Archive for January, 2006

jangan takut hidup tak sehat

Thursday, January 12th, 2006

Sedikit Tentang Pola Hidup yang Sehat dan Lamunan Saya

Anda mungkin bangun dengan memungut sisa-sisa tenaga atau rasa kantuk yang memlester mata anda;  atau percaya  bahwa  begadang meningkatkan resiko terkena jerawat; bisa juga percaya bahwa merokok atau ngopi lebih banyak ruginya; dan tiba-tiba takut untuk mengonsumsi bahan-bahan makanan yang katanya berformalin atau menggunakan daging tikus. Semuanya seketika menggelayuti anda dengan ketakutan yang aneh-aneh.
Mahasiswa mungkin yang paling dekat dengan pola hidup yang tak sehat–setelah masyarakat miskin yang memang tak punya pilihan hidup. Keterbatasan kiriman–untuk mahasiswa kere seperti saya–membuat saya tak pusing memikirkan berita tentang formalin, daging tikus, ataupun boraks
. Nu penting mah aing bisa dahar!!Sekarang saja kenaikan harga makanan mulai terasa. Dulu cukup dengan tiga lembar uang seribuan saya sudah bisa makan cukup enak, dan tiba-tiba uang kiriman rasanya mengharuskan lambung saya untuk bekerja lebih keras dengan mengonsumsi mie instan. Tapi cukup terobati rasa lapar dengan menonton berita di televisi tentang bencana kelaparan dimana-mana. Setidaknya saya masih bisa ngece mereka yang kelaparan atau punya teman yang juga kelaparan–lebih enak lagi  sambil makan mie instan. Penghiburan lainnya ketika saya lebih memilih makan telor daripada tahu di warung pecel lele. Terpikirkan mereka pedagang tahu yang repot-repot memasang label bebas formalin dan ternyata omset penjualan mereka tetap rendah. Sambil mengunyah, hati saya menggumam: "mampus tah maneh pedagang tahu rek ngaracun urang make formalin mah moal dibeuli ku urang (sukur lu pedagang tahu mau meracuni saya dengan formalin mah gak akan saya beli)"
saya biasa memulai, mengakhiri, dan menikmati hari dengan air kopi. Mungkin sedikit berbeda saja proporsinya dengan konsumsi air mineral. Kopi tentunya teras hambar tanpa menghisap tembakau. Ngupi sambil Ngruku, cuma kurang ruti kata teman saya. Seperti juga kebiasaan makan sambil menonton berita kelaparan, pikiran saya saat ngopi atau merokok berada di kebun-kebun  kopi,  tembakau, serta pabrik kopi dan rokok.  Teringat ibu-ibu yang membawa anaknya ke kebun (seperti dalam film Picture Bride) memakai topi caping–imajinasi saya di kebun teh tetapi memanen tembakau dan biji kopi. Lalu kemudian senja menjemput mereka untuk pulang ke rumah dan melayani paksaan suaminya memenuhi kebutuhan biologis. Saya berpikir tentunya sambil ngece: "enakan di sini".
Sambil menikmati keterbatasan uang bulanan saya yang memaksa untuk hidup tak sehat. Saya kembali kepikiran: "kalau saya hidup sehat dengan membeli bahan makanan yang tersertifikasi halal dan thoyib yang pastinya lebih mahaltentunya sertifikasi butuh uang untuk menyumpal mulut orang-orang MUI atau BPOM–bagaimana nasib tukang tahu dengan formalin, petani kopi dan tembakau?". Jawabannya tentu saja: "nya sukurkeun we da manehan miskin"(ya sukurin aja salah sendiri miskin!!!!)