Archive for February, 2006

WAITIN IN VAIN; untuk mereka yang dekat dengan kesia-siaan

Saturday, February 11th, 2006

agak tertunda saya menulis tentang hal ini. Sebenarnya sudah lama tema besar ini ada dalam otak saya. Namun menunggu masih sebatas pengalaman dan belum diolah dalam ruang rasio dan rasa–karena memang belum tertarik untuk mengolahnya.
Sebenarnya apa yang membuat orang sebesar Om Marley tergugah untuk mengubah lagu tentang salah satu pengalaman manusia paling universal? Saya yakin tiap orang pasti pernah menunggu. Entah menunggu pagi dengan raut cakrawala menyenangkan; menunggu datangnya paman dari desa; dan tentu menunggu untuk seorang wanita/pria. Yang jelas menunggu bukan pekerjaan menyenangkan. Aktivitas yang tak pernah memberi anda kepastian. Bagaimana bila sebelum pagi datang anda meninggal atau kiamat terjadi?; bila Paman tak jadi datang karena bibi sedang sakit?; atau kepastian digantungkan di suatu tempat (yang entah berada dimana) oleh orang yang anda harapkan?.
Menunggu untuk anda mungkin memiliki finalitas, tapi tidak bagi saya. Menunggu tentunya punya tujuan. Bila tujuan tak tercapai yang didapatkan adalah Vain (kesia-siaan). Menunggu dan Tujuan berhubungan dan bertemu di satu titik, harapan. Harapan adalah nyawa, nafasnya menunggu. Yang perlu kita catat dan yakini adalah: harapan tak pernah memberi kepastian akan suatu finalitas. Penjahat yang paling kejam.
Untuk seorang soliter (penyendiri) yang keberuntungannya terlalu sering dirampok oleh cepatnya waktu, menunggu tak punya arti apa-apa. Saya justru bersyukur diberi kesempatan menunggu. Bukannya dihindari, menunggu harus dihadapai dengan berani. Diafirmasi dengan suatu tindakan reflektif. Anda mungkin terlalu sibuk menghitung detik yang sudah anda pakai, waktu yang anda pinjam dari hidup, sehingga menunggu merupakan aktivitas yang sia-sia untuk anda. Menunggu tak bisa diukur dengan meteran produktivitas. Maka itu jangan sekali-kali anda berani menyumpah kepada Sang Waktu bila menunggu tak jua menemui finalitas.
Menyalahkan waktu adalah pekerjaan orang gila. Waktu itu tak ada. Dia terbakar bersama kalender dan jam yang kehabisan baterai. Kata waktu harus dihapuskan dari kamus kosakata anda. Produktivitas itu emanasi (pancaran) waktu–akan mati bersama dengan hilangnya kata waktu. tapi jangan kaget bila kehilangan waktu membuat anda jadi anti-produktif (bukan aProduktif). Kelak menunggu akan jadi wahyu kosmik, wangsit. Anugerah yang harus diafirmasi dengan membunuh harapan. Menunggu datangnya kesia-siaan, Waitin for Vain. Mungkin Om Marley tak setuju dengan pilihan anda. Pilihan ini harus dikonsultasikan dulu dengan rasio dan rasa anda.