Kematian

August 5th, 2008 by uploadoverload

Pagi ini langit menyenandungkan sendu kembali. Awan gelap bertumpuk-tumpuk bikin udara pagi yang biasanya hangat tidak terasa. Berat kaki, tapi saya melangkah juga.

Kata orang yang ahli baca cuaca, langit semakin sulit diawasi. Musim berganti tanpa turut aturan yang dulu-dulu. Manusia salah besar ternyata. Dulu berpikir bisa kuasai alam, tapi sekarang justru kita dikuasai alam.

Sejak revolusi industri, cerobong-cerobong pabrik menusuk langit; dam raksasa dibangun menghambat laju air; tanah-tanah diliciki benih-benih penelitian. Percepatan katanya. Hai manusia lihat mesin kami, beton kami, pestisida kami, bisa bikin kita hidup berlimpah. Selamat jalan kelangkaan, selamat tinggal kekurangan.

Tapi, alam punya logika sendiri. Logika yang dianaktirikan manusia. Asap pabrik merenggut ketebalan atmosfir selembar demi selembar, hasilnya pemanasan global; air yang dihambat bikin laut kekurangan pasokan garam dan jadilah daratan semakin terkikis; bibit rekayasa membunuh kesuburan tanah pelan-pelan. Haus laba bikin efisiensi jadi anak kesayangan yang diturut segala maunya. Peduli setan manusia lain jadi korbannya.

Pagi ini hati berbisik gelisah lagi. Di bawah langit mendung saya mulai hari. Niatnya mau melangkah tiga kilometer jauhnya menuju tempat kursus. Sejak punya rutinitas baru ini, hidup saya menggelegak lagi. Pertanyaan ke pertanyaan berembus lagi.

Peralihan bukan hal yang menyenangkan. Dia selalu datang membawa segepok masalah sembari menyeringaikan bibir. Seperti pergantian musim yang selalu bawa penyakit pancaroba. Tak tahu peralihan ini mau bawa saya kemana.

Sekarang cuma tahu kalau konflik selalu berakhir dengan konsensus, dipaksakan atau tidak. Tapi, tak mau memercepat hidup kalau harus korbankan kehidupan. Tak mau berucap “selamat jalan pertanyaan, selamat tinggal kehidupan”.

Jogja 6 Agustus 08

Mak Tini

July 27th, 2008 by uploadoverload

…Disini tak ada nasib. Tak ada nasib yang mirip putaran roda. Orang bekerja cuma buat hidup. Tanpa harapan. Mereka cuma menunggu jenazahnya dibawa pulang ke kampung halaman…

Kemarin-kemarin Mak Tini sering mengeluh lapar. Bukan mengeluh sebetulnya, tapi cuma menjawab. Kalau pagi dia suka tanya "mau makan pake apa, mas," saya balik tanya "wis mangan, mak? (sudah makan,mak?)". Mak Tini jawab apa adanya.

Tak ingat sejak kapan dia mulai kerja pada Nenek. Dulu sekali, ketika saya masih bocah, dia datang dari sebuah desa miskin di pojokan Jogja. Beberapa bulan bekerja, Mak Tini bawa dua anak kembarnya turut serta Andi dan Endi. Sembari sekolah mereka kerja juga buat nenek saya.

Andi sudah punya satu anak sekolah TK. Dia nyupir dan Siti istrinya memasak. Mereka ketemu dan jatuh cinta waktu sama-sama kerja buat nenek. Mertuanya Andi kerja juga buat nenek, jadilah satu keluarga besar dipersatukan di dapur yang temboknya kehitaman karena asap.

Asap yang sama buat Mak Tini kena katarak. Beberapa bulan lalu dia naik meja operasi. Biayanya berhutang sama nenek dan bantuan teman-teman sependeritaan. Di bulan yang sama tangan saya patah. Kami suka bertelepon saling bertanya kabar dan memberi semangat.

Mak Tini jadi pendiam. Juni sampai Agustus pesanan Catering menumpuk. Bukan tak ingin ngobrol sama saya, tapi takut kena dampat majikan yang tak lain-tak bukan adalah Bulik saya. Tembok-tembok dapur dipasang tulisan "Sedikit Bicara Banyak Bekerja".

Beberapa hari lalu dia simpankan udang goreng buat saya. Kami bicara sambil makan.

Kalau pesanan sedang banyak upahnya sampai 200 ribu seminggu. Kalau sepi turun hingga seperempatnya. 50 ribu buat hidup seminggu?? Tidak, kurang dari 50 ribu malahan. Gajinya dipotong utang sebelum diberikan.

"Mas jangan cerita sama bulik lho, nanti saya dimarahi," saya cuma tersenyum dengar kalimat Mak Tini sambil ingat muka sangar bulik saya.

Jogja, 28 Juli 2008

Sejarah

July 24th, 2008 by uploadoverload

Sejarah tidak ditulis oleh pena milik Tuhan. Tidak pula dilukis bergurat-gurat lewat kuas Sang Maha Kuasa. Sejarah berdetak dalam nadi manusia, dipanggul berat pundak kita.

Waktu Hujan Sore-sore

July 21st, 2008 by uploadoverload

yang datang tak perlu disoraki

yang pergi usah ditangisi

mari saling melambai, di pelabuhan

langit selalu biru, sore ini, dan dulu –

waktu kita bertemu

(Jogja, 21 Juli 2008)

Satu atap kita waktu hujan turun sore-sore. Kamu buat teh dan saya secangkir kopi. "Hujan adalah persetubuhan langit dan bumi," saya berujar kamu mendengar. Mungkin bosan, tapi kamu masih disitu. Mendengar ceracau saya yang bersaing dengan detak hujan menghujam tanah.

Satu langkah kita waktu matahari jadi raja-diraja di puncak langit. Saya menepi, lalu rebah di dipan pendek kosanmu. Kamu menyingkir sebab tahu badan ringkih saya suka merajuk. Ah, nona selalu ingat itu.

Dinding yang sama halangi angin malam menusuk kulit. Kita berdebat hebat tentang dialektika cinta. Sampai fajar. Lalu kamu kasih selimut saat saya pamit tidur. Rasanya mirip seperti ketika kamu datang bawa jamu penghilang batuk, kamu tahu saya benci obat kimia; serupa seperti tanganmu yang mengulurkan jus buah dalam botol saat saya terserang gejala typhus.

Buat kamu yang tak pernah lelah ajari saya hidup; yang tak lelah berjalan bersama si keras kepala; yang ingatkan besok Sahala kuliah pagi; yang suka meledek mesra kalau saya jatuh cinta

Sudah senja, banyak yang pergi. Kalau sempat bertemu saya angkat gelas buat kamu, buatkan racikan kesukaanmu. Nanti kita menyanyi lagi buat persahabatan, kenangan, hidup, dan buat mimpi-mimpi kita

Terima kasih, Nona Taman Feurbach…Sudah jadi sahabat, kakak, dan ibu kedua buat saya…

Perkabungan

June 24th, 2008 by uploadoverload

Di sebuah pertigaan saya menghentikan langkah, sadar kehilangan arah. ’Ikutin aja taburan bunganya,’ pakde tahu saya kebingungan, berujar sambil melirik ke arah bawah. Kami berbelok ke kanan. Di kejauhan rombongan pengantar jenazah berjalan cepat. Meninggalkan kepulan asap menyan dengan bau yang khas. Kemenyan memang punya semerbak yang bisa tercium dari jarak cukup jauh.

Saya tak mencoba memercepat langkah. Jalanan berpasir, kanan-kirinya kebun salak membentang. Daerah ini, Kecamatan Pules, memang terkenal sebagai penghasil salak pondoh. Di pasar harganya lebih mahal disbanding salak jenis lain. Rasanya manis dan tidak meninggalkan ampas di bijinya jika digigit.

Pohon bambu dan kelapa yang menjulang berbaris di sisi-sisi kebun. Matahari tertutup dedaunan yang berdesakan. Got kecil di sisi kanan. Bukan, bukan got. Kata itu ingatkan saya pada aliran pembuangan yang keruh sampah. Air disini jernihnya melebihi aliran PDAM untuk mandi di rumah.

Gemericik aliran air menerjang kerikil. Gemerisik daun beradu diterpa angin. Ah, harmoni yang lama betul tak saya temukan. Ingin menepi barang sebentar. Menutup mata. Jenak menyumbu sekitaran. Tidak, tidak saat ini. Rombongan makin jauh di depan sana. Saya bakal tertinggal perkabungan.

Kuburan di Jogja punya tempat dan bentuk berbeda dengan di Bogor. Di Jogja kuburan selalu punya gerbang, betapapun sederhananya. Sekeliling dibangun pagar pembatas. Di Bogor kerap kali kuburan diselipi jalan umum di tengahnya, kematian cuma sampiran dari keseharian.

Seperti masuk masjid, alas kaki harus dilepas di gerbang kuburan. Sepertinya kematian dan kehidupan sama sucinya buat penduduk sini. Ow, tidak. Beberapa pelayat berpakaian necis pakai alas kaki juga. Mereka tak tahu adat sekitar.

Seperti biasa pemakaman diakhiri dengan nisan yang menancap. Sebiji kelapa ditaruh di atas makam, menandakan kalau makam ini masih baru. Satu-satu pelayat pergi meninggalkan sanak famili almarhum yang masih berjongkok masyuk mengelilingi kuburan. Ada yang berdoa dan menabur bunga.

Berjejer pelayat di sisi got kecil depan kuburan. Bergantian membasuh kaki yang dilekati pasir dan tanah. Saya turut, menggulung celana panjang hingga dengkul lalu turun ke sungai. Segar aliran air jernih menerpa kaki. Melepas butiran pasir. Di belakang pelayat lain menunggu. Saya harus lekas meski masih betah.

Nah, akan menepi kau sebentar

Di luar ada karnaval knalpot dan raung jam yang selalu meminta,

Ada perkabungan yang cepat ditinggalkan

Ada yang gemetar di bawah permukaan,

Gagal kau berikan nama

(Anonim, Puisi di tembok salah satu gang Ps. Beringharjo, Jogja)

Seloroh obrolan memenuhi isi mobil. Delapan orang tinggalkan perkabungan di desa, kembali ke kota menjajaki hidup. Air Conditioner bikin panas udara Jogja tidak berasa. Saya duduk di kursi paling belakang, pojok sebelah. Memandang suasana di luar jendela. Ada gedung-gedung mewah berdiri; motor dan mobil berseliweran dikejar waktu, terhenti oleh lampu merah di sebuah perempatan besar yang ramai spanduk dan iklan ukuran raksasa.

Mobil begerak lagi selepas lampu berganti hijau. Kendaraan tarik gas penuh. Sore menjelang, pekerjaan masih menumpuk. Nanti malam kalian masih punya janji. Ah,kematian memang membebaskan manusia dari penjara kehidupan. Wahai perkabungan kau menyenangkan sukacita kau menyedihkan…

Jogjakarta, 21 Juni 2008

Dari Ladang Derita, Dia Petik Buah Manis Kebahagiaan

December 21st, 2007 by uploadoverload

Sendal pijat dari kayu dengan tonjolan-tonjolan seperti barisan kapsul sebesar ibu jari, melayang. Berhenti dan jatuh di lantai setelah beradu dengan tembok kamar. Sedetik lalu melayang persis di samping kaki saya yang reflek melompat. Putaran tangannya, tangan ibu saya, masih hebat seperti ketika menyabet berbagai piala kejuaraan badminton, tenis meja, dan voli saat perayaan HUT RI beberapa tahun lalu. Ketepatannya belum berkurang, karena dia masih senang berlatih. Hanya saja, siang itu, saya bukan lawan yang ingin dikalahkannya dengan smash-smash tajam. Saya hanya anak nakal yang membuat kesal hati ibunya. Tubuh kecil saya bergetar setelah bunyi dakk akibat benturan sendal dengan tembok, ibu melengang pergi ke luar kamar. Meninggalkan sendal yang luput.

Lemparan itu menghilang ketika saya beranjak besar. Mengakrabi dunia coba-coba anak SMP. Bolos, merokok, alkohol Ibu tak pernah tahu kecuali hal yang pertama. “Aal, biar papa yang ngurus, mama udah nggak sanggup lagi,” intonasinya sama seperti tahun-tahun yang lalu. Kelopak mata saya basah, sesal tertunda menitik, air mata yang tak pernah ke luar saat lemparan barang luput atau tamparan keras memerahkan pipi saya. Malam itu saya memilih dilempar atau ditampar saja, jangan keluar kalimat itu dari mulutmu, ibu.

Dua puluh satu tahun lalu. Seorang perempuan dengan janin berusia sembilan bulan, jatuh dari becak. Kepalanya membentur bemper belakang truk. Beberapa jam kemudian sejarah tercatat: dari empat kali kelahiran, kali ini yang paling lama dan menyulitkan.

Tak pernah terpikir di otaknya, betapa sulit melahirakan dan membesarkan anak. Sepertinya lebih sulit dari tahun-tahun perjuangan beliau saat ditinggal ibu yang meninggal dan bapak yang dibui akibat tragedi politik paling kejam di Indonesia. Dia hidup bersama ibu tiri. Sampai dua puluh tahun kemudian bapaknya dibebaskan dengan tanda ET di Kartu Tanda Penduduk.

Pagi sebelum berangkat sekolah, nasi harus sudah masak. Sebuah sepeda tua dikayuh, menyusuri jalanan Jogja menuju sekolah tanpa sepeserpun uang saku. Kadang roda berhenti di sebuah kuburan Cina. Perempuan itu tertidur setelah sehari kemarin pekerjaan begitu berat. Mengaduk puluhan loyang kue, mencuci baju sendiri, membeli baju lalu menjualnya lagi.

Ya, sejak lama ibu berjualan pakaian. Karir yang sudah dirintisnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Umur dua belas, Surabaya dia datangi bersama adik lelaki yang umurnya masih enam tahun dan sekarung pakaian dari Ps. Beringharjo. Tak ada alamat lengkap, hanya petunjuk lisan menempel di ingatan. Modal yang kemudian digunakannya saat jadi kurir ke Jakarta.

Orang-orang Ps. Beringharjo, seperti juga pedagang Mester dan Tanah Abang, sudah pada tahu. Perempuan itu masih jualan baju sampai sekarang, untuk biaya sekolah empat anaknya.

Jadi penjaga karcis PJKA pernah juga dia jalani. Tak bisa dia jadi pegawai kantoran, cuma tamat SMA dengan angka merah berjejer di ijazah dan rapor. Ya, dia senang tidur di kuburan cina saat jam pelajaran.

Kesehatannya jauh menurun, dibandingkan ketika muda dulu. Ibu masih keras kepala jika diminta jangan bekerja terlalu berat. Semangatnya tak pernah mengkerut meski uban satu-satu memenuhi rambut. Dan kerut di wajahnya semakin nampak, aah saya ingat janji membelikannya Oil of Ulan jika dapat gaji pertama. Kerut-kerut yang nampak indah jika semua anaknya berkumpul saat liburan.

Dia tak pernah melempar sendal pada adik saya. Sesekali saja saya lihat air mata menitik membasahi pipi dan mukenanya di dua pertiga malam. Kepalanya menyandar di tembok, suara lirih, dan terbata. Di doa ibu kudengar ada namaku disebut.

Bogor, 21 Desember 2007

Bukan Kebahagiaan, Tapi Keajaiban

December 13th, 2007 by uploadoverload

Sudara
tahu, saya kenal seorang perempuan dengan kemampuan ajaib? Ya, betul,
Anda tidak percaya? Dia bisa mencipta kebahagiaan dan kesengsaraan
dalam satu waktu. Jawaban dan pertanyaan dia hadirkan dalam satu
kalimat. Yang paling mengherankan adalah mukjizatnya yang menampilkan
harapan dan keputusasaan sekaligus dengan sekali petik jari saja, sim
salabim
.

Perempuan
itu berbeda dengan perempuan ajaib umumnya. Dia tidak bersayap, tidak
pula punggungnya bolong sebesar kepalan tangan. Oh, Anda kira dia
berjubah putih dengan tubuh melayang sejengkal dari tanah dan kepala
selalu menunduk yang ditumbuhi rambut panjang? Anda salah.

Sedikit saya gambarkan bagaimana rupa dirinya. Rambutnya panjang dan
agak bergelombang, setahu saya dia tak pernah mencoba membuatnya
lurus. Sekali pernah dia cat kecoklatan, dan saya keheranan
melihatnya, seperti kami berdua belum pernah kenal. Yang saya kenal
adalah rambut panjang yang diikat atau dikepang. Kadang dia membuat
dua kepangan, dan itu membuat sebuah gambar di otak saya.
Membayangkan dia menggunakan kebaya mengendong wadah cucian menuju
sungai terdekat.

Matanya
agak besar dengan hidung kecil-pesek di bawahnya. Tengkorak lancip
menopang keduanya. Dia punya bibir tak bisa dibilang mungil, namun
saya berani bertaruh Anda akan menyebutnya menarik. Apalagi kalau
sudah mendengar suara sumbangnya bernyanyi. Penyanyi karbitan yang
belum pernah sekalipun masuk dapur rekaman pun tak bisa dia kalahkan.
Dan memang, saya tak menunggu dia bernyanyi, saya menunggunya
berceloteh ria, mendedah kesepian dengan cericit kalimat-kalimat
ngawur.

Tubuhnya
kurus. Empat puluh dua kilogram, terakhir dia bilang. Meskipun saya
lebih lima kilogram darinya, dia tetap sebut saya teralu kurus.
Tingginya tak sampai setelinga saya. Andai dia lebih tinggi dua puluh
atau tiga puluh sentimeter, mungkin bisa jadi pramugari atau model
terkenal.

Kalau
sudara tak juga tertarik, berarti saya yang tidak cukup mahir
menggambarkan rupa si perempuan. Anda harus melihatnya sendiri. Ah,
andai Anda kenal dengannya dua atau tiga tahun lalu, Anda bisa
melihat tato temporer kecil bergambar kupu-kupu sedikit di atas mata
kakinya. Bentuknya tak jauh dengan gambar yang saya tempel di depan
kamar tidur saya, ukurannya saja yang berbeda.

Malam
itu, ketika bintang tak berpihak pada malam, sewaktu panas tak juga
menyulut cucuran hujan. Tanpa alunan biola, ataupun lilin-lilin yang
berderet. Kami berdua saja, di pojok kanan bangku halte kecoklatan
yang penuh coretan, di depan dinding yang ramai oleh tempelan pamflet
iklan. Sambil menopangkan dagu di atas telapak tangan kiri, mata
cekung saya menatapnya dalam. Ahh, dia tersenyum. Kami
bertukar senyum.

Dan,
sim salabim, abrakadabra, malam itu senyumnya mencipta
keajaiban, lagi…

Jatinangor,
10 Desember 2007

Tetirah Kebijaksanaan

December 13th, 2007 by uploadoverload

Pemuda
itu mengganti posisi tubunya, kali ini berdiri setelah sejam
berjongkok membuat kakinya gemetaran. Putih pudar bajunya, celana
abu-abu gombrong yang pinganggnya agak turun, dan sepasang sepatu
converse tua ukuran 42 yang dikelilingi lakban hitam membungkus
kakinya. Apakah penampakannya sebegitu menarik
sehingga penjaga Gramedia tak mau melepaskan pandang darinya?

Penjaga itu adalah lelaki yang kemarin menegur si pemuda karena
membaca sambil berjongkok. Lalu-lalang pengunjung toko jadi terhalang
karenanya. Dan si penjaga sudah hapal betul jam-jam dimana si pemuda
membutuhkan pengawasan darinya. Pukul dua sampai pukul empat pada
senin, rabu, dan Jumat; pukul dua sampai tiga saban selasa, kamis,
sabtu. Hubungan yang aneh, keduanya tak saling mengenal nama.

Casio warna biru-hitam di tangan kiri sudah
menunjukkan angka 16:15. Saatnya menjabat tangan dan mengucap salam
perpisahan dengan Socrates, teman baru yang dikenalnya dua hari lalu
di sebuah lorong gelap, sempit, dan bercabang banyak bernama
filsafat. 

Socrates adalah salah seorang warga Ionia yang menarik. Parasnya
tidak ganteng, berpadu dengan tubuh tambun-pendek. Kepalanya agak
botak. Selain bekerja sebagai tukang kayu, dia suka berjalan-jalan di
pasar dan tempat ramai, berbincang dengan para pemuda, serta
menelusuri seluk-beluk hal-hal yang sudah dianggap sebagai kebenaran
oleh para warga Ionia. Keisengannya itu, membuatnya tak disukai
banyak orang. Socrates menebar benih kegelisahan dengan
mempertanyakan segala sesuatu.

Si pemuda tercenung. Kabar diterima bahwa Socrates
diajukan ke pengadilan. Lebih dari setengah juri menganggapnya
bersalah, sehingga harus dihukum. Dua pilihan diajukan padanya:
ditebus dengan beberapa keping uang atau meminum racun hingga tewas.
Meski jumlah uang tebusan Cuma recehan saja buat Plato, muridnya yang
kaya raya dan ingin gurunya tetap hidup, namun dia memilih meminum
racun. Dia tak mengakui dirinya salah, dia tak menganggap
keisengannya menyebarkan ketidakpercayaan terhadap para Dewa dalam
pikiran para pemuda Ionia. Dia tak mau, tak mau menganggap itu sebuah
kesalahan lewat pertukaran uang dengan nyawa.

Hidup yang tak terperiksa secara filosofis
adalah hidup yang tak layak dijalani,” (Socrates).

Seorang pahlawan kesepian yang namanya tak pernah tercatat dalam buku
sejarah, Ibrahim Datuk Tan Malaka. Lelaki monumental itu punya rahang
yang kuat dan bentuk tengkorak khas daerah Sumatra, tempat
kelahirannya. Seorang mahasiswa Filsafat Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, yang memerkenalkan Tan Malaka pada si pemuda. Dan
ternyata, kabar yang sama diterima, Tan Malaka mati ditembak di tepi
sungai Brantas, dibunuh manusia sebangsanya, bangsa yang
kemerdekaannya dia perjuangkan bertahun-tahun lamanya.

Dia memerjuangkan (ke)Merdeka(an) 100%
untuk Menuju Republik Indonesia, menolak jika negaranya
diperintah secara legal oleh pemerintah Belanda. Beliau percaya bahwa
aksi massa (Massa Actie) adalah jalan terjal yang harus
ditempuh masyarakat untuk merebut kekuasaan dan cara berpikir
MAterialise-DIalektika-LOGika adalah sarana untuk mencapai
kebebasan tersebut.

Usut punya usut, pikiran dan tindakan Tan Malaka
tak disukai banyak orang. Label Trotskyis diberikan rezim Soviet di
bawah Stalin yang menolak gagasannya untuk bekerjasama dengan gerakan
Pan-Islamisme yang sedang berkembang. Di dalam negeri, Tan Malaka
menolak gagasan partainya, Partai Komunis Indonesia, untuk melakukan
pemberontakan 1926. Masyarakat belum siap sehingga yang akan terjadi
hanyalah kekacauan (putsch), ramalannya terbukti benar.

Tan Malaka, tak seperti dwitunggal Indonesia
Soekarno-Hatta, konsisten pada prinsip non-kooperasi. Tak ada
kompromi dengan penjajah yang menancapkan kukunya di bumi Indonesia.
Tak ada kompromi pula dengan kapitalisme yang dengan kejam mendidik
manusia menghisap darah rakyat sebangsanya, lebih lagi darah sesama
umat manusia.

Friedrich Nietzche, seorang pemikir Jerman, pada
awalnya banyak memengaruhi Tan Malaka. Seorang pastor bernama Setyo
Wibowo yang pertama memerkenalkan filsuf berkumis lebat itu dengan si
pemuda. Selanjutnya, lewat St. Sunardi. Dan, bersabdalah Nietzche
lewat mulut Zarathustra.

Aku adalah dinamit. Membuat manusia gelisah
itulah tugasku,” Nietzche memerkenalkan diri kepada si pemuda.
Wajah yang dingin, tatapan yang tajam serta kumis lebat menggantung
di atas bibir, sungguh bukan rupa yang ramah.

”Mari, kita arungi samudra luas tanpa satu pulaupun untuk berlabuh.
Kau harus punya rahang dan lambung yang kuat untuk mendengar
cerita-ceritaku,” entah hawa aneh apa yang merasuki si pemuda
sehingga mau mengamini ajakan Nietzche.

Requiem Aeternam Deo (Semoga Tuhan
bersitirahat dalam kedamaian abadi), Gott ist Tot (Tuhan telah
mati), kamu, kita semua telah membunuhnya,” kalimat itu keluar dari
bibir Zarathustra, menyirap si pemuda.

”Yang indah bersua dengan bisikan, ia menyelinap ke jiwa-jiwa yang
paling waspada”

(Nietzche dalam Sabda Zarathustra)

Malam ini, tetirah dikenang. Saya
menulis pengalaman si pemuda persis seratus persen seperti yang
diceritakannya pada saya. Kadang, saya mencemoohnya, menghina
kelakuan busuknya mengorupsi filsafat. Ya, lakonnya memang begitu,
menggunakan filsafat tidak untuk mencari makna hidup. Demi
popularitas, demi penghargaan diri, demi kesenangan pribadi.

Terakhir kami bicara, dia banyak berubah, meski
kadang masih berlaku korup terhadap filsafat. Tapi, dia akui sedang
coba menghilangkannya. ”Saya ingin meghapuskan filsafat, saya ingin
mewujudkannya dalam kehidupan,” bibirnya bergetar, kepalanya
menunduk meningat betapa rendah kelakuannya kemarin-kemarin.

”Ya, saya ingin mewujudkannya bersamamu,” sekali ini saja dia
meminta, terlalu berat buat saya.

Jika kita memilih posisi dalam hidup dimana
kita bisa bekerja untuk seluruh umat manusia tak ada beban yang bisa
menghalangi kita… selanjutnya kita akan merasakan kebahagiaan yang
tak sedikit, tak kecil, dan tidak hanya untuk diri sendiri,
kebahagiaan kita adalah kebahagiaan bersama jutaan orang. Perbuatan
kita akan hidup dalam ketenangan, namun terus-menerus bekerja, dan di
atas abu jasad kita akan menitik air mata orang-orang mulia” (Marx,
On The Choice of Profesion).

Adalah Marx yang membuat si pemuda kembali pada nilai-nilai agama
yang sejati, nilai-nilai kemanusiaan.

Jatinangor, 9-12 Desember 2007

Cintaku, Cinta Konser

December 13th, 2007 by uploadoverload

Jakarta
memang neraka, saya benar-benar merasakannya kali ini. Hari itu,
minggu, lazimnya orang-orang ibukota pelesir ke Puncak Bogor
atau Bandung sana, dan saya yang besar di Bogor lalu kuliah di
Bandung bisa melengang mulus di jalanan Jakarta tanpa terganggu oleh
kemacetan yang sudah rutin disini ketika hari kerja. Kenyataannya
tidak begitu.

Mobil
meninggalkan daerah Pancoran menyusuri jalan tidak seberapa lebar,
menuju ke daerah mana saya lupa. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul
tiga dan matahari masih galak seperti jam 12 tidak pernah beranjak
sedetikpun. Saya membuka kaus tipis yang apek karena dicumbui
keringat.

Bertelanjang
dada saya mengiringi Candil bersenandung, “kapan ku punya pacar,
kapan ku punya pacar,” dan drakk. Benjolan aspal membuat
bergetar pemutar compact disc Pioneer abu-abu 12 cd
yang dipasang di bawah laci mobil sebelah kiri. Lagu berhenti diganti
nada timur tengah mengalun tanda pesan singkat masuk ke Siemens
saya.

Haduh
knp dbliiin?yawda nanti gw gantiin ya say..jgn marah ya say
.”

gw
g btuh uang lu. Jrang2 gw maen k Jkt,qta kan udh lma g ktemu.Tpi,klw
mang g bsa g ush gnti duitny,gw g smiskin itu,non..hehe
” tombol
send ditekan.

Faktanya,
saya belum punya tiket. Taktik saja, supaya teman saya itu mau
menemani saya nonton acara musik Jazz yang rutin diselenggarakan
setahun sekali oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya
penggila reggae dan tak begitu menikmati Jazz. Tapi, saya penikmat
musik,\ apapun genrenya. Di Indonesia pagelaran Jazz yang tiketnya
dihargai puluhan ribu cuma ada sekali setahun, Jazz Goes to Campus.
Itu yang membuat saya mau jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk nonton
sebuah konser musik.

Langit
sudah ramah. Tidak panas tidak pula hujan. Mobil bergerak lagi, tanpa
nyala air conditioner kali ini, karena jarum penanda bensin
sudah sampai di titik E. Empty.

Pokoknya
ente harus lakuin itu. Ini kesempatan jarang. Ke Bogor pun ane anter.
Kalau ente sampai ga lakuin, ganti nih duit bensin,” gurau teman
saya mengancam sehabis mengeluarkan dua lembar ratus ribuan di sebuah
pom bensin yang letaknya dekat dengan bilangan Ps. Minggu. Ya, saya
ke Jakarta menumpang. Betul-betul baik kawan saya itu. Sudah
ditumpangi, mau mengantar ke Bogor pula.

Al,
gw udh di jln nech. Janji yah gw plgin jgn mlm2.awas loh..

nyawa
gw taruhannya,
” balas saya

Ba’da
Maghrib. Untuk menemukan tempat parkir teman teman saya sampai harus
memutar mobil tiga kali, sekali keluar UI lalu masuk lagi. Bahu jalan
sudah penuh dan kami menemukan sebuah tempat lowong di boulevard,
empat ratus meter dari gerbang, sekitar satu kilometer dari Fakultas
Ekonomi.

Al
beli ponstan
”, “Al beli aqua jg.cptn udah skt gi9i
bech…oia permen jg soalnya gw takut minum obat sndrian.he2 maap ia
kebnykn ia he2

Saya
masuk ke alfamart, beli sebungkus Djarum Super, sebotol aqua,
dan sebotol nuGrentea. “Ada ponstan, mbak?” saya
harap-harap cemas. Nihil. Lucu juga ada alfamart di dalam
kampus, di Unpad ini tidak (mungkin juga belum) terjadi.
Komersialisasi Kampus belum separah Jakarta dimana setiap hal diukur
dengan lembar-lembar uang. Bagus, berarti pedagang-pedagang kecil itu
masih bisa tetap hidup.

Seorang
wanita dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di atas meja yang
terletak di tengah-tengah area ticket box. “Tiket sold
out
,” ulangnya beberapa kali. Gimana ya, kacau ini, ketahuan
sudah bohong saya. Tidak ada tiket dan ponstan, saya harus ngomong
apa nanti.

Sekitar
sejam menunggu sambil duduk-duduk dan foto-foto, akhirnya kesepakatan
dicapai. Tiket Cuma ada satu. Teman lelaki saya menggunakan tiket
bekas, saya pakai tiket asli, dan teman saya yang perempuan sudah
punya cap di lengannya hasil dari menempelkan cap yang masih basah
dari adik kelasnya. Strategi berhasil.

Kami
bertiga berpisah di dalam. Teman lelaki saya langsung menuju main
stage
bersama dua orang lainnya, sementara saya dan teman
perempuan saya berdua saja. Jitu.

JGTC
dua tahun lalu tidak seramai kali ini. Sebuah neon box besar
bertuliskan Three Decades of Jazz Goes to Campus; Celebration of
Inspiration
terpampang di dekat bunderan FE yang ramai oleh
pengunjung yang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah bunderan,
lampu kelap-kelip diuntai seperti membuat rangka payung, mengelilingi
sebuah tiang tempat lampu warna-warni berbentuk huruf J-G-T-C
dipasang vertikal. Pawang hujan tampaknya sukses karena hujan tak
menambah semarak acara hingga penampil terakhir menyelesaikan lagunya
di pangung.

Laper
ni, cari makan dulu ya,” perut teman saya merajuk rupanya. Sepuluh
meter dari bunderan, stand makanan berjejer. “Jangan pancake, nggak
kenyang. Gw laper banget nih,” silahkan saja nona, malam ini semua
mau Anda saya turuti.

Gw
gak makan, kopi aja,” ujar saya sambil memesan segelas nesface
panas yang dijual di sebelah stand tempat teman saya memesan. “Gua
mau milo kaleng,” pinta teman saya sambil memesan makanan di
stand samping. Saya keluarkan selembar dua puluh ribuan dari saku
kanan dan membayarnya. Lima puluh ribuan terakhir saya ditepisnya,
dia yang membayar untuk dua porsi makanan yang terlalu mahal dihargai
Rp.26 ribu.

Umur
berapa lu mau nikah?” teman saya membuka pembicaraan sambil menyuap
sendok kesekian melewati bibir merah jambunya. Saya keget namun
mencoba tersenyum. Seperti berkah yang datangnya terlalu cepat,
berkah yang jadi bencana.

Hmmm,
nggak tau. Gw gak suka menargetkan hidup. Selama gw senang hari ini,
hari besok gak dipikirin. Cukup. Gw lebih senang begini, hidup bebas
dari target,” sebisa mungkin saya cari kalimat yang pas sambil
pikiran saya menerka apa yang ada di balik pertanyaan tersebut. Suara
penampil dari main stage terdengar, “lagu berikutnya tentang
seorang pria yang setia dengan janjinya”.

Aduh,
dia tanya soal hubungan. Tanya saya sejarah pers Indonesia, kita bisa
semalaman membicarakannya, tapi jangan soal hubungan karena saya
belum punya jawabannya. Saya tak berminat membahasnya denganmu, nona.
Dan kamu, pasti tak berminat membahas beberapa kesalahan Pramoedya
mengurai sejarah Tirto Adhisoerjo dalam tetraloginya. Yah, kita
memang berbeda. Kupikir, aku yang selalu mencoba menyesuaikan diri
denganmu meski ketakutan itu terus menetak. Kenapa kau gerus
keindahan malam ini dengan pertanyaan macam itu.

Sudahlah,
bung, jangan dibiarkan terus gelisah itu berkecamuk, nikmati saja
malam ini. Huff, untungnya dia tak tahu probbing dan tak
memberondong saya dengan dengan pertanyaan lanjutan.

Setengah sebelas malam, mobil menyusuri aspal basah tol Jagorawi yang
terus didera hujan. Setengah jam berikutnya mobil menyusuri
jalan-jalan kecil di sebuah kompleks perumahan elite Bogor. Saya
masih hapal jalan tikus disini meski sudah setahun lebih tak
melewatinya.

Kompleks
elite nih. Orang-orang kaya Bogor tinggal disini. Cuma ada tiga
kompleks perumahan elit di tengah kota Bogor: ini, daerah Dadali,
sama Taman Kencana. Ki Gendeng Pamungkas tinggal di daerah sini,”
tukas saya pada teman lelaki yang sedang memegang kemudi.

Apaan
sih lu. Biasa aja kali, lu selalu gitu,al. Pehitungan sama gw,”
teman perempuan saya yang duduk di jok belakang langsung emosi
dibilang tinggal di kompleks perumahan elite. Dia memukul-mukul tubuh
dan kepala saya yang duduk persis di depannya.

Buat
nelpon Dewi bisa, ko gw nggak? Sakit hati gw,” saya tak bisa
melihat ekspresinya ketika bicara seperti itu. Saya tak tahu teman
perempuan saya itu serius atau tidak.

Saya
ingin mejawabnya ketika kita berpisah di pagar rumahmu, tapi tak tahu
harus dengan kalimat seperti apa. Pun bapak-bapak itu, yang
nongkrong-nongkrong di depan pagar rumahmu, kehadirannya betul-betul
menganggu saya.

“Gimana nyong?” teman lelaki saya rupanya sudah tak sabar
mendengar kalimat yang saya katakan waktu mengantar teman perempuan
saya masuk ke rumah.

“Dia nanya gw balik ke Bogor ngak Minggu depan, pengen ngajak jalan
lagi. Gw bilang ‘iya’. Ketemu lagi minggu depan. Masih memesona
dia,” jawab saya seadanya.

U
make a dark nite so wonderful, thx..hehe. Jgn mrah yak, tdi gw boong
udh pnya tiket spaya lu mw dtg
,” saya kirim pesan singkat
sebagai tanda terima kasih kepada perempuan itu.

Saya
khusyuk di depan komputer. Main Football Manager 2008 sambil
mendengarkan mp3 dari Winamp. Cinta Sudah Lewat-nya
Kahitna dapat bagian bersenandung beberapa saat setelah Kencan
Pertama
dan Jikalau-nya Naif. Dia dan janji itu masih
membayang meski pertemuan itu sudah lewat seminggu. Saya tak menepati
janji yang diucap seminggu lalu.

Berikan
aku senyuman satu malam saja, jangan kau tawarkan sebuah hubungan,
nona
,” saya ingin jujur padanya. Kalimat itu ingin saya
bisikkan ke telinganya yang berpahat giwang bundar biru muda malam
itu. Andai, andai saja malam itu kau mencecar terus, kukeluarkan
kalimat pamungkas itu.

Jatinangor, 4 Desember 2007

Refleksi lebaran: Pepesan Kosong

October 13th, 2007 by uploadoverload

Terang matari di langit berganti gemerlap kembang api. Awalnya mirip suara sirene, disusul bunyi serupa daun kering terbakar ketika garis api berhambur jadi gurat warna merah, emas, dan biru membentuk lingkaran indah. Di bawah, Kraton Yogya menua termanggu. Alun-alun bingar melebihi siang hari.

Jalan raya yang mengelilingi alun-alun sesak kendaraan dan parade. Berjejer para penampil bergantian menghibur. Barisan depan selalu membawa spanduk panjang bertuliskan daerah asal. Kauman, Sayidan, dan banyak sesudahnya. Penggebuk drum dan paduan suara dengan bendera warna-warni di barisan kedua, kompak bershalawat keras. "Lebih sepi dari tahu kemaren," pak Polisi menimpali pertanyaan saya. Sebagai penutup pemuda membawa rangka masjid atau Al-Quran sebesar badan manusia. Tak kurang meriah ornamen itu dilengkapi dengan cahaya lampu. Generator dibawa serta untuk sumber tenaga. Sungguh besar biaya keluar untuk tetek-bengek karnaval.

Handphone dibanjiri pesan singkat. Ah, semuanya serupa walau tak sama. Seperti ini setiap tahun, maaf, maaf, dan maaf. Pun begitu harus dibalas, tak enak rasanya kalau tidak. Tetap saja pertanyaan timbul, apakah harus meminta maaf kalau bertahun sudah tak bertemu?? Wajahmu saja saya sudah lupa.

Beringsut pulang setelah kamera mati dengan hati menggerundel karena kelupaan membawa baterai cadangan. Besok Lebaran, harus tidur segera, supaya esok ibu tak marah-marah membangunkan saya.

Dari kejauhan takbir sudah mulai terdengar lamat. Baru pukul setengah enam. Pesan singkat terus-terusan masuk. Kesal hati mendapati sms aneh. Masak dikirimi pesan dalam bahasa Prancis, satu kalimatpun saya tak bisa mengartikan. Apa-apaan ini manusia, dua orang pula, dengan pesan yang sama persis. Dipikirnya keren pake bahasa asing, mana sampai apa yang kau maksud?? Sakit jiwa, mereka! Tapi tetap saya balas, tak enak. Kacau begitupun tetap kolega.

Selanjutnya seperti biasa. Beli kembang untuk makam kakek, sholat Ied, ziarah, dan acara sungkeman. Ditutup dengan bagi-bagi THR. Setelah rangkaian acara selesai, saya tinggal tidur keramaian tamu yang datang berkunjung.

Pesan-pesan singkat yang baru didapati ketika bangun tidur. Bahasa Inggris masih saya maklumi, begitupun yang sok berpantun. Pusing benar mereka merangkai kalimat agar indah dibaca. Sekali setahun ini, lebaran saja.

Malam mulai lagi. Tertatih-tatih saya mendaras Jejak Langkah Pram. Bising kembang api dan parade terdengar dari kejauhan, sungguh menganggu konsentrasi. Pesan masuk lagi, senang hati kali ini. Ada juga yang mulai merasakan keanehan ritual menahun Takbiran dan Lebaran. Berbalas terus pembicaraan mengenai kenaehan di sekitar Idul Fitri. Saya akhiri karena teman tersebut mau lebaran nanti pagi, dan dia harus tidur karena sudah hampir jam tiga. "Tidurlah, Jangan lupa berdoa lebaran tahun ini dapat makna baru. Bukan sekedar pepesan kosong ritual tahunan," tombol send langsung dipencet.

"Setelah qt puas makan, apa kabar ya jutaan manusia yg mungkin hingga saat ini ksulitan makan?Dr td sy mnrima banyak sms minta maaf, tp knp qt msh bs mkn tnp mrasa bersalah?" Hufff, satu lagi pesan singkat menggugat, dari perempuan berjilbab pula.

Yogya, lebaran ke-2