pendapatnya. Pilihan sulit tentunya, sebab katanya perasaan memiliki logika tersendiri.
Yang jadi pertanyaan sekarang: bila anda mencintai Barbie yang mengartifisialkan dirinya dengan produk-produk kosmetik, apakah cinta anda juga artifisial (dalam arti bukan cinta yang ideal atau sejati)?emangnya ada cinta sejati?tapi setahu saya, dari curhat-curhatan teman saya, artifisial atau tidak wanita yang disukainya bukanlah hal yang penting.
Meskipun sulit dinalar, tapi tetap saja keputusan untuk mencintai butuh banyak pertimbangan. Perasaan cinta bukan hal yang timbul secara spontan. Love at first sight?itu mah Cuma sementara saja. Setelah itu tetap saja ada pertimbangan. Kecocokan ekonomi, status sosial, cara memandang suatu masalah, seringkali dijadikan pertimbangan untuk melangkah lebih jauh dalam masalah cinta.
So, benarkah postulat woman are lovable?Apakah Lovable memang an sich pada wanita?Kenapa kekerasan lebih sering terjadi pada wanita?Jika memang Lovable, tentunya pertimbangan bukanlah sesuatu yang penting. Mau Barbie, gadis desa, pekerja seks, janda (bukan) kembang, wanita tetap saja lovable karena tetap wanita. Saya Cuma mau mempertanyakan postulat tadi. Apa mau, si penulis mencintai janda (bukan) kembang, atau gadis desa, karena pada dasarnya mereka tetap wanita. Apakah seorang wanita pekerja seks tetap lovable (menimbulkan kasih sayang), atau justru membangkitkan libido?
Memang, pilihan dipengaruhi oleh daya-daya. Wanita menjadi Barbie karena menurutnya dan banyak orang lainnya hal itu baik. Saya setuju dengan pendapat si X sebagai counter, namun ada namunnya. Mengapa menentang Barbie Culture jika memang woman are lovable?toh, kita sebagai kaum pria bisa mencintai wanita beserta pilihan yang diambilnya. Barbie atau tidak, woman still woman, and they’re could be lovable!!!Wanita, tetaplah menjadi wanita yang memilih dengan merdeka.